ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
028.


__ADS_3

Di hotel yang biasa Rafael tempati jika sedang berada di Lombok, setelah sampai sana langsung membersihkan badan yang sangat lelah, lelah jiwa dan raganya.


Randa juga sedang di perjalannan karena mendapat tlpon dari bos nya yang katanya sangat penting, meskipun sambil kalangkabut namanya juga asisten yang kerja 24 jam mengabdi pada sang bos mau marah juga tidak bisa toh gajinya yqng bicara.


Setelah mandi saking lelahnya Rafael membaringkan badan di atas kasur, menatap langit langit yang seolah sedang menertawakan dirinya juga.


Hatinya mencleos lagi mengingat semua kejadian hari ini, kejadian yang tidak pernah dirinya duga dan sangka.


Benar seorang Pandi tidak bisa di remehkan dan tidak bisa di tebak sama sekali trik pikirannya, ternyata Fely tidak di larikan keluar negri tapi akses Rafael ke semua negara di blokir.


Memejamkan mata agar semeraut pikirannya ini sedikit lebih tenang, baru saja sepersekian detik mata terpejam bayang bayang bayi mungil dan masih merah namun sangat terlihat tampan meskipun masih terlihat merah.


"Kamu kekuatan Papi sayang meskipun kita jauh", cih ketidak bergunaan nya Rafael sampai sampai nama anak sendiri juga tidak tau, tidak sempat dirinya tanyakan tidak sempat dirinya memberi nama, ya Allah sesak lagi dan lagi dadanya.


.


Randa datang dengan terburu buru, karena sudah tau pasti di mana bos nya sekarang, dirinya langsung naik lift menuju lantai 21.

__ADS_1


Mengetuk pintu, menekan bell berkali kali naum tidak kunjung di buka kan pintunya, tidak terdengar sautan juga dari dalam, haihh membuat Randa sedikit panik.


Baru saja berbalik badan untuk meminta kunci lain, ternyata pintu terbuka menampilkan penampilan yang sangat acak acakan, hanya pakai handuk rambut terlihat berantakan tidak memakai sandal juga yang tidak biasanya laki laki itu lakukan.


"Ran sudah datang ayo masuk", ucapnya dingin.


Cih benar benar Randa merasa seorang ****** yang mau menjual diri, di ajak masuk ke dalam kamar oleh orang yang sedang bertelanjang dada.


"Ada apa memanggil saya pak?", tanya Randa to the point, sepertinya bos nya ini lebih dari tidak baik baik saja, tapi Randa tidak berani bertanya nanti dia akan cari tau sendiri.


Namun Rafael lebih ke memakai bajunya terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi.


Sekarang Rafael hanya ingin mencari ketenangan diri, soal harta warisan untuk anak semata wayangnya sudah di pikirkan dan sudah dirinya siapkan, uang yang ada di dompet yang Rafael berikan kepada Fely juga akan cukup untuk menghidupi biaya sampai anak itu kuliah dan mungkin sampai anaknya punya anak lagi, ada 7 kartu di sana, salah satunya black card hasil kerja kerasnya selama ini.


"Ran saya titip perusahaan ke kamu entah sampai kapan batas waktunya".


"Pak jangan bercanda perusahaan anda bukan sebuah perusahaan abal abal dan tidak sedikit".

__ADS_1


"Saya juga kerja dan akan terus membantu kamu hanya saja tidak di negara ini lagi".


"Pak Rafael lebih baik anda pikirkan lagi 1000x", mengurus perusahaan besar tidak mudah bahkan biasa dengan Rafael juga sering ke teteran.


"Ya ini hasil pemikiran saya, carilah orang yang bisa kamu ajak kerja sama dan bisa membantu kamu, rekut orang orang terbaik yang ada di kantor pusat agar mereka bisa membantu kamu".


"Tidak bisa secepat ini pak, kita tidak tau isi hati manusia".


"Pelan pelan Ran, kamu pasti bisa, malam ini juga saya akan berangkat ke sana".


Astagfirulloh Randa benar benar merasa di suapi biji besar yang sangat gede dan seret juga pait di tenggorokannya, terkejut ini bukan tanggung jawab kecil untuknya.


Rafael menepuk bahu Randa berkali kali, "Kamu bisa Ran saya yakin, secepatnya carilah pendamping hidup yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan kamu, jangan menjadi laki laki bodoh seperti saya, cukup saya yang bodoh di dunia ini.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2