
Rafael yang baru saja terbangun dari tidurnya di kagetkan dengan tlpon dan pesan banyak dari Mami nya.
Ck apa sih pagi pagi sudah rusuh saja, pikirnya, tanpa menjawab tlpon dan melihat pesan yang begitu banyak masuk kedalam ponselnya, Rafael malah menuju kamar mandi.
Dua hari di rumah sakit membuatnya kurang tidur dan istirahat, tadi malam karena matanya sudah sangat ngantuk Rafael memilih tidur di perusahaan nya karena jarak dari rumah sakit lebih dekat ke sana daripada apartemen.
Selesai mandi dirinya di kagetkan dengan kedatangan Randa yang pagi pagi buta sudah ada di perusahaan.
Randa asisten peribadi dan bisa di bilang tangan kannan nya.
"Astaga kau mengagetkanku saja", ucapnya kesael.
"Maaf pak, saya harus segera menyampaikan ini kepada anda bahwa data perusahaan kita ada yang menyabotase nya".
"Jangan bercanda kau Ran, itu tidak mungkin", ck siapa yang mau main main denganku.
"Silahkan anda cek sendiri pak".
Secepat kilat Rafael langsung mengambil laptopnya, "Hahhhh", gilaaaaaa bahkan bukan hanya data perusahaan saja yang hilang, semua akses data diri juga susah dirinya lihat sendiri, laporan pemblokiran banyak.
Arghhhhhhhh, "Bangsat siapa yang mau macam macam denganku", amarahnya kini meledak.
"Tenangkan diri anda terlebih dahulu pak, mari kita cari jalan keluarnya dengan kepala dingin".
__ADS_1
"Mau bagaimana saya bisa tenang bahkan yang seharusnya besok saya pergi ke London, ini kau lihat semua akses bandara da paspor di blokir dari seluruh dunia".
Hahhh Randa juga kaget bukan main, dirinya tau bosnya bukan orang bodoh tentang segala bidang.
"Siapa yang bisa melakukan ini semua pak", Randa ikut terduduk di sopa saking kagetnya, dirinya juga memijit pelipisnya.
Berpikir keras siapa yang bisa melakukan ini semua padanya, kepalanya sampai berdenyut nyeri, usaha yang sejak kecil dirinya rintis kini hilang seketika.
Mengambil botol minum kemasan tenggorokannya mendadak kering, minumpun bahkan 1 botol habis sekali minum.
"Saya rasa selama ini saya tidak punya musuh", ucapnya pada Randa.
Oncom musuh ente mertua ente sendiri heuuhhh kesel deh, Rafael sudah mulai oon kali ya.
Meskipun dengan sedikit takut Randa menyampaikan pemikirannya.
Deg.... Jantung Rafael berdegup cepat, gilaaa mana mungkin Papa tega melakukan itu sama gue, batinnya.
Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhh tidak mungkin kan Pah, ya baru ingat bahwa yang bisa melakukan itu itu semua hanya mertuanya ayah angkatnya yang dari sejak kecil selalu mempelajari dirinya tentang bisnis juga ilmu it.
"Ran menurutmu apa bisa setega itu Papa melakukan ini semua ke saya".
"Pikirkan dengan baik baik pak", ucapan Randa terjeda, apa gue bilang langsung saja ya apa kesalahannya selama ini, akhh dengan takut takut Randa mengucapkan kata demi katanya.
__ADS_1
"Bisa jadi pak karena anda kemungkinnan besar sudah menyakiti anak kesayangannya, bisa jadi Nona Fely mengadu pada ayahnya".
Duarrrrr....... Fely Fely Felyyy kini nama dan bayangan wajah sendu wanita itu menari nari di dalam benak juga pikirannya.
Tidak mungkin kan, apa iya, apa gara gara akhhhhhhh seharusnya gue tidak mengambilnya secara paksa, batinnya sedikit menyesal.
"Urus semuanya Ran, saya balik sebentar setelah itu saya akan kesini lagi", ucapnya langsung menyambar kunci mobil.
Rafael melupakan ponselnya yang sebentar lagi meledak karena penuh mendapat panggilan masuk dan pesan dari Mami nya.
"Tidak mungkin kamu kan Fell yang ngadu ke Papa", ucapnya, bahkan Rafael membawa mobil seperti orang kesetannan untung masih sangat pagi jalannan masih tidak begitu rame.
Gue percaya Fely gak mungkin mengadu, dia kan katanya mau sabar menunggu sampai gue mencintainya balik, pliss Fell jangan bawa Papa ke masalah kita bisa habis suamimu ini, batinnya.
Cihh suami suami sekarang saja baru bilang suami selama ini kemana saja.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1