ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
044.


__ADS_3

Fely menatap tajam pada laki laki yang baru saja membuka matanya, Rafael di buat bingung dengan sikap Fely yang seperti bunglon.


"Ada apa hmmm?, aku melakukan kesalahan apa?".


Suaranya masih serak, setelah di periksa dan di tangani dokter Rafael tertidur.


"Bosan banget hidup ya".


"Maksudnya apa dek?".


"Kenapa bisa sampai punya penyakit seperti ini", menaruh surat yang langsung dari dokter tadi hasil pemeriksaan.


Membuka surat itu, bahkan sekilas baca juga langsung tau poin dari isi surat itu.


Rafael tersenyum lalu menyandarkan punggungnya membuang napas dengan pelan.


"Kamu tidak tau beratnya jadi aku Fell", memejamkan mata lagi, tidak mau debat takut salah bicara.


"Gak nyiksa diri sendiri juga".


Tidak ada sautan dari Rafael bukan tidak mendengar hanya saja memilih diam.


"Kak Rafa", Fely mencubit pinggang laki laki yang dirinya ajak bicara malah diam memejamkan mata.


"Awww sakit sayang", cubitan maut batin Rafael.


"Menyebalkan sekali di ajak bicara malah diam pura pura tidur".


"Sini duduk dulu mau peluk boleh kan".


Meskipun sambil menggerutu Fely duduk di samping Rafael sesuai permintaan laki laki ini.


"Jangan marah marah terus sayang", memeluk tubuh Fely meskipun tangan satunya susah di gerakan karena selang infusan.


"Sudah tau susah peluk peluk lagi".


"Obatku kamu, wangi tubuh kamu masih sama ya".

__ADS_1


"Jangan gini kak".


"Kamu masih istriku dek".


"Kita sudah lama terpisah, cepat sembuh baru kita menikah lagi".


"Kita belum bercerai ya".


"Tanya Mama sama Papa".


"Oke kalau gitu peluk saja boleh kan".


Fely terdiam, dirinya juga sebenarnya merasa nyaman di dalam dekapan Rafael.


"Kenapa bisa sampai sakit seperti ini?".


"Hidup berantakan menjadi melupakan yang penting di diri sendiri".


Ya Allah apa seberantakan dan sehancur itu selama ini dia, batin Fely.


"Dava biarkan di jemput Randa sayang".


"Pihak sekolah tidak akan membolehkan keluar selain aku Mama atau Papa yang jemput".


"Aku tidak mau di tinggal lagi sama kamu".


"Ya Allah bentar doang kak".


Dengan berat hati Rafael melepaskan pelukannya.


Cih Fely merasa geli dengan mimik muka Rafael yang di buat sedih dan cemberut.


"Astagfirulloh percis banget Dava kalau lagi ngambek".


Rafael tidak menyaut memilih merebahkan badan lagi.


"Kak aku pulang dulu ya".

__ADS_1


"Hmmm", deheman mengiyakan.


"Tidur lagi aja istirahat, anti aku suruh kak Randa biar bisa temennin".


"Tidak usah bisa sendiri".


"Kak aku paling malas sama orang yang susah di beri tahu dan ngeyel".


"Iya jangan lama lama".


Cup Fely mencium pipi Rafael sekilas, "Cepet sembuh", senyumnya langsung berlalu dari sana, malu sendiri dengan tingkahnya yang seperti abg.


Mana bisa aku berpaling dari kamu kak, kamu sudah mengambil semuanya dariku bahkan walawpun sering di sakiti ternyata hatiku tidak bisa melupakanmu.


Sudah berusaha 6 tahun lebih membuang perasaan ini tapi ternyata tetap tidak bisa.


Dengan adanya kamu kembali sekarang dan perubahan kamu yang sangat jauh membuatku semakin terjatuh, jatuh cinta sama kamu.


Berusaha membenci tapi ternyata bukannya semakin benci malah semakin cinta.


Fely menjalankan mobilnya sambil terus tersenyum, apa tadi dia malah tiba tiba mencium Rafael padahal tidak ada niat sama sekali, hihhhh benar benar malu.


Sedangkan Rafael yang di beri hadiah mendadak dari Fely membuat badannya kaku tidak percaya.


Memegang pipi benar benar terasa bibir lembut itu menempel di pipinya tadi, tersenyum bahagia.


Semoga ini bertanda baik untuk hubungan kita sayang, aku akan berubah dan membahagiakan kamu juga anak anak kita.


.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2