ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
029.


__ADS_3

Vatikan adalah salah satu negara yang Rafael tuju, selain untuk menata hidup yang sedang berantakan Rafael juga ingin mencari ketenangan diri.


Mengingat dirinya di dunia ini hanya sendiri, Rafael benar benar ingin mengubah hidupnya, meskipun hidup sendiri iya akan tetap melangsungkan hidup karena bunuh diri tidak mungkin dia lakukan.


Selama di dalam pesawat bahkan sempat berdo'a agar pesawat yang dia tumpangi itu jatuh dan dirinya mati, tapi setelah itu dirinya sadar lagi bahwa bukan hanya nyawanya saja yang ada di sana.


Tampil berbeda di negara orang, tidak terlihat lagi jiwa Rafael yang ada pada tubuh itu, adanya sekarang hanya laki laki pendiam, menutup diri berpakaian sederhana mempunyai tempat juga sederhana, hanya laptop yang dirinya bawa yang masih sama, tidak ada jas mewah jam tangan mewah sepatu berharga ratusan juta, ponselnya juga Rafael ganti.


Masuk ke tempat huninya yang hanya ada 1 kamar ruang tengah setelah itu dapur kecil.


Merebahkan tubuh yang sangat lelah, melihat ponselnya yang benar benar bersih, hanya ada 3 foto pernikahannya dan belasan foto bayi yang masih merah.


"Papi di sini akan selalu mendoakan kalian, jangan benci Papi nak meskipun Papi tidak pernah menemanimu", mengusap layar ponsel yang harganya, harga kalangan bawah.


"Jika Allah berkehendak mungkin kita bisa bertemu bagaimanapun jalannya, jika tidak sampai Papi tidak ada lagi di dunia ini, do'akan Papi yang pendosa ini", tersenyum kecut dan berkali kali mencium layar ponsel.


Menatap cincin yang melingkar di jari nya, mengusap lalu mengecupnya lama, maafkan kakak sayang.


.


.


Seperti tidak ada penyesalan di keluarga ini sebelum tau kalau Rafael benar benar menghilang bak di telan bumi.


Seminggu berlalu Nenek Mirah yang terus menghubungi cucunya namun tidak kunjung mendapat kabar, nenek itu sangat khawatir dengan keadaan cucunya sekarang.


"Pan, Rafael kemana Ibu sudah menghubunginya dari kemarin kemarin tapi tidak ada kabar sama sekali".

__ADS_1


"Paling di apartemennya bu".


"Kamu ini Pan", rasanya mau marah kenapa semua orang tidak pernah memikirkan perasaan anak itu juga.


"Nanti aku suruh orang untuk mencarinya", melihat kegusaran Ibunya.


"Terserah kamu lah Pan, bingung harus gimana bicara dengan kalian", meninggalkan Pandi dan pulang ke rumahnya sambil terus menangis, khawatir yang melanda hatinya mencemaskan Rafael yang tidak biasanya tidak memberi kabar padanya.


"Ibu mana Pah?", tanya Sandra.


"Pulang nangis menyuruhku untuk mencari Rafael, aku juga bukan tidak mencarinya tapi anak itu entah kemana, sepertinya dia membalasku menghilang lagi".


"Tuh kan kataku juga apa kamu sih udah tau anak nya pintar, cari sampai ketemu sampai ke ujung duniapu".


Papa Pandi mengangguk, dirinya yang kemarin membuat rencana gue yang di salahin, batinnya.


"Ck ni anak juga banyak berhenti di berbagai negara lagi", melacak jejak Rafael.


Karma di bayar kontan, kemarin Papa Pandi yang menyembunyikan Fely dan menghapus jejaknya, sekarang dirinya yang kelimpungan mencari Rafael pergi kemana.


Mengambil kunci mobilnya, hanya Randa yang tau bosnya pergi kemana, batinnya.


Tidak membutuhkan waktu lama sampai ke perusahaan Rafael, Papa Pandi langsung masuk ke sana, semua pegawai tau Pandi Nasution itu siapa dan siapanya bos mereka.


"Ada yang bisa saya bantu pak?", Randa membungkukkan badannya hormat.


"Saya langsung to the point saja Ran, Rafael pergi kemana?".

__ADS_1


"Saya tidak mengetahui itu Pak, Pak Rafael hanya bicara ke saya bahwa beliau ingin menata hidup dan menenangkan diri, semua keberangkatan dan tempatnya beliau sendiri yang urus".


"Ck kau ini gimana sih, terus ini perusahaan nya kamu yang kelola sementara".


Randa mengangguk, memang benar itu adanya, dirinya harus bungkam, membiarkan bos nya itu tenang terlebih dahulu.


Jujur dirinya juga merasa sedih dan perihatin dengan jalan takdir hidup bos nya, Randa akan sabar membantu Rafael sebisa mungkin.


"Laptop Rafael dimana?", tanya Papa Pandi lagi.


"Beliau bawa pak, hanya itu yang pak Rafael bawa pergi selebihnya ponsel juga beliau rusak, itu ponselnya", Randa menunjukan bangkai ponsel yang sudah hancur lebur.


"Apa katanya?".


"Beliau hanya menunjukan dan bicara pada saya, (seperti inilah hidup saya sekarang tanpa ada keluarga lagi di dunia ini Ran, istri dan anakku saja menolakku bahkan keluargaku juga sudah tidak menganggapku ada), satu lagi beliau hanya menitipkan surat untuk Nenek Mirah sebagai tanda perpisahan katanya".


Deg,,,, hati Papa Pandi berdenyut nyeri, mungkin ini yang di rasakan Rafael selama ini sakit dan tersiksa.


"Mana suratnya Ran?".


Randa memberikannya, dirinya belum ada waktu untuk pergi ke rumah Nenek Mirah dan Rafael juga menitipkan agar setelah seminggu kepergiannya barulah surat itu di berikn.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2