ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
94.


__ADS_3

Dari hari ke hari minggupun berlalu bulan juga berganti, berjalan seperti biasanya.


Sandra yang tidak bisa jauh dari suaminya bahkan sekarang juga sampai ikut meeting dengan Pandi, meninggalkan semua pekerjaan nya, masabodolah pekerjaan.


Kadang Pandi di buat pusing dengan segala kemauan istrinya yang di luar nalar dan kadang Sandra minta yang aneh aneh juga.


Selesai meeting dengan klien Pandi langsung menghampiri istrinya yang dia lihat dari tadi tidak berhenti ngunyah, "Sayang makan ap....", ucapannya menggantung melihat tumpukan piring di depan istrinya.


"Haii by udah meeting nya?, makan dulu kamu mau pesan apa?", tanya Sandra mulutnya masih belum berhenti ngunyah, padahal ini belum waktunya makan siang baru juga jam 11.


"Heii ini semua pesannan kamu, habis di makan bareng siapa?", Pandi sampai menghitung tumpukan piring di tumpukan itu ada 7 piring, bukan lagi yang sedang di makan, iya menggelengkan kepala melihat tingkah makan istrinya yang berkali kali lipat menabah porsinya.


"Iya heheee, habisnya aku bete nungguin kamu lama banget jadinya laper, ya aku makan sendiri lah".


Astagfirullohalazim istri gue kerasukan jin apa ya, makannan segini banyak nya habis di makan sendiri, batin Pandi, "Ini semua serius habis di makan kamu sendiri?", memastikan lagi.


Sandra menatap suaminya yang berkali kali bertanya padanya, "Apa sih kamu, aku juga bakal bayar sendiri ko tenang aja kamu gak bakalan rugi", langsung menaruh garpu yang di pegang tidak menyuapkan makannan itu ke mulutnya.


Sensitif bak pan*at beby itulah Sandra sekarang, Pandi yang selalu serba salah, tidak bisa apa apa selain mengalah pada sang istri.


"Ehh gak gitu sayang, aku bakal bayarin sepuasnya kamu, makan apa aja yang kamu mau atau mau pesan semua yang di restoran ini juga gak apa apa".


Menatap sengit sang suami, "Kamu sengaja menyuruh aku makan banyak biar aku gendut, biar kamu nyari yang lain nyari yang cantik nyari yang langsing, terus kamu ninggalin aku karena gendut karena udah jelek", air matanya ikut luruh.


"Ehh sayang bukan gitu maksud aku", kelimpungan melihat istrinya yang sudah menangis.


Ya Allah serba salah banget gue, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, untung saja mereka memakai ruangan vip tidak terlihat dan terdengar orang lain.

__ADS_1


"Kamu jahat by jahat", sesegukan dengan tangis nya.


Astagfirullohalazim, astagfirulloh banyak banyak sabar Pan sabar istigfar, monolog Pandi dalam hatinya, "Sayang udah dong nangisnya ya, maaf aku gak ada maksud kaya gitu, lagian kamu kan makin seksi aku makin suka loh yang makin hot tau", bisik Pandi di kuping istrinya.


Sedetik itu pula Sandra berhenti menangis terganti dengan senyuman yang mengembang, "Serius by kamu makin suka", mukanya merah meronah di bilang semakin seksi.


"Iya sayang, kamu mau jalan kemana?, mau beli apa?, hari ini aku gak ada kerjaan ini waktunya kita sayang".


"Kamu serius sayang, ayo aku mau main air laut mau main pasir", girangnya.


Ya Allah istriku kenapa sih, kalau kaya gini terus aku merasa mempunyai adik kecil yang semua keinginnan nya di turuti, batin Pandi. Dengan langkah lebar Sandra langsung keluar menarik suaminya tanpa sabaran.


"Siap sayang, imbalannya nanti malam ya", bisik Pandi pada istrinya.


"Dengan senang hati suamiku", Sandra mencium pipi suaminya.


.


Pandi yang melihat istrinya bahagia iya tak tega mengganggunya, cukup memantau dan mengabadikan di setiap kesempatan.


Hampir saja lupa dengan adiknya yang harus di jemput pulang sekolah, menyambungkan tlpon ke Renaldi agar menjemput Seli dari sekolah.


"Hallo Ren".


"Iya ada apa?".


"Tolong jemput Seli di sekolah kali ini saja", ucap Pandi memohon, sebab dari semenjak patah hati Renaldi tidak penah menampakan batang hidungnya lagi di depan Seli.

__ADS_1


Sudah hampir 5 bulan juga Renaldi berusaha membuang jauh jauh perasaan nya, memilih menyibukan diri dengan membuka kafe kecil di tengah ramainya kota, siang kerja malam juga kerja, begitulah Renaldi yang sedang berusaha keras melupakan wanita pujaan hatinya.


"Ya gue jemput", pasrahnya, langsung mematikan tlpon, mengusap wajah dengan kasar.


Ya Allah bisa gue pasti bisa, ayo Ren semangat buang jauh jauh perasaan ini, entah lah semakin berusaha untuk lupa namun hatinya semakin mencleos sakit perih.


Bangkit dari duduknya menyambar kunci mobil dan jas nya yang menggantung di kursi kerja, berjalan dengan tegap terkesan dingin.


Sampai sekolah juga Renaldi tidak keluar mobil sama sekali bahkan mobilnya juga iya biarkan terus menyala.


Mengirim pesan pada Pandi agar memberi tahu Seli bahwa dirinya yang menjemput kali ini, takutnya Seli tidak keluar mencari mobilnya Renaldi malas untuk keluar dari mobil.


12 menit menunggu akhirnya yang di tunggu datang ke samping mobilnya dengan wajah menunduk, Seli masuk ke dalam mobil Renaldi mengucapkan dalam, Renaldi yang tanpa banyak kata kali ini dia hanya diam saja, tanpa menoleh juga selama dalam perjalannan.


Selama hampir 30 menit di perjalannan akhirnya mereka sampai, sampai detik ini juga Renaldi mengunci mulutnya, aura dingin juga terpancar dari wajahnya.


.


.


.


Happy reading,🖤🖤🖤 huhuww jangan lupa like ya teman teman, terimakasih buat yang selalu setia nungguin karya Utor.


❤❤❤Minal Aidin, mohon maaf lahir batin teman teman, Masya Allah ya bulan Ramadan rasanya waktu ini brasa begitu cepat.😍


Utor nya lagi pulkam, susah untuk up di karenakan signal nya tidak mendukung🙏

__ADS_1


__ADS_2