ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
31. Cemburu Ternyata


__ADS_3

Siapa ya? cantik juga sih, gak heran emang pasti banyak yang ngejar juga.


"Gak jadi nih", Sandra menyodorkan ponsel itu lagi ke pemiliknya.


"Taro di situ", tangannya sedang sibuk mengotak ngatik keyboard laptop.


Dengan sengaja Sandra menaruh pnsel itu di atas keyboard laptop yang sedang Pandi gunakan. Membuat Pandi menyengit melihat sekilas fotonya dengan wanita.


Foto siapa ya?, Pandi bertanya tanya pada dirinya sendiri, mau melihatnya namun sedang tanggung hanya beberapa ketikan lagi dia harus segera mengirimkan data itu ke Papa Handra.


Sandra sudah menghentak hentakan kakinya, membantingkan badan di sopa, marah tapi mau marahnya ke siapa, toh Pandinya juga tidak pernah mengungkapkan perasaan padanya.


Sopa kecil itu tidak bisa membuat Sandra leluasa membolak balikan badannya semakin membuatnya menggerutu.


Selesai mengirimkan file, Pandi langsung melihat ponselnya, jujur itu juga membuat Pandi kaget, pikirnya, dari mana wanita itu mendapatkan nomer tlpon nya, narsis lagi ngepap dengan percaya dirinya.


Cek bikin masalah mulu ni wanita, Pandi menggeleng. Melihat ke arah Sandra yang seperti cacing kepanasan tidak bisa diam.


Pantas saja tidak jadi meminjam ponselnya, ternyata gara gara Melisa mengirimkan 2 foto, satunya Melisa sedang di perpustakaan dan ada Pandi juga di belakangnya yang sedang serius membaca buku, kalau di liat liat memang percis banget foto mereka berdua itu terkesan sangat dekat dan satunya lagi Melisa sedang makan di lestoran, lengkap dengan pesan yang wanita itu kirimkan, (aku lagi makan, kamu juga jangan lupa makan ya 😍).


Bagi Pandi itu hal yang biasa toh dia juga tidak mempunyai perasaan sama wanita itu. Bukan hanya sekali dua kali Pandi mendapatkan nomer baru yang tidak jelas seperti itu, entah dia juga tidak tau darimana mereka mendapatkan nomer tlpon nya.


Memilih melanjutkan pekerjaan nya, karena sangat banyak sekali dia hari ini tidak bisa lembur harus mengantarkan Sandra.


Memang Pandi itu tidak peka sama sekali, iya bagi dia mah hal yang biasa tapi beda dengan Sandra dong, bolot banget emang kalau masalah percintaan mah, tidak pernah mengerti bagaimana hati perempuan.


Sandra memilih tidur, kepalanya pening udah banyak nangis banyak marah dan banyak sekali yang mengganggu pikirannya. Pandi membiarkan gadis itu tertidur.


Tidak terasa waktu sudah sore, Pandi menyudahi pekerjaan nya, bangit dari kursi kerjanya niat membangunkan Sandra.


Pas memegang tangan gadis itu terasa hangat tangan nya, melihat tangan kirinya lagi ada sedikit memar. Bodoh banget sih gue bodoh ngebiarin dia begitu saja, ternyata tangan nya memar gara gara tadi, badan nya juga anget.


"Bangun yuk pulang", Pandi mengusap pipi Sandra untuk membangunkan gadis itu.

__ADS_1


"Iya", dengan malas Sandra duduk.


"Kenapa gak bilang ini tangan begini, sakit gak?", tanya Pandi.


"Sakit tangan gak seberapa gak sesakit hati", sarkas Sandra.


"Kenapa ngomongnya begitu sih, obatin dulu sini tangan nya", Pandi mengobati tangan Sandra mengunakan salep.


"Pikir saja sendiri".


"Jangan suka menyuruh orang untuk berpikir lebih keras, lagian apa susahnya tinggal bilang langsung biar cepet selesai, mau masalah atau apapun itu".


"Perempuan tadi siapa?, ohh iya aku tau sekarang kenapa kamu gak nerima aku karena kamu mempunyai yang lebih cantik dan modis".


"Apasih ngomong kaya gitu, perempuan yang mana?".


"Udah ah malas ngomong sama orang gak peka".


"Kalau ngomong jangan suka setengah setengah SANDRA SELIANA WINATA sudah ku katakan aku bukan tuhan yang tau segala isi hati manusia", tekan Pandi.


"Dia bukan siapa siapa, kamu liat sendiri kan nomernya baru berarti aku tidak dekat dengan wanita itu", dalam hati Pandi bersorak ria, cemburu ternyata, pantas saja tidak jadi meminjam ponselku.


"Bohong, manamungkin gak dekat, sampai di perpus juga berdua".


"Perpus kan tempat umum, dan aku juga gak tau kalau tadi ada dia di perpus itu".


"Tau ah gak meyakinkan banget ucapan nya", Sandra merebahkan tubuhnya lagi di sopa, dia merasa kepalanya pening.


"Harus gimana sih ngejelasin ke kamu", bingung Pandi. "Pulang yuk sudah sore".


"Kepalaku sakit".


"Makannya jangan terlalu memikirkan yang belum tentu itu adalah kenyataan, kita pulang istirahatnya di rumah saja", Pandi mengelus kepala Sandra.

__ADS_1


Dengan malas Sandra berdiri, hampir saja terhuyun kalau Pandi tidak sigap menangkap nya.


"Kenapa hemm pusing?", membawa Sandra duduk lagi. Sandra hanya mengangguk.


"Siang tadi sudah makan belum?", tanya Pandi lagi. Dan di jawab gelengan lagi oleh Sandra.


"Mau bubur tawan?, jam segini pasti buka, kemaren kan aku gak nurutin kemauan kamu karena belum buka".


"Iya mau", Sandra antusias.


"Tunggu aku pesan dulu", Pandi ikut duduk juga di sopa itu. Membawa Sandra untuk menyandar padanya.


Sandra mendongak tersenyum, perlakuan seperti ini yang dia mau dari Pandi.


"Terimakasih abang", Sandra memeluk Pandi dari samping.


"Hemm", sambil terus mengelus punggung Sandra dengan satu tangan nya, satunya lagi dia gunakan untuk memainkan ponselnya.


Menunggu 20 menit pesannan Pandi datang, Pandi sendiri yang mengambilnya ke bawah, selagi masih bisa sendiri Pandi tidak pernah memerintah orang lain meskipun jabatan dia sekarang sudah tinggi.


"Makan dulu, habis itu minum obat", menyodorkan bubur.


"Suapin", rengek Sandra dengan manja.


Pandi menurut saja dia menyuapi Sandra dengan telaten.





🖤🖤🖤

__ADS_1


Happy reading😘


__ADS_2