ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
95.


__ADS_3

Dari pertama masuk ke dalam mobil Seli merasa di ruangan suhunya 5°c saking dinginnya di dalam mobil itu.


Sebelum keluar dari mobil Seli ingin meminta maaf, sudah 5 bulan tidak bertemu dengan Renaldi bahkan sepertinya emang benar Renaldi menghindarinya, "Kak maaf", ucap Seli dengan tercekat.


Renaldi hanya diam saja, sepertinya dia sendiri juga sudah muak dengan perasaan nya itu.


"Maaf kak maaf, aku merasa manusia paling jahat, kenapa kakak menghindar dariku kenapa kakak membenciku", suara tangis Seli semakin kencang.


"Turunlah saya sedang banyak pekerjaan", ucap Renaldi dengan dingin.


"Maaf kak maafkan aku".


Huwhhh, membuang napasnya dengan kasar, lalu melirik pada wanita yang ada di belakang kemudi, "Saya bilang turun, saya sedang banyak pekerjaan".


"Jangan membenciku kak, jangan menghindar dariku, aku ingin seperti dulu lagi".


"Tidak bisa".


"Apa yang harus aku lakukan kak Ren agar kakak tidak membenciku", keluh Seli.


"Turunlah dari mobilku", ucapnya dengan dingin dan penuh penekannan.


"Ya aku turun, Terimakasih", Seli turun dari mobil itu membanting pintu, sampai Renaldi juga terjengkat kaget.


Andai Seli tau bahwa hatinya Renaldi sekarang semakin hancur, apalagi tadi melihat Seli yang tersenyum manis pada lelaki yang paling Renaldi benci.


Sebelum masuk ke dalam mobil tadi Seli sempat di samperin lelaki itu lagi, dengan terang terangan mereka menunjukan kemesraan di hadapan Renaldi, ya meskipun kemesraan itu di batas wajar, karena Seli dan Aldo hanya saling menyapa dan melempar senyum, Aldo yang mengelus kepala Seli dengan senyumah tulus dan tatapan penuh cintanya, membuat hati Renaldi meradang, luka tanpa darah, padahal tak ada yang salah, yang di lakukan oleh kedua pasangan muda itu.


Nyatanya semakin berusaha kuat untuk melupakan, semakin dalam juga rasa cinta Renaldi kepada Seli.


"Ya Allah, kenapa hatiku semakin perih", Renaldi menepuk nepuk dadanya dengan kuat, berusaha menghilangkan rasa sesak dan perih di hatinya.


Tak kuasa untuk sampai ke kantor lagi, Renaldi membelokan mobilnya ke apartemen yang dia tempati, hatinya sedang seperti ini tidak mungkin dia ajak kerja.

__ADS_1


Masuk ke dalam apartemen yang di tempatinya dengan langkah gontai, "Andai aku tau kalau jatuh cinta bakal sesakit ini, aku tidak akan jatuh cinta pada siapapun, hahaaa malang sekali nasibmu Ren, hidup tak di inginkan oleh kedua orang tua, sekarang sudah dewasa juga tidak di cintai oleh orang yang kau cintai", Renaldi tertawa sumbang, menertawakan takdirnya yang begitu miris.


Membantingkan badannya ke kasur, menatap langit langit yang iya rasa begitu suram, air mata Renaldi luruh seketika, takdir hidup begitu mempermainkan nya.


.


Seli juga membantingkan badannya ke kasur, menjerit sejadi jadinya, sesak di dalam dadanya juga begitu penuh, entah apa yang di rasakannya sekarang, hanya perih, perih dan perih hatinya apalagi setelah mendapat tatapan tajam nan dingin dari kakak angkatnya yang sudah iya anggap kakak kandung.


"Sebenci itu kak Ren padaku, Ya Allah aku harus gimana sekarang, bingun aku sangat bingung, aku harus pilih siapa di antara dua lelaki baik selain abangku ini".


.


.


Sedangkan yang sedang main pasir dan air laut, masih sangat asik, sepertinya tak ada tanda tanda Sandra akan menyudahi kegiatan itu.


Hari sudah semakin sore suasana pantai sudah semakin dingin, "Sayang ini sudah sore pulang yuk", ajak Pandi.


"By kapan kapan kita kesini lagi yuk".


"Baiklah pulang ke rumah mama ya, duhhh sayang sekali aku masih betah di sini", manyun nya.


"Kapan kapan kita kesini lagi sayang, ini tidak baik sudah sore bahkan hampir malam".


"Iya deh ayo".


Bergandengan tangan keluar dari bibir pantai, mereka masuk ke dalam mobil, bergegas untuk pulang.


Selama dalam perjalannan juga Sandra tertidur pulas, 1 jam lebih perjalannan Sandra dan Pandi sampai rumah Mama Selina. Pandi menggendong istrinya yang sedang tidur pulas.


"Loh nak kenapa?", panik Mama Selina.


"Gak apa apa ma, Sandra sedang tidur", ucap Pandi.

__ADS_1


"Huwhhh mama kira kenapa", menggelengkan kepalanya.


Tanpa Pandi sadari ternyata Sandra sudah terbangun hanya sedang asik saja di pangku suaminya.


"Sayang ternyata kamu gak tidur?", ucap Pandi.


"Hehee sengaja maunya di gendong, terimkasih suamiku yang paling tampan, paling kaya raya, pintar hebat, calon Papanya anak anakku, love you sayang".


Akhhh runtuh sudah rasa sebal dan jengkel Pandi setelah banyak pujian dari sang istri.


"Imbalannya besar lo sayang", Pandi langsung menubruk tubuh istrinya, meraup habis bibir ranum sang istri, yang tidak pernah membuatnya bosan padahal setiap hari Pandi selalu menyempatkan waktu untuk menikmati bibir itu.


"Akhh by, mandi dulu yuk badanku sudah lengket", ucap Sandra di sela sela leguhannya.


"Dengan senang hati sayang", Pandi tersenyum langsung mengangkat tubuh istrinya, meraup habis bibir itu lagi dan lagi.


Hampir 1 jam mereka di dalam kamar mandi sambil menuntaskan hasrat yang selalu menggebu, entahlah Sandra juga sekarang jangankan menolak malah sering ngajak di setiap kesempatan.


Namanya lelaki jangankan di suguhkan tidak di suguhkan juga akan iya cari kemanapun.


Sandra sedang mengeringkan rambutnya di meja rias, Pandi memeluk istrinya dari belakang, mengusap usap perut Sandra naik turu.


"Yang geli", karena tangan Pandi sudah masuk ke dalam bajunya.


"Semoga secepatnya ada adik bayi di sini ya", ucap Pandi, tangannya mengelus elus perut Sandra, sambil menciumi kepala wanitanya .


"Ehhhh, tunggu, ini tanggal berapa by", kaget Sandra.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading🖤🖤🖤


__ADS_2