
Rafael masih terus memeluk Fely dengan 1 tangannya, menghujani wanitanya dengan ciuman penuh cinta, kata kata cinta dan sayang juga terus Rafael ucapkan.
"Gimana mau jadi pergi lagi gak?", usil Fely.
"Boleh asal bareng kamu sama Dava", tersenyum dan mengambil kesempatan walawpun sekilas.
"Ihhh nyosor terus hahahaa".
"Hehee ada kesempatan jangan di sia siakan".
"Kamu selama ini di mana?, pergi kemana?".
Huwhhh menghembuskan napas dengan kasar, "Vatikan", ucapnya tersenyum kecut.
Mengingat kehidupan menggembel dirinya di sana membuat hatinya berdenyut, walawpun tidak lama langsung bisa berdiri lagi meskipun benar benar mulai dari 0.
2 tahun hidup kesusahan untuk makan bukan hal yang mudah, tahun ke 3 ke 4 dan 5 bisa berdiri dan berjaya lagi suatu anugrah.
"Gak usah masam gitu kan sekarang kita udah kumpul lagi, aku Mau kesana dong kak".
"Maunya kapan ayo besok juga".
"Kerjaan banyak Dava juga sekolah".
"Masih Tk ijin 1 minggu tidak masalah sepertinya".
"Kamu ini", Fely memukul paha Rafael sampai orangnya mengaduh.
"Uhhh sakit sayang badanku sakit semua", benar benar Rafael merasa badannya mau rontok semua.
"Besok juga sembuh, mangkanya ngajarin anak bolos sekolah lagi"..
"Bukan ngajarin bolos sekolah, sesekali tidak jadi masalah aku juga ada kerjaan sedikit di sana, ayo habiskan waktu hanya 1 minggu pergi berlibur".
"Kerjaanku banyak", keluh Fely.
"Saya siap bantu bu CEO".
"Kamu juga pasti banyak".
"Aku bisa kerja 24 jam".
__ADS_1
Plakss, "Kerja terus sana 48 jam sekalian".
"Sakit sayang", Rafael mengambil tangan Fely yang terus memukulinya hari ini, "Tangannya cantik banget padahal tapi pedes sukanya mukulin suami, okelah tidak apa apa suami akan ikhlas yang penting istri bahagia", mengecup tangan itu .
Cih pipi Fely meronah mendengar kata kata manis yang keluar dari bibir Rafael apalagi ciuman hangat yang menempel di tangannya..
Dava terbangun dari tidurnya, "Mih Pih", anak itu turun dan berjalan sambil sesekali mengucek matanya.
"Sini sayang", Fely memangku Dava.
"Sudah tidurnya hemm?".
"Iya Pih".
"Sudah sore pulang yuk", Fely mengajak Dava pulang.
Rafael melongo, apa apaan belum puas dirinya berduaan tapi Fely malah mau pulang, tadi sempat terhalang suster yang mengganti cairan impusnya.
"Sayang", Rafael.menarik ujung baju Fely, percis anak kecil yang minta jajan.
"Ayo Mih, Papi pulang gak?".
"Nggak Papi masih sakit biarin di rumah sakit dulu".
Sedangkan Rafael dari tadi menarik narik ujung baju Fely terus.
"Apa sih kak", Fely mendelik menatap Rafael.
"Mami jangan bilang Kakak itu kan Papi".
Astaga anak gue mulai gede ternyata banyak banget ngelarang Maminya, batin Fely.
Hahahaa anak gue banget emang ni bocah, Rafael tersenyum.
"Aku sama Dava pulang dulu ya".
"Sayang", mukanya berubah cemberut.
"Udah sore, kamu juga besok sudah boleh pulang".
Pas sekali kebetulan Randa datang ke sana, matanya langsung tertuju pada asistennya.
__ADS_1
"Ran tolong sebentar", isyarat dari Rafael, Randa langsung bisa membacanya.
Haihh sampe sini gue momong dong, Randa langsung mengajak Dava keluar.
"Mau apa lagi", Fely duduk lagi di ujung sopa.
Rafael dari tadi memang masih terus bersandar.
"Peluk dulu".
"Kan tadi sudah bahkan lebih dari peluk".
"Sayang".
"Iya Papiii hahahaaa".
"Kamu ini", bisa gila gue kalau jauh lagi dari kalian.
"Aku pulang ya, Dava harus belajar karena 2 hari lagi di skolahnya ada acara".
"Iya jangan jauhkan ponsel, kalau aku tlpon angkat".
"Baik pak Rafael akan saya laksanakan dan ingat apa yang bapak perintahkan".
"Jangan membuatku semakin tidak bisa jauh walau semenit juga".
"Berlebihan".
"Paktanya seperti mau gila".
"Iya iya, aku pulang ya".
"Hmmm".
Dengan berat hati Rafael membolehkan Fely pulang, andai saja Fely langsung mau di ajak 1 rumah dengannya.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤