
2 hari ini Rafael tidak menemui Dava sebab kesehatannya sedang menurun bahkan untuk bangun saja rasanya sangat susah.
Merasa hidup benar benar tidak berguna seharusnya dirinya sehat agar terus bisa menyenangkan Dava dan selalu dekat dengan Dava.
"Ada apa?, mau kemana?", tanya Randa.
"Gue udah gak guna banget hidup ya, huwhhhh", membuang napas dengan kasar.
"Berhenti menyalahkan diri sendiri, ayo bangkit lagi mana Rafael yang dulu".
"Jiwa Rafael yang dulu bahkan sudah mati".
Randa merasa sangat perihatin melihat Rafael yang sekarang, sudah 2 hari sakit namun tidak ada satu orang pun di antara keluarganya yang sangat besar itu menanyakan bagaimana kabar dirinya.
Hanya Randa dan tetap Randa yang selalu ada di sampingnya, Rafael tetap kekeh tidak mau di rawat di rumah sakit, padahal tadi malam sempat tidak sadarkan diri.
"Makan dulu", Randa langsung siap untuk menyuapi bos sekaligus kakak angkatnya ini.
"Jauhkan makannan tidak ada rasa itu Ran, lidahku tidak bisa menerima itu".
"Mau makan apa?", Randa masih sabar menghadapi manusia yang sedang terbaring lemah tidak berdaya ini, hanya mulutnya saja yang masih kuat bicara.
"Entah lah".
"Makan ini dulu sedikit terus minum obat, nanti akan ku carikan mau makannan apa, ingat Dava masih membutuhkan Papinya".
Rafael tersenyum getir, tuhan benar benar terus menerus menghukumnya tanpa henti.
"Ada pesan baru dari Nenek nih".
"Apa katanya?", lagi lagi hanya neneknya yang tidak pernah absen mengirimkan pesan padanya.
__ADS_1
"Besok di suruh datang dan makan malam bersama".
"Balas, akan di usahakan gitu".
.
.
Sedangkan di tempat lain lebih tepatnya di dapur.
"El tidak ke sini lagi kak sudah dua hari kemana dia", tanya Mama Sandra.
"Sibuk kali Mah, biarkan saja nanti juga jika ingat anak nya akan datang".
"Kamu masih belum bicara dengannya kak?".
Fely menggeleng, harus mulai dari mana bicaranya mereka, harus apa dulu yang mereka bahas, harus menyelesaikan masalah yang mana dulu.
"Ya Allah sayang mau sampai kapan, Mama lihat dia selalu berusaha menunjukan yang terbaik dan selalu mencari topik agar kamu mau bicara dengannya".
"Bingung Mah".
"Apa Mama harus turun tangan".
"Jangan Mah aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri tapi memang butuh waktu".
"Masih belum cukup lebih dari 6 tahun waktu kamu berpikir, mau nunggu berapa tahun lagi kak?, Mama tau kamu pintar dalam segala hal tapi hanya satu kebodohan kamu yaitu tidak bisa menempatkan dan meyakinkan hati kamu sendiri".
"Mahhhh", Fely memeluk Mama Sandra, setetes air matanya menetes.
Fely juga tersiksa dengan semua ini, berusaha untuk kuat tegar dan terlihat biasa saja di hadapan orang itu sangat susah.
__ADS_1
Perlakuan dan perkataan Rafael dulu selalu melekat di dalam otak dan hatinya, tidak semudah yang para reader bayangkan untuk memaafkan itu semua, sebab hanya Fely yang merasakan begitu tajamnya perkataan demi perkataan Rafael dulu, yang paling parah lagi di perkosa oleh suami sendiri itu yang selalu melekat dalam otak Fely, jika dulu Rafael memintanya dengan baik baik mungkin tidak sesakit ini hatinya.
"Anak Mama sudah dewasa sekarang bahkan sudah punya anak, Mama tau kamu pasti bisa membuat keputusan yang benar, dukungan Mama akan selalu ada untuk anak anak Mama".
"Terimakasih Mah, akan aku pikirkan lagi".
"Dava tidak menanyakan Papinya kemana sekarang".
"Tadi nangis mau sama Papi, aku tidak ada nomer ponselnya Mah jadi tidak bisa menghubunginya".
"Ya Allah kak", Mama Sandra menepuk jidatnya, "Ini cepat hubungi bilang kalau anaknya nangis mencarinya".
Fely berusaha menurunkan ego nya demi anak, apapun akan di lakukan dan di korbankan untuk Dava.
Memasukan nomer ponsel Rafael ke ponselnya, "Udah Mah, terimakasih sudah selalu ada dan selalu mengerti sikap aku yang selalu kekanak kanakkan ini, maaf selalu merepotkan Mama sama Papa".
"Seorang ibu tidak pernah merasa di repotkan oleh anak anaknya, apapun akan Mama berika untuk kalian untuk kebahagiaan kalian".
"Yaudah Mah aku ke kamar dulu", Fely berlalu sambil membawa gelas susu yang dirinya buat untuk Dava.
Mama Sandra mengangguk, dirinya mengerti anaknya sedang di ambang kebingungan sekarang, tapi kalau terus di biarkan akan sampai kapan.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1