ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
011.


__ADS_3

Minggu berganti bulanpun berlalu tidak ada perubahan dalam rumahtangga Fely dan Rafael, Rafael sangat apik menutupi kelakuannya dari sang mertua, pernah sekali mereka kumpul bersama, di hadapan orang tua mereka terlihat biasa biasa saja seperti pasangan muda pada umumnya.


Fely sudah kenaikan kelas tiga bulan yang lalu dirinya sekarang kelas tiga, Rafael jarang di apartemen entah tidur dimana dan pergi kemana Fely juga tidak tau.


Setiap waktu Fely selalu berdo'a agar mempunyai hubungan baik dan menjalin rumah tangga yang utuh.


Pernah sekali Fely bertanya karena melihat suaminya membawa koper besar, jawabab Rafael pergi untuk kerja, Mami Lily juga mengatakan padanya kalau harus sabar menunggu Rafael 3 minggu mengurus pekerjaan di sana.


Malam ini malam yang seperti biasa Fely sendiri di dalam apartemen mewah di temani dengan kesunyian.


Jam sudah menunjukan angka 1 tengah malam karena haus habis melanjutkan kerjaan mengisi tugas sekolah juga membuat makalah, dengan santainya Fely pergi ke dapur untuk mengambil minum hanya menggunakan daster tipis tanpa lengan dan sepaha.


Fely tidak tau kalau ada orang di sana karena sudah hampir 1 bulan juga dirinya sendiri tanpa tau dimana suami.


Rafael yang sedang mabuk bak gayung bersambut melihat pemandangan indah melewatinya.


Rafael langsung membopong Fely dengan sempoyongan masuk ke dalam kamarnya.


"Kak plis turunkan aku", berontak Fely.


"Tidak sayang kali ini saja", langsung menyambar bibir Fely dengan paksa.

__ADS_1


Fely yang mendapat serangan mendadak sangat kaget juga takut, mungkin kalau Rafael memintanya dengan baik baik akan Fely serahkan ya memang dalam dirinya ada hak suami.


"Kak lepaskan aku plis aku mohon jangan seperti ini", Fely menangis dalam kungkungan Rafael.


Rafael seolah tuli tanpa mengindahkan ucapan Fely dirinya terus saja mencumbu di segala arah titik lemah seorang wanita.


"Akhhhh kau nimkat sekali ternyata", Rafael menggerang nikmat.


Sedangkan Fely merasa kepunyaan nya di sobek paksa, sakit perih mengganjal tidak enak di inti tubuhnya.


"Kak sakit", jerit Fely.


Masabodo Rafael tetap pokus dengan tujuannya, tangan dan bibirnya tidak tinggal diam.


"Aku benci kakak aku benci", ucap Fely lemah.


"Terserah kau mau membenciku atau tidak yang penting kita halal melakukannya".


Rafael ambruk di atas tubuh Fely, dari mabuk sampai kesadaranya penuh, sangat di sayangkan jika berhenti menikmati tubuh Fely.


Belum pernah mendapatkan yang ori sekalinya ori istri sendiri.

__ADS_1


Fely tertidur saking lelahnya menangis, lelah dengan perlakuan Rafael pada tubuhnya.


.


.


Jam 10 siang barulah Fely membuka matanya, badan terasa remuk tidak bertulang, Rafael sudah pergi entah kemana.


Fely hanya bisa menangisi nasibnya, rasa benci juga menguasai hatinya.


Andai, andai Fely hanya berandai andai, andai saja Rafael memitanya dengan tidak paksa mungkin dirinya akan dengan ikhlas memberikan yang memang sudah haknya.


Fely bangun dengan susah payah berjalan menuju kamarnya.


Selesai mandi langsung membuat makan untuk dirinya sendiri, selesai makan Fely berniat pergi ke kafe untuk menghilangkan rasa benci dan marah yang menguasainya.


Tahan Fell ayo gak apa apa kan dia suamimu, dia berhak atasmu, sepersekian detik juga Fely mengingat bagaimana kalau dirinya hamil punya anak, gimana nanti sekolahnya, aku harus apa harus gimana, tidak mungkin melanjutkan sekolah dengan keadaan perut sudah buncit.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2