
Cantik satu kata yang ada dalam hati Pandi juga, melirik wanita yang ada di sebelahnya.
"Maaaa ngeselin deh", Sandra sedang malu malu meong, menyembunyikan wajahnya di balik bantal sopa.
"Sandra gak mau ngobrol nih sama kakak barunya", tanya Papa Handra.
"Anak gadis kita ternyata punya rasa malu juga ya Pa", ucapan Mama Selina sungguh membuat Sandra semakin malu.
"Iya kaya Mama dulu", ucap Papa Handra lagi, jadinya mereka tertawa.
Pandi hanya senyum senyum melihat keharmonisan keluarga ini. Andai saja Bapak masih ada, ahhh sudah lah bapak sudah bahagia sudah tidak sakit sakit lagi, gue harus ikhlas ada Ibu dan Seli yang harus gue bahagiain.
"Ayo kita makan dulu yuk", ajak Mama Selina.
"Iya ayo, sayang ayo jangan di tekuk terus mukanya, Pandi ayo makan dulu nanti lagi kita ngobrolnya", ajak Papa Handra.
Pandi dan Sandra bangkit dari duduknya, Sandra yang sedikit melamun dan menunduk jalannya menabrak Pandi yang ada di depannya.
"Awww sakit banget, badan apa besi sih", gerutu Sandra.
"Jalannya liat liat", ucap Pandi.
"Dih yang salah siapa yang di salahin siapa, udah sakit jidat di salahin lagi, nyebelin banget".
"Iya Maaf, Pandi mengusap jidat Sandra", sumpah demi apa jantung Sandra tidak aman, Mamaaaa lembut dan hangat banget ni tangan cowok, batin Sandra menjerit.
__ADS_1
"Ayo jalan, udah laper nih", untuk menetralkan rasa gugup nya Sandra mendorong tubuh kekar Pandi.
"Wahhh udah ada yang akrab aja ni Pa", canda Mama Selina.
"Iya biarin Ma biar akrab kan sekarang sudah jadi kakak adik", ucap Papa Handra lagi.
Ingat Pan hanya kakak adik Pan jangan berharap lebih, Pandi membentengi perasaan dirinya sendiri, tidak mau mengecewakan kepercayaan Papa Handra pada dirinya. Kalau boleh jujur Pandi terpesona pada pandangan pertama. Namun dia juga harus tau diri dia siapa bisa apa.
"Bisa gak sih gak ngeledek anaknya", ucap Sandra, bukan apa apa dia merasa sangat malu.
Akhirnya setelah ada perdebatan dan percekcokan manjah, mereka makan dengan tanpa ada suara pokus pada makannannya masing masing.
Selesai makan Pandi dan Papa Handra sedikit mengobrol tentang pekerjaan. Setelah kurang lebih ngobrol 1 jam, mereka Keluar dari ruang kerja sambil terus mengobrol.
"Sekarang jangan sungkan ya Pan kalau di luar kerjaan atau sedang kita berdua panggilnya Papa", ucap Papa Handra.
"Iya Pa, Terimakasih banyak ya Pa, Papa sekeluarga sudah mau menerima saya dengan baik", meski sedikit rasa gerogi Pandi memanggil Pak Handra dengan sebutan Papa namun sekarang harus di biasakan.
"Ada apa apa bilang sama Papa, sekarang kamu anak Papa juga, nanti kalau ada waktu kita sempatkan berkunjung ke rumah kamu yang di kampung".
"Iya Pa", rasa haru dan bahagia Pandi tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata. Entah mimpi apa dia bisa mempunyai keluarga di kota orang bahkan tidak ada ikatan darah sedikitpun.
"Aku pulang dulu Pa", pamit Pandi.
"Mau nginap di sini juga tidak apa apa", ucap Mama Selina yang melewati mereka berdua.
__ADS_1
"Nanti saja Ma, ini gak bawa apa apa besok kerja", tolak Pandi dengan halus.
"Yaudah hati hati di jalan ya, jangan ngebut bawa motornya, mana nomer tlpon kamu?, tlpon Mama kalau sudah sampe sana", mode emak emak kumat.
"Hati hati Pan, bawelnya gak ketulungan", ucap Papa Handra, namun dia dapt pelotottan dari istrinya.
Bukan risih atau marah di bawelin Pandi malah makin senang, merasa di anggap ada, merasa di sayangi.
"Yaudah Ma Pa Pandi pamit ya, Assalamua'laikum", salam Pandi.
"Iya hati hati, walaikum salam", ucap Papa Handra.
"Hati hati jangan ngebut bawa motornya, sampe langsung kabarin Mama, sering sering ke sini, jangan begadang", cerocos Mama Selina.
Pandi hanya terkekeh sambil mengangguk...
•
•
•
•
🖤🖤🖤
__ADS_1
jangan lupa like ya, Terimakasih😘🙏