ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
15. Bicara Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Pagi ini Pandi tidak jalan kaki lagi menuju tempat kerja nya, dengan memboncengi Renaldi, dia sengaja berangkat stngah 7 kaya biasanya meskipun sekarang sudah bukan cleaning service lagi.


"Elu ngapain pagi pagi berangkat?", tanya Renaldi.


"Ya udah biasa gini kan apa yang harus di bingungin, jalan", mode cool nya Pandi mulai.


"Ya maksud gue kan elu sekarang masuk kerjanya jam 8".


"Bawel lu Ren", ucap Pandi lagi mulai sebal sama sahabatnya itu.


"Sensitif amat pak udah kaya yang lagi pms aja", oceh Renaldi sambil duduk di motor.


Tanpa banyak kata lagi Pandi langsung menjalankan motornya.


Sampe perusahaan juga Pandi masih membantu teman teman yang lainnya, meski dia kali ini hanya menggeser pot bunga atau sopa.


Tepat jam 8 pagi Papa Handra dan Mama Selina datang ke kantor, melihat kedua orangtua angkatnya Pandi langsung menyalami mereka.


"Selamat pagi Pa, Ma", sapa Pandi sambil menyalami mereka berdua.


"Pagi juga Pan", ucap Papa Handra.


"Pagi anak Mama yang paling tampan", dengan senyum bahagia Mama Selina. Udah sarapan belum Pandi?.


"Alhamdulillah udah Ma", Pandi memanggil Mama Papa karena mereka sedang berada di dalam ruangan Papa Handra.

__ADS_1


"Gelisah terus itu Pan dari tadi malam mau ketemu kamu lagi", ejek Papa.


"Paaaa", Mama mendelik marah sama suaminya, ya malu lah jangan bilang bilang juga batin Mama Selina.


"Pandi boleh gak kita ngobrol dulu bertiga di sini?".


Pandi melirik Papa Handra seolah meminta jawaban, dan dapat anggukan, artinya Papa Handra meng iyakan.


"Iya boleh, ada apa Ma?", tanya Pandi dengan hati hati.


Tak kuasa membendung air mata Mama Selina langsung menangis, andai dia tidak mempunyai penyakit mungkin anak pertamanya akan hidup, bahkan mengandung Sandra juga susah payah dengan penuh perjuangan mempertaruhkan hidup dan matinya.


Tidak ada yang di tutupi Mama menceritakan semuanya ke Pandi, meminta Pandi untuk tetap menjadi anak nya, jangan merasa terkekang terbebani juga di ribetkan oleh mereka, entah kenapa pertama melihat Pandi Mama Selina langsung menyukai pemuda itu, memang mempunyai sorot mata yang tajam dan terkesan cool juga anak nya, irit bicara.


Setelah mendengar cerita kedua orang tua angkatnya itu Pandi merasa terharu juga, memeluk kedua orang tua angkatnya, sekarang tanggung jawabnya bertambah bukan hanya alm. Bapak. Ibu dan adiknya yang harus dia buat bangga namun keluarga angkatnya juga.


Mendengar cerita Pandi Mama Selina di buat sesegukan menangis sedih, dia juga ikut merasakan perih hatinya, Papa Handra juga ikut menangis. Andai dia tau sejak awal mungkin dari pertama ketemu dengan Pandi sudah dia angkat jadi anak nya.


Untuk tinggal bareng bersama mereka Pandi menolak dengan halus. Dengan alasan ingin mandiri ingin membuat mereka bangga dengan pencapaian kerja kerasnya.


"Mama tidak akan memaksa Pandi, gimana nyamannya Pandi aja", Mama Selina akhirnya sadar.


Memiliki sesuatu tidak harus di gemgam erat juga bukan.


"Mama jangan merasa Pandi tidak menyayangi Mama ya, Mama do'ain terus supaya Pandi bisa membuat Mama sama Papa bangga".

__ADS_1


"Sering sering main ke rumah ya, pintu rumah terbuka lebar untuk kamu, kamu anak Mama".


Pandi tersenyum mendengar kalimat demi kalimat yang Mama Papa angkat nya itu ucapkan.


Kehilangan tidak akan bisa kita lupakan, salah kalau kehilangan akan membuat kita lupa dengan seiringnya berjalan waktu, namun kehilangan akan di gantikan dengan yang baru dalam bentuk apapun itu. yang Pandi rasakan sekarang iyalah kehilangan sosok Ayah, kini Allah langsung memberinya orang tua yang utuh dan menyayanginya. Memang tidak akan tergantikan setidaknya sedikit terobati.


"Pandi kerja dulu ya Ma", ijin meninggalkan ruangan Papanya.


"Iya sayang silahkan, ini makan bekalnya siang nanti ya, sengaja Mama bawain banyak, kata Papa kamu punya temen dekat satu, nanti makan bareng bareng sama dia ya", menyerahkan paper bag berisi kotak makan.


"Iya Ma Terimakasih ya", Pandi menyunggingkan senyumnya. Pa Pandi ke ruangan dulu ya.


"Iya silahkan", jawab Papa.


Kalau tidak ingat umur mungkin Mama Selina akan jingkrak jingkrak karena senang. Akhh batinnya menjerit senang sekarang punya anak lengkap cakep cakep lagi.


β€’


β€’


β€’


πŸ–€πŸ–€πŸ–€


Duh cuaca pagi ini, lagi enak di bawa nonton makan tidur😴

__ADS_1


Jangan lupa baca novel Utor yang masih acak acakan ceritanya ini ya hahaaa. Sebenarnya gak begitu pandai dalam merangkai cerita, entah ada dorongan darimana juga ini tiba tiba hati berkata ingin membuat salah satu karya yang bisa orang lain nikmati.


Meskipun sampai sekarang belum ada yang menikmatinya, yaudah lah gakpp yaπŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2