ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
024.


__ADS_3

Menjalankan hari hari seperti biasanya, sibuk dengan kerjaan dan masih mencari istrinya yang menghilqng entah kemana.


Rafael dari pagi merasa kepanikan yang luar biasa, mencemaskan Fely terus menerus, selesai meeting jam 11 siang dirinya langsung membawa mobil menuju rumah Papa Pandi.


Pas kebetulan mertuanya sedang pergi ke luar kota, semakin membuatnya tidak enak perasaa.


"Bu Mama sama Papa mau pergi berapa lama?".


"Tidak tau den sepertinya 1 mingguan soalnya bawa koper besar, Oma Opa sama Nenek juga di ajak".


Tumben sekali mereka pergi bareng, apa ada acara ya, batin Rafael.


"Ya sudah bu kalau begitu saya permisi balik lagi ya, bilang saja ke Mama kalau saya datang, saya sudah memberi tahunya sih".


"Iya deh hati hati".


Rafael pergi dari rumah itu dengan langkah pelan sambil terus memikirkan ada apa dengan keluarganya apa yang terjadi, syukur syukur kalau hanya liburan keluarga saja.


"Kasihan sekali kamu den El, seharusnya mendampingi istri yang sedang melahirkan, pirasat seorang suami yang mencintai istrinya memang tidak salah, semoga setelah ini kalian bersatu berkumpul menjadi keluarga yang utuh keluarga penuh keberkahan dan kebahagiaan".


.


Rafael menemui Salman sahabatnya, Salman seorang pengusaha juga jadi pastinya Papa Pandi tidak mencurigai itu.


"Man tolong ikutin keluarga gue kemana perginya, gue cuman bisa minta toling ke elo".


"Ada apa lagi El?".

__ADS_1


"Perasaan gue tidak enak terus dari pagi, sekarang malah semakin cemas yang selalu ada di dalam bayang bayang gue Fely".


"Lo sedang berlebihan saja merindukannya".


"Ayolah Man tolong bantu gue".


"Ya demi lo gue akan bantu, kemana mertua lo pergi?".


"Lombok".


"Ya gue pesan tiket sekarang", baru saja mau mengambil ponselnya.


"Stop Man lo berangkat sekarang semuanya sudah gue siapkan".


"Cih gila niat banget lo menjadikan gue penguntit".


"Gue mohon lo jangan banya bacot cepat pergi sekarang juga".


Salman dan Rafael secepatnya turun dan langsung menuju bandara.


Rafael sahabat baik Salman sejak TK mereka sangat akrab dan saling tau apa masalah keluarga masing masing.


.


Berbeda dengan Rafael yang mondar mandir menunggu kabar dari sahabatnya, keluarga besar di sebrang sana malah sedang bahagia menyambut cucu pertama di keluarga mereka.


Kali ini Mami Lily dan Daddy Reja juga ikut, dari semenjak sampai dan bertemu dengan Fely, Mami Lily tidak berhenti menangis.

__ADS_1


"Masya Allah cakep banget nak", Mami Lily mendekap cucu pertamanya dengan haru dan bahagia.


"Hidung bibir sama matanya Rafael semua", ucap Mama Sandra sambil terkekeh.


"Takut tidak di akui itu", ucap Papa Pandi.


"Kalau sampai dia tidak mau mengakuinya aku sendiri yang akan meracunnya", geram Mami Lily.


"Astagfirulloh nak istigfar tidak boleh seperti itu", bu Mirah mengelus punggung Mami Lily.


"Terlanjur marah aku Bu, anak itu tidak bersyukur".


"Tidak boleh seperti itu dia juga sudah tersiksa, semua orang punya khilap salah juga dosa, yang penting dia sudah mengakuinya dan mau berubah, kita jangan terus terusan memojokan dia kasihan nak".


Fely tersenyum getir bagaimana nanti kalau benar Rafael tidak mengakui anaknya, cih lucu sekali gue 18 tahun 4 bulan punya anak bayi hahahaa.


"Sekarang saja sudah ketar ketir sampai datang ke rumah juga hahahaa", Mama Sandra memeriksa cctv setelah mendapat pesan dari Rafael bahwa dirinya datang ke rumah.


"Setelah baby bisa di bawa pergi jauh, ikut pulang saja ya sayang", ucap Oma Selina.


"Iya Oma", Fely tersenyum memeluk Oma nya.


Rindu juga berkumpul seperti ini yang sudah lama Fely rindukan.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2