
Selesai makan Fely dan Nina memilih ke lantai atas, di lantai atas juga tidak kalah bagus karena banyak tanaman asli sehingga menambah penghijauan pandang di sana.
"Mbak tolong bawakan kita minum ya hehee maaf", Fely menyuruh karyawannya.
"Siap nona bos hahaa".
"Mbak lama lama saya lempar ini juga ya".
Fely paling tidak suka di panggil bos, menurutnya kata kata bos itu tidak enak di dengar di telinganya.
Lama Fely diam, sebenarnya ini aib rumahtangga menurutnya, tidak bagus juga di ceritakan ke orang lain tapi Fely ingin merasa lega hatinya, mungkin jika ada teman curhat akan sedikit lega bebannya.
"Nin sebenarnya gue sudah menikah", ucapan Fely terjeda sebab Nina baru mendengar kata nikah juga sudah memekik kencang.
"Hahhh lo udah nikah serius Fely".
"Ninaaa jangan kencang kencang di dengar orang", Fely membekap mulut Nina.
"Ehh sorry sumpah gue kaget tau".
"Pelankan suaramu Nin".
"Iya nih gue udah pelan, siapa suami lo yang mana?".
Fely menceritakan semua yang menurutnya masih biasa, ada juga yang Fely pendam sendiri hanya cukup dirinya yang tau dan merasakan.
__ADS_1
"Gak nyangka gue sumpah, gue kira cerita dalam kehidupan lo selalu manis dan bahagia ternyata lo juga menyimpan beban dan luka".
"Hidup gue gas semulus yang lo bayangin Nin hahahaa".
"Gue cuman bisa do'ain Fell, gue tau lo kuat", mata Nina berkaca kaca, sebagai sesama perempuan dirinya ikut perihatin dengan apa yang Fely rasakan.
"Thanks Nin lo udah mau dengarin curhatan gue, gue merasa lumayan lega sekarang".
"Lo cerita ke gue Fell meskipun gue gak bisa bantu setidaknya perasaan lo lebih lega".
"Iya Nin hehee".
Ya Allah gak nyangka banget sama Fely, dia anak yang baik juga sangat peduli pada sesama mengapa engkau memberikan cobaan yang begitu rumit, Nina merasa perihatin.
Kalau gue yng seperti Fely entah sudah seperti apa nasib pernikahannya.
"Ujian gue gak serumit ujian lo, semangat beb", memeluk Fely sebentar.
"Lah gue mah wanita kuat garis miring stlong omen bwahahaa".
"Jijik gue kalau udah dengar alay nya hahahaa".
"Dah gue balik ya".
"Ya dah hati hati Fell".
__ADS_1
Fely mengacungkan jempolnya dirinya menuruni anak tangga sambil mengotak ngatik ponselnya memesan taxi.
Fely sangat sangat kenal dengan laki laki yang berada paling sudut di kafenya itu, ada satu laki laki dan satu perempuan memang dua orang itu terlihat sibuk dengan laptopnya masing masing.
Sudahlah positif tingking saja, siapa tau kalau mereka benar hanya rekan kerja saja, batin Fely.
Masuk ke dalam taxi juga sesekali Fely melirik pada dua orang yang ada di sudut sana.
.
Sampai apartemen Fely di kagetkan dengan bekas makan yang ada di sopa ruang tengah, masuk ke dapur juga di sana cucian piring gelas numpuk.
Astagfirullohalazim, hanya bisa menguatkan dan menyabarkan diri, rasanya kali ini Fely benar benar muak kesal marah juga.
Setelah membereskan kekacawan di dapur dan ruangan tengah Fely masuk kedalam kamar mengunci diri, sengaja Fely juga mematikan lampu tengah.
Gue capek kesal, geram Fely.
Seharusnya sekarang yang Fely lakukan belajar dan terus belajar apalagi ini sudah menaiki kelas tiga, yang Fely pikirkan juga harusnya akan kuliah dimana.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤
.