
Masih terdengar gelak tawa di sana menertawakan Seli, jarang jarang kan membuat anak itu kesal, pikir mereka, ya iya yang lain jarang bedan dengan laki laki yang sedang duduk di sopa hampir setiap menit menyebalkannya.
Ahhh rasanya semua orang hari ini sangat menyebalkan, Seli mencebikan bibirnya.
"Felysia Qiana Nasution", ucap Pandi, setelah berhenti tertawa, mana bisa melihat muka ngambek adiknya lama lama.
"Aaa cantik banget namanya sama kaya baby nya", ucapnya setelah mendengar jawaban dari sang ayah kandung bayi, sambil terus memandang bayi mungil dengan bentuk muka bulat kecil seperti dapat nyetak saking bagusnya tuh bentuk muka, hidungnya sudah terlihat mancung dari bayi bentuk bibirnya juga lucu bagus.
"Bapaknya cakep masa anaknya jelek kan gak etis", seloroh Pandi sambil menyuapkan keripik kedalam mulutnya.
Dih yang baru mulai menyandang gelar bapak, mulai deh sombongnya, Renaldi melempar pelastik roti yang sudah habis isinya iya makan tadi, "Geli gue dengarnya juga", ucapnya sambil menggridikan bahu, walawpun tidak iya pungkiri memang Pandi lebih unggul darinya dalam segi apapun itu.
"Syirik aja ******, mangkanya nyari cewek jangan yang masih bocah", ledek Pandi lagi.
"Soal hati susah bego", Renaldi tak kalah sengit.
"Lu bilang gue bego, gak akan gue restuin".
Nah kan gue kalah lagi, batinnya, "Asal Ibu setuju semuanya lancar".
"Perlu lu ingat baik baik, GUE walinya bangsat", Pandi melempar aqua botol kosong yang ada di depannya.
__ADS_1
Astagfirullohalazim, Bu Mirah menggelengkan kepala melihat tingkah 2 manusia itu yang kadang akur kadang perang, Mama Selina dan Papa Handra hanya tertawa mendengar perdebatan Pandi dan Renaldi, toh lima menit yang akan datang juga sudah baik lagi nantinya.
Cek, Sandra berdecak, selalu dan selalu seperti ini kelakuan mereka berdua, "Mau berisik keluar dari ruangan ini", nah pawang nya sudah mulai mengeluarkan kata karena sudah geram.
"Ehh nggak udahan ko sayang", ucap Pandi langsung bangkit dan berjalan ke washtaple untuk mencuci tangannya.
"Huhh cemen, suami takut istri itu namanya", pancing Renaldi lagi.
"Stadion gede sana kalau masih pada mau lanjut debat gak jelas, sekalian bawa senjata biar semakin rame", kini Seli yang buka suara, entah sejak kapan Seli banyak bicara, mungkin karena ngadepin Renaldi yang setiap hari selalu menyebalkan.
"Nah benar tuh dek", Sandra mengiyakan ucapan Seli tanda setuju.
Dan cepppp, tak ada lagi perdebatan di antara dua orang itu, langsung diam tak berkutik.
"Kalau sudah besar Fely yang lebih berkuasa nanti ya nak", ucap bu Mirah sambil terkekeh menggendong sang cucu untuk di berikan pada ibunya.
"Kaum lelaki akan menyingkir nanti mbak", saut Papa Handra lagi, di iringi gelak tawanya.
"Iya baru ada dua juga sudah tak berkutik apalagi di tambah satu Papa, Om sama Opanya pasti terseret", sambung Mama Selina lagi.
.
__ADS_1
Hari semakin sore, "Pulang dulu aja nak Ibu gak bawain baju ganti kamu tadi, Ibu kira kamu mau pulang dulu gak langsung ke sini", ucap bu Mirah pada Seli.
Nah kan ini yang gue mau dan tunggu juga huhuhuyyy, Renaldi bersorak ria dalam hatinya.
Ini juga yang bikin Seli malas harus berduaan lagi dengan Renaldi, gak mungkin juga kalau iya minta di anterin ke Pandi, huwhhh, "Iya bu", ucap Seli pasrah.
Beralih mendekati Pandi, "Abang boleh gak pinjem mobil abang?, pelan pelan bawanya ko kan sekarang udah punya sim udah bisa bawa mobil", ucapnya melas.
"Bareng Renaldi aja kenapa?, jalannya lagi rame dek ini yang lain pada pulang kantor".
Pupus sudah harapan Seli untuk bisa bawa mobil sendiri, mau maksa bawa tapi takut gak maksa malas juga berdua di mobil dengan Renaldi, rasa kesalnya dari tadi siang masih membekas di hatinya, andai saja dari tadi siang dia ke sini mungkin bisa lebih lama mandangin keponakan barunya.
"Jangan di isengin terus Ren, kalau lu gak bikin ulah gak bakal dia minta bawa mobil sendiri", ucap Pandi menatap tajam Renaldi.
Lah gak apa apa dapat omelan dan tatapan tajam, batinnya, meskipun hatinya sudah dag dig dug merasa takut.
Huwhhh lama lama mati muda gue hampir tiap hari senam jantung terus, selorohnya, rasa takutnya tetap ada walawpun Pandi dan dirinya sering bercanda, beda kalau menyangkut orang orang kesayangan Pandi sebab dia sudah tau bagaimana Pandi kalau sudah marah.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading🖤🖤🖤