
Baru turun dari mobil Renaldi Seli juga sebenarnya kaget kenapa tiba tiba kakak kelasnya itu sampai menunggunya di depan gerbang sekolah, pagi pagi juga lelaki itu sudah menlpon nya menawarkan Seli mau di jemput atau tidak.
"Haii selamat pagi", ucap lelaki itu tersenyum hangat pada sang wanita cantik yang sudah hampir 3 bulan ini dia ikutin diam diam.
Dari semenjak melihat pertamakali Seli masuk ke sekolah ini pemuda itu sudah tertarik pada Seli, selain cantik, ramah, pintar juga bahkan sangat rajin dia tau karena dia menjabat sebagai ketua osis.
"Hai kak Assalamualaikum", tersenyum, deg... Kaget Seli ketika lelaki itu mengelus kepalanya.
"Ayo masuk, kan kakak tadi udah tawarin bareng aja ke sekolahnya supaya gak ngerepotin abang yang mau berangkat kerja", masih dengan senyum nya.
"Gak di bolehin Ibu, takut juga kalau ngomong sama abang hehee".
"Wahh sepertinya adik kesayangan baget ya hahaa, harus berusaha keras nih dapetinnya kalau kaya gitu", ucap Aldo, ya nama lelaki yang selama 1 bulan ini tidak pernah absen mengingatkan makan belajar dan segalanya ternyata Aldo Rusnandi Darmawangsa anak seorang abdi negara bintang tiga.
Entah dapat darimana nomernya, padahal Seli tidak begitu banyak bergaul dengan teman teman lainnya hanya punya satu sahabat di kelasnya, meskipun tidak banyak bergaul namun tidak ada musuh juga, bukan tidak ada yang mengajaknya berteman ya Seli namanya anak kampung yang baru tinggal di jakarta selalu merasa sungkan dan canggung.
"Maksudnya kak", bingung Seli, bingung juga yang katanya ketos dingin dan galak bahkan Seli juga sudah beberapa kali melihat lelaki itu bagaimana jika sedang memberikan peringatan kepada teman temannya atau adik kelas nya.
"Gak usah di pikirin, masuk sana ke kelas belajar yang benar ya, kakak mau ke ruangan bk dulu", ya mereka selalu datang lebih pagi dari yang lainnya bahkan sering sekali di sekolah itu hanya baru ada mereka berdua satpam dan ob.
"Iya kak", meskipun bingung Seli tak banyak bertanya lagi pada lelaki itu dia masuk ke kelasnya.
__ADS_1
.
.
Berbeda dengan hati Seli hati Renaldi sedang terbakar api cemburu, mengumpat habis lelaki tadi yang sudah mengelus kepala pujaan hatinya.
Pikiran nya sudah kacau semakin tambah kacau jika mengingat mungkin saja Seli juga suka dengan lelaki yang tadi mungkin saja mereka sudah jadian mungkin saja mereka sering bareng jika sedang di sekolah, akhhh rasanya kepala Renaldi mau meledak.
Gak bisa gak bisa Seli punya gue Seli akan tetap punya gue milik gue, tapi gue sama Seli umurnya beda jauh hampir 8 tahun apa mau Seli sama gue yang lebih 8 tahun umurnya dari dia, akhhhh Renaldi membenturkan kepalanya ke meja yang banyak timpukan kertas.
"Kenapa lu pagi pagi muka udah kusut banget?", tanya Pandi yang baru saja masuk ke ruangan Renaldi.
Akhh Renaldi semakin mendesah prustasi, kenapa harus ada Pandi di saat kaya gini sih, batinnya, "Nggak gue biasa aja", kilah nya.
"Ya gue lagi galau puas lu", kesal Renaldi.
"Lu yang galau knapa marah ke gue".
"Mau apa lu kesini tumben banget masuk ke ruangan gue".
"Gak pantas lu bilang begitu sama bos sendiri", Pandi melempar bolpoin yang ada di tangannya tepat ke atas kepala lelaki itu.
__ADS_1
"Iya iya maaf, gue lagi galau Pan plis jangan ganggu gue dulu".
"Cih jijik gue dengarnya hahaa, lagian apa yang membuat lu galau?, emang lu bisa galau?, galau kenapa?", Pandi semakin tertawa.
"Bangst gue juga manusia", Renaldi tertawa hambar.
"Bwahahaa gue kira lu temannya gorila, ingat jodoh bukan di tangan lu dan kalau jodoh gak bakalan kemana, kerja yang benar awas aja kalau kerjaan lu gak beres gue bakal lempar lu ke kandang singa", Pandi meninggalkan Renaldi dengan bengongnya.
"Oyyy bangsat lu tau aja isi hati gue, lu mah enak sudah bisa asah kemampuan", teriak Renaldi.
Pandi terus tertawa masuk ke dalam ruangannya, apa yang Pandi tidak tau tentang Renaldi apa yang Pandi tidak tau tentang adiknya, bukan hal yang sulit bagi Pandi mengetahui bagaimana adiknya dan semua keluarganya.
Baru juga duduk di kursinya, akhh dia sudah sangat merindukan istrinya apalagi tadi mendengar teriakan Renaldi yang katanya sudah bisa mengasah kemampuan, mengingat penyatuannya bersama sang istri semakin membuat Pandi rindu melayang bersama, dah lah pikiran gue begitu terus sekarang hahaha kayanya gue sudah gila.
Pandi kerja juga sambil terus tersenyum dan ingin secepatnya siang agar da bisa beeduaan dengan sang istri, membayangkannya saja hawa Pandi sudah naik turun.
.
.
.
__ADS_1
🖤🖤🖤 Happy reading 😍😍😍