ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
75.


__ADS_3

Waktu begitu cepat kini pernikahan Pandi dan Sandra tinggal seminggu lagi, antusian dua ibu yang begitu bahagia mempersiapkan segalanya.


Pandi yang membiarkan kedua Ibu nya itu untuk memilih semuanya, dia hanya mempersiapkan saja selebihnya Mama Selina dan Bu Mirah yang memilih.


Renaldi juga tak kalah sibuk, jadwal kuliah dan pekerjaan nya sering sekali bentrok.


"Bos gue ke kampus dulu", Renaldi pamit sambil berlari.


Pandi hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu, Renaldi yang sekarang lebih giat dan pokus bahkan sekarang sangat sangat menghormati waktu.


Kadang merasa kasihan juga, Pandi pernah ada di posisi Renaldi yang selalu kejar kejaran dengan waktu bahkan sering lupa makan juga, tidak mau menyita banyak waktu sahabat nya namun ya mau gimana lagi pekerjaan sekarang sangat numpuk apalagi lima hari lagi dirinya akan menikah, semua pekerjaan harus benar benar Pandi selesaikan 5 hari ini.


"Bu Wulan, siapkan berkas buat meeting besok dengan DP group ya", ucap Frans pada sekertarisnya.


"Baik Pak akan saya siapkan", menunduk hormat.


"Siang ini saya akan keluar kantor, jika ada berkas yang harus secepatnya saya tanda tangani hubungi saya langsung ya".


"Baik Pak, ada yang mau di siapkan lagi?".


"Tidak ada, Terimkasih".


"Kalau begitu saya permisi Pak", meskipun umur Bu Wulan lebih beda jauh dari Pandi namun dia tetap hormat karena Pandi sangat baik juga tegas pada semua karyawan.


"Iya Bu silahkan", Pandi tidak pernah arogan meskipun dia sebagai bos di sana selalu menghormati orang yang lebih tua darinya.


Tak lama Sandra datang kesitu mereka siang ini akan fitting baju langsung ke tempat buat acara, sambil Pandi memeriksa persiapan acara pembukaan hotel barunya.


Membuka pintu dengan pelan, "Assalamualaikum by", Sandra tersenyum melihat Pandi yang sedang pokus pada laptopnya.


Mendengar ada suara Pandi mendongak lalu tersenyum, "Walaikum salam", setelah itu dia pokus lagi pada laptopnya.

__ADS_1


"Belum selesai ya?", tanya Sandra.


"Iya sebentar tunggu ya, Renaldi lagi pergi ke kampusnya".


Sandra menunggu di belakang kursi kerja Pandi menumpukan dagunya pada kursi itu, melihat bagaimana seriusnya kerja lelaki itu.


Hampir setengah jam Sandra menunggu dan dia terus berdiri di belakang kursi itu, "Kenapa berdiri terus gak capek?", mengelus kepala wanita itu dengan sebelah tangan nya dan tanpa menoleh juga.


"Capean kamu yang gak pernah berenti jari dan otaknya, kamu juga kurang istirahat ya".


"Nah udah, yuk berangkat", Pandi langsung nen save dokumen yang iya kerjakan tadi.


"Mau di pijitin gak, capek banget ya pasti", merasa bersalah karena Sandra yang selalu ingin menikah cepat..


"Boleh tapi nanti kalau sudah halal", Pandi tersenyum miring.


Dih benar benar dah lelaki mah emang diam diam juga suka menahan dari segalanya, lelaki yang baik pasti tidak ingin menodai wanitanya.


"Hahaa, terus kalau sudah halal?".


"Dih", Sandra mencubit pinggang lelaki itu meskipun terhalang jas nya.


"Sakit sayang, kamu tuh suka banget mancing".


"Hahaa apasih gitu doang mancing di ngaco".


"Yuk berangkat, nanti sore aku akan ke kantor lagi setelah mengantar kamu pulang".


"Kerjaan nya gak bisa di tunda besok lagi ya", Sandra menatap serius lelaki yang ada di depannya.


Pandi bingung dengan pertanyaan Sandra, "Kenapa, kamu mau ada sesuatu?", tanya nya.

__ADS_1


"Gak ada, liat muka kamu itu kaya capek banget maaf ya aku yang sering maksa kamu mau cepat menikah", Sandra memeluk Pandi.


"Aku tidak terpakasa ya memang ini waktu yang tepat buat kita menikah, hubungan terlalu lama juga tidak baik buat kita".


"Terimakasih karena sudah selalu berusaha buat ngertiin aku yang banyak sekali maunya ini".


"Loh ko nangis?", Pandi menghapus airmata yang sudah lolos dari pelupuk mata Sandra.


"Terharu gak nyangka kita bakalan seperti ini", Sandra tersenyum mendongak.


Ya Allah jiwa lelaki Pandi meronta melihat gemas bibir Sandra yang sampai sejauh ini iya tidak pernah cicipi bagaimana rasanya, kadang setan jahat melintas agar mencicipi rasa itu, tak apa sebentar lagi halal, naluri baik juga ikut nimbrung bahwa melarangnya jangan nanti saja setelah halal.


Pandi menutup mulut Sandra dengan telapak tangannya sungguh hampir saja dia tidak bisa mengontrol diri.


"Haha sabar ya", Sandra mengelus pipi lelaki itu sambil tertawa.


"Sabar banget malah".


"Nanti juga ada waktunya".


"Iya lagi sabar banget menunggu datanya waktu itu".


"By kata Mama tadi kita makan siangnya bareng mereka di sana".


"Yaudah berangkat yuk takutnya kita di tungguin", Pandi langsung menggandeng tangan Sandra keluar dari kantornya.


.


.


.

__ADS_1


πŸ–€πŸ–€πŸ–€ Happy reading 😘😘😘


Jangan lupa like ya😍 TerimakasihπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2