
Setelah minjau proyek Pandi dan Renaldi langsung ke pabrik, benar benar dua pemuda itu jika sedang bekerja seperti bukan pemuda pada umumnya, mereka bekerja dengan profesional tidak ada elu gue, tidak ada percekcokan, yang mereka tampilkan muka dingin dan tegas penuh wibawa.
Sampai pabrik pun mereka menampilkan keperibadian yang tegas dingin dan penuh wibawa, sehingga karyawan di sana tidak ada yang main main tidak ada yang cengengesan dengan kedatangan mereka.
Pandi benar benar menerapkan kedisiplinnan dan kesopannan, bahkan cara berpakaianpun benar benar Pandi perhatikan, tidak mau ada karyawan yang berpakaian macam macam, apalagi kurang bahan.
Jam 2 siang mereka balik lagi ke kantor, Pandi anteng dengan ipad nya lagi.
"Bos mau makan dimana?", tanya Renaldi sebabnya mereka belum makan siang.
"Kantor aja Ren, gue masih banyak banget kerjaan", keluh Pandi.
"Yaudah gue pesan dulu supaya sampe sana kita langsung makan".
"Iya Terimakasih ya Ren", ucap Pandi dengan tulus.
"Iya", jawab Renaldi, begitulah mereka jika sedang akur.
Sampai kantor sudah hampir jam 3 sore mereka langsung makan perut sudah merasakan begitu laper.
Setelah makan mereka pokus ke kerjaan masing masing, tidak terasa waktu begitu cepat, Renaldi sampai menyalakan pengingat waktu.
Tepat jam 5 sore, Renaldi mengetuk pintu ruangan Pandi.
"Kenapa Ren?", tanya Pandi bingung.
"Katanya mau balik tepat jam 5".
Ya Allah perasaan ni waktu cepat banget, Pandi memijit pelipisnya, langsung iya mematikan laptop. "Ayo lu ikut gue", Pandi langsung menyambar kunci mobilnya.
Renaldi tanpa bertanya lagi dia mengikuti Pandi dari belakang. Sampe rumah Pandi langsung mandi.
__ADS_1
"Mau kemana sih gue heran sama lu".
"Mama sama Papa ngajak kita makan bareng, Ibu sama Seli juga sudah di jemput sama mereka mangkanya ni rumah sepi".
"Kenapa lu gak bilang dari tadi onyeng, gue pake baju apa masa gue gak mandi dulu", gerutu Renaldi.
"Ya lu mandi lah, tuh ada baju baru di lemari gue lu pake aja mau yang mana".
"Lu bos terbaik emang".
"Cih kalau di kasih geratisan saja bilangnya bos terbaik, kalau di kasih kerjaan ngedumel".
Renaldi tertawa sambil masuk ke kamar mandi.
Setelah magrib mereka langsung ke restoran yang sudah Papa Handra kirimkan alamatnya.
Masuk ke sana Pandi dan Renaldi beriringan. "Assalamualaikum", ucap Pandi dan Renaldi barengan. Di sambut pelukan hangat oleh Mama Selina.
"Terimakasih Ma", Pandi membalas pelukan wanita itu. Papa Handra juga memeluk Pandi, menupuk bahu pemuda itu.
Setelah melepaskan pelukannya dari Pandi dia baru sadar kalau ada anak pemudanya lagi di sana. "Anak ini", Mama Selina menjewer kuping Renaldi.
"Maaa, awww sakit", meskipun tidak begitu sakit ya namanya juga Renaldi, paling bisa menderama.
"Kemana aja kamu hahh, gak pernah ngasih kabar ke orang tua, lama lama Mama kutuk jadi emas kamu".
"Nah kalau jadi emas enak Mama dong semakin kaya", kekeh Renaldi.
"Iyalah lumayan Mama bisa shopping sesuka hati".
"Harta Papa gak bakalan habis buat Mama pake belanja, iya kan Pa. Mama gak harus kutuk aku juga", melas Renaldi.
__ADS_1
Mereka di sana semuanya tertawa, ya Renaldi juga memanggil Mama Papa jadinya, ke Ibunya Pandi juga memanggil Ibu, mereka menjadi keluarga besar sekarang.
Pandi duduk di dekat Sandra, bertukar pesan lewat ponsel meskipun mereka dekat.
"Dekat woy tinggal ngomong gak harus kaya gitu", bisik Renaldi.
Pandi melirik sengit ke arah Renaldi "Gue bis lo Ren tendang elu sampai kandang macan", ucap Pandi dengan tatapan tajam nya.
"Ampun bos ampun gak bisa di ajak bercanda amat", keluh Renaldi.
Keluarga itu sudah tidak aneh lagi dengan keributan dua pemuda yang ada di depan mereka, Mama Selina malah merasa sangat terhibur dengan adanya mereka.
Renaldi yang selalu nyari gara gara namun selalu kalah telak juga.
"Udah jangan ribut terus mending kita makan yuk", ajak Papa Handra sambil terkekeh.
Makan dengan tenang, setelah makan mereka banyak ngobrol lagi, obrolan mereka terbagi menjadi tiga kubu, yang awalnya para lelaki tentang kerjaan, Bu Mirah sama Mama Sinta tentang makannan dan masakan sedangkan Sandra dan Seli mereka mengobrolkan tentang apa saja yang mereka suka.
Karena besok masih hari kerja mereka terpaksa harus berpisah lagi dari keseruan itu.
Sandra dan Pandi paling terakhir keluar dari ruangan vvip itu. "Pulang langsung istirahat tidur, jangan nonton lagi", ucap Pandi, sempat sempatnya dia memeluk Sandra melabukan ciuman ke kepala wanita itu.
"Tlpon nanti ya".
"Iya, ayo keluar yang lain sudah pada nunggu di luar".
•
•
•
__ADS_1
🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘