
Masih bingung karena melihat tangis Ibu dan adiknya itu sangat pilu.
"Bang Bapak sudah tidak ada", ucap Seli dengan ter sendat karena tangisnya.
Bagai di sambar petir Pandi menjatuhkan badannya, maksudnya apa ini pikiran Pandi sudah kalut takut, dia menggelengkan kepalanya tidak tidak mungkin Pandi menggelengkan kepala lagi.
"Bu dek apa maksudnya, Bapak kemana?", tanya Pandi lagi.
"Bapak sudah meninggal nak, Bapak sudah tidak ada", ucap bu Mirah sambil memeluk erat anak sulungnya.
Ketakutan Pandi benar saja, runtuh sudah dunia nya, orang yang dia sayangi tidak ada Bapak adalah salah satu orang yang ingin Pandi bahagiakan dan ingin Pandi tunjukan kesuksesan nya nanti kepadanya.
"Jangan bercanda ya", Pandi masih belum bisa terima.
"Bang ini benar adanya, ucap Seli lagi".
"Kenapa tidak memberi tahuku Bu kenapa?", suara Pandi melemah sambil menangis sesegukan.
__ADS_1
"Bapak yang melarang kami untuk memberi tahumu nak, Bapak tidak ingin mengganggu kamu, Bapak mau kamu sukses".
"Tapi tidak begini caranya Bu". Mau marah mau teriak se kencang kencangnya, mau benci sebenci bencinya, tidak ada gunanya karena tidak akan bisa mengembalikan Bapak nya lagi.
"Dimana kuburnya Bapak", tanya Pandi mendongak menatap Ibu dan adiknya.
Mereka berjalan ber tiga menuju pusara Pak Medi, langkah Pandi sangat gontai. Setelah beberapa menit berjalan mereka sampai ke depan pusara itu.
Melihat tanah yang masih sedikit menggunung tandanya belum lama pak Medi meninggal. Pandi tersungkur memeluk pusara itu menumpahkan kesedihannya menumpahkan rasa kegagalannya menjadi seorang anak laki laki yang harusnya bertanggung jawab.
(Pak Medi meninggal belum ada 1 bulan juga).
Bu Mirah dan Seli juga menangis melihat Pandi seperti itu, mereka merasa kasihan dan bersalah juga menurut saja dengan ucapa pak Medi, jadinya Pandi tidak melihat Bapaknya di hari terakhirnya juga.
Hampir 2 jam Pandi terus menangis di depan pusara Bapaknya. Hari ini langit juga gelap seolah mengikuti hati Pandi yang sedang berduka, sudah mulai turun gerimis, bu Mirah mengajak Pandi untuk pulang.
"Nak ayo pulang jangan seperti ini ya, Maafkan Ibu yang menuruti saja keinginan Bapak kamu untuk tidak menganggu anak kebanggaan nya belajar dan mengejar mimpinya, Bapak tidak mau kamu sedih, kamu anak kebanggaan Bapak".
__ADS_1
Pandi mengangguk berjalan sedikit sempoyongan di tuntun Seli dan Bu Mirah.
Hujang sudah turun bahkan sudah hujan gede, pakaian mereka sudah basah kuyup. Pandi menatap jalan juga dengan nanar.
Sampai rumah langsung membersihkan diri semuanya.
Bu Mirah membuat teh hangat untuk mereka bertiga. Hujan masih terus, namun kali ini tidak ada petir walawpun sedang hujan besar.
Pandi tertidur di pangkuan Ibunya, hari ini dia lelah, lelah segala galanya. Bu Mirah membiarkan anak sulungnya itu tertidur untuk mengurangi rasa lelah dan kesedihannya.
Hatinya juga ikut menjerittt, namun dia harus kuat ada 2 anaknya yang harus dia rawat sekarang.
Andai Pandi tau semuanya dia pasti mengamuk, hanya akan dia simpan sendiri kesedihan dan rahasia itu, anak anak tidak boleh ada yang tau apalagi anak sulungnya, batin bu Mirah.
Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
Hari sudah mulai sore juga Seli kali ini dia memasak karena Bu Mirah sedang menjadi bantalan tidur abangnya, tidak mau mengganggu tidur sang kakak mereka membiarkan saja.
__ADS_1
๐ค๐ค๐ค
Selamat membaca, jangan lupa like ya๐. Terimakasih๐๐๐