ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
58. Menjenguk ke Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah Pandi dan Sandra keluar dari ruangannya, Marcel merenung, iya merenungkan semua kesalahannya selama ini.


Sebegitu bodohnya gue karena terobsesi dengan apa yang gue mau, gue sering banget ngelakuin kesalahan tanpa gue pikir lagi apa dampak dari semua yang telah gue lakuin, batin Marcel.


Pandi benar ya mungkin ini karma buat gue karena sering banget membuat kesalahan selama ini, Ya Allah, Marcel mengusap mukanya dengan sebelah tangan berkali kali.


"Sayang nak gimana masih ada yang sakit?", tanya Mamanya.


"Gak ada Ma", ucap Marcel dengan suara lemah nya, lemah karena dia sadar selama ini sering sekali membentak Ibunya sendiri jika keinginannya tidak terpenuhi.


"Makan dulu ya sedikit saja Mama suapin, kamu belum makan apa apa nak".


"Mulutku sedang tidak enak Ma".


"Kamu maunya makan apa?, nanti Mama buatkan atau pesankan".


"Gak ada Ma, nanti dulu sebentar lagi ya makannya", ucapnya masih lembut.


Entah ada angin dari mana anak nya bisa bicara selembut ini, batin Mama Marcel.


.


.


Pandi sampai rumah sudah jam 8 lewat, Ibunya sudah cemas bahkan sudah mondar mandir terus, gak biasanya Pandi pulang telat tanpa kabar tanpa memberi tahunya.


"Nak baru pulang, kenapa?", mimik muka Bu Mirah sangat terlihat jika sedang khawatir.


"Ibu Maaf Pandi tadi habis menjenguk teman yang sedang sakit, bareng Papa sama Mama juga kesana nya".


"Yaudah gak apa apa nak Ibu hanya takut kamu kenapa kenapa, gak biasanya kamu tidak memberi kabar pada Ibu, temanmu sakit apa?".


"Dia kecelakaan Bu, menyebabkan kakinya lumpuh".


"Ya Allah kasian sekali anak itu nak", Bu Mirah tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada Pandi anaknya, Ya Allah lindungi anak hambamu ini, batinnya berdo'a.


"Iya Bu", Setelah bicara dengan Ibunya, Pandi memilih membersihkan diri.


.


Pagi ini setelah mengantarkan Sandra sekolah Pandi menyempatkan waktunya untuk ke rumah sakit lagi menjenguk Marcel, Ibunya menitipkan beberapa kue buatannya juga.


"Assalamualaikum", salam Pandi.


"Ehhh, Walaikum salam, kamu yang tadi malam bareng Selina dan mas Handra ya?", tanya Mamanya Marcel.

__ADS_1


"Iya Tante, saya kesini mau melihat keadaan Marcel lagi, apa boleh?", tanya Pandi meminta ijin.


"Boleh, boleh banget, Maafkan anak Tante kalau ada salah sama kamu ya", sedihnya.


"Iya Tan, semua manusia pasti mempunyai kesalahan, tinggal tergantung pada orangnya saja mau menyadari atau tidaknya".


"Masuklah, namamu siapa?".


"Nama saya Pandi, Tante".


"Nama yang bagus", senyum Mamanya Marcel, nyatanya masih ada yang peduli pada anaknya yang bandel itu.


Pandi masuk dan mengucapkan salam "Assalamualaikum Cel".


"Cek kau lagi", Marcel membuang muka nya.


"Gue kesini gak lama Cel, cuma mau nganterin ini doang titipan dari Ibu gue yang pagi pagi sudah sibuk bikinnin kue buat elu".


"Gue gak minta", sewot Marcel.


"Ya emang elu gak minta, tapi Ibu gue yang perhatian dan khawatir sama elu, elu jangan kaya gitu jangan terpuruk dengan keadaan yang sekarang, gue mau liat elu bisa jalan lagi terus isengin gue dan Sandra lagi, sepi hidup gue gak ada yang iseng lagi sekarang".


"Kampret elu".


"Pergi sana lu, sepet mata gue liat elu terus".


"Cek jadi manusia keras kepala banget lu", Frans menarik kuping Marcel sedikit.


"Sakit bangsat, sudah tau gue gak bakalan bisa ngejar elu lagi gue lumpuh".


"Kaki doang yang lumpuh juga mulut elu masih pedas saja".


"An"""""""ng lu mau gue lumpuh segala galanya gitu".


"Gak gitu bro, santai knapa sih heran gue sama elu ngegas terus".


"Lu gak ada kerjaan ya, ngapain lama lama di sini bangsat".


"Kerjaan gue banyak sih, tapi gak apa apa gue tinggal sebentar buat nemenin elu, kasian gue sama elu pasti gak ada teman buat ngobrol".


"Lu ngehina gue ya".


"Gue bukan menghina Ya Allah Astagfirullohalazim Cel", Pandi menjitak Marcel yang sedang berbaring.


"Sakit bangsat elu kayanya niat mau membunuh gue ya".

__ADS_1


"Iya lebih baik gue bunuh sekalian", Pandi terkekeh.


"Kurang ajar lu emang", Marcel juga sedikit tersenyum, hatinya menghangat, nyatanya Pandi lebih perhatian padanya di bandingkan teman nya yang lain, padahal Pandi bukan temannya bisa di bilang musuh.


"Gue ke kantor dulu ya, kerjaan gue banyak banget soalnya kalau terlalu lama di sini takut bangkrut gue baru juga mau naik", canda Pandi.


"Kampret lu, tadi bilangnya tidak apa apa meninggalkan pekerjaan sebentar belum ada sejam juga sudah takut bangkrut, cih", decih Marcel.


"Ya gue bukan orang kaya dari lahir Cel gak punya harta warisan kaya elu", Pandi tertawa.


"Pergi sana elu kalau takut bangkrut", Marcel juga terkekeh.


"Ya gue pergi, jangan lupa di makan kue nya gak bakalan ada racunnya juga tenang aja gue gak setega itu sama elu apalagi Ibu gue", Pandi menepuk pundak Marcel.


"Ya bilangin sama Ibu elu Terimakasih".


"Hei sama gue lu gak Terimakasih gitu, gue yang bawain ke sini lo".


"Ya Makasih karena elu udah sempetin waktu 15 menit buat jenguk gue dan bawain kue".


"Terimakasih yang ikhlas sapi", ucap Pandi.


"Elu kuda nya, serba salah banget gue dari tadi".


Hahahhaaaa "Iya iya, gue pergi dulu, nanti kalau ada waktu gue temuin elu lagi".


"Iya sana pergi sana", usiran Marcel kali ini di iringi senyuman kecil.


"Tante Pandi pamit dulu ya, kalau Marcel masih belum nurut masukin saja dia ke kandang singa", ucap Pandi dengan keras sengaja supaya di dengar Marcel.


"Bangsat kampret gue masih mau hidup ya meskipun tidak bisa berjalan".


Mamanya Marcel hanya bisa tertawa mendengar ucapa Pandi, dari tadi dia menguping pembicaraan dua pemuda itu, menurutnya Pandi sangat baik dan ramah, jadi dia juga menyukai anak itu sekarang.


"Assalamualaikum", salam pamit Pandi.


"Walaikum salam, hati hati nak", ucap Mamanya Marcel, Pandi mengangguk dan berlalu dari sana.


.


.


.


🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2