ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
046.


__ADS_3

Selama dalam perjalannan menuju rumah sakit hati Fely tidak tenang sama sekali, malunya benar benar terasa banget.


Sudah pasti malu Fely seperti masih perawan walawpun sudah punya anak 1, hanya Rafael yang bisa memegang dirinya, bahkan hanya Rafael yang sudah memeluknya selain Papa dan adik adiknya.


Turun dari mobil juga berjalan pelan, "Mami ayo", Dava yang merasa jalan seperti siput kebingungan.


"Iya ayo sayang".


Gila kak gue benar benar malu sama elo, mamaaa mau pulang aja.


Keluar dari lift Fely menunjukan kamar yang di tempati Rafael, "Dav itu kamar Papi masuk duluan ya, Mami mau ke bawah sebentar ada urusan".


"Oke Mih".


Fely memperhatikan anak nya sampai masuk, dirinya benar benar bingung, "Sumpah gue malu banget ketemu dia, ya Allah huhuuuw".


"Papii Assalamualaikum".


Rafael langsung terduduk menyambut anaknya dengan senyuman mengembang.


"Hai jagoan Papi, Walaikum salam sayang, sini naik Mami mana?".


"Mami ada urusan sebentar katanya Pih, turun dulu ke bawah".


Cih Rafael gak percaya urusan apa yang Fely urus.


"Oyah, peluk Papi sini sayang".


Dava langsung naik dan memeluk Papi nya.


"Papi kenapa sakit", tanya anak itu sendu.


Allah ternyata mencari waktu yang tepat untuk bisa membuatku benar benar sadar dan berkumpul lagi dengan keluarga kecilku.


"Hanya sebentar sayang, maafkan Papi yang jarang ada waktu untuk kamu ya", menatap lekat anaknnya.


"Papi terhebat ko".


Dava banyak cerita ke Papinya tentang sekolah dan tentang kesehariannya, sudah mau 1 jam Fely masih belum masuk ke ruangan itu.


Dava bahkan sudah tertidur karena memang waktunya anak itu tidur siang.


Cih dia pasti malu sama gue makanya tidak mau masuk, Rafael tersenyum geli mengingat kejadian tadi.


📩 "Sayang dimana?".


📩 "Cepat masuk Dava sudah tidur Mih".


📩 "Sayang kakak tau kamu sebenarnya tidak ada urusan apa apa, cepat masuk".


📩 "Felysia istriku cintaku cepat sini masuk tangan kakak pegal di tidurin Dava sayang".


📩 "Sayangg❤❤❤".


Hiahhhh Fely benar benar bingung, akhhh bodo amat dengan rasa malu ini, batinnya.


Dengan cepat Fely masuk ke ruangan Rafael, "Ada apa?".


Santai Fell ayo santai, Fely duduk di sopa.


"Duduk sini sayang".


"Aku di sini aja".


Huwhhh Rafael menaruh kepala Dava dengan pelan, mengambil tiang botol impusnya.

__ADS_1


Fely masih pokus ke ponselnya tidak mengetahui kalau Rafael sudah berdiri di dekatnya.


"Sedang apa hmm?".


Fely mendongak kaget, "Haihh ngagetin aja".


Duduk di samping Fely tapi Fely malah sedikit menjauh dan matanya langsung pokus ke ponsel lagi.


Rafael diam menyandarkan punggungnya di sopa itu, kepalanya masih sedikit terasa pusing.


Lama tidak ada obrolan di antara mereka, Rafael tidak mau mengganggu dia tau kalau Fely sedang kerja.


1 jam lebih hanya saling diam saja, lama lama merasa bosan juga di acuhkan.


Merebahkan badan menaruh kepala di pangkuan Fely.


Fely merasa gelisah, gila gue bisa gila kalau kaya gini terus jantung gak aman, batinnya, "Kak jangan kaya gini".


Muka Rafael bahkan sudah menghadap perut, sesekali mengendus bau badan wanita nya.


"Geli kak sumpah".


"Love you sayang", mendongak dan tersenyum.


"Hihh lagi sakit juga".


"Sudah sembuh, obatnya kan kamu", memeluk pinggang dengan sebelah tangan, menelusupkan muka menghirup dalam dalam, nyaman yang Rafael rasakan.


"Geli kak".


"Wangi banget kamu dek".


"Kak tangan nya hihh geli".


"Pelankan suaranya nanti Dava bangun", tangan Rafael masih asik mengelus punggung.


"Kamu itu bawa apa?".


Astaga gue lupa kalau belum makan siang, haihhh ko bisa ya.


"Astagfirlloh kak aku lupa".


Rafael menyengit bingung.


"Makan siang buat kakak, Mama sama Papa nanti sore mau kesini katanya".


"Gak usah repot repot kasian Papa capek pulang kerja".


"Ke aku gak kasian baru pulang sebentar udah di suruh balik lagi".


"Maaf", ucapnya menunduk.


Terlalu bahagia mungkin, jadinya posesif selalu ingin dekat bahkan jauh sedikitpun rasanya tidak mau.


"Makan dulu, udah apasih gitu doang cepet banget melow nya".


"Maaf aku yang terlalu posesif terhadapmu, mungkin kamu tidak nyaman dengan keadaan sekarang".


Haihh geli sendiri melihat Rafael yang seolah tidak berdaya.


"Kak apa sih, makan dulu jadi lupa kan belum minum obat juga".


Fely menyuapi Rafael, yang namanya sedang sakit makannan mau se enak apapun tetap saja tidak enak di lidahnya.


Bahkan baru beberapa sendok sudah kenyang, "Kenyang dek".

__ADS_1


"Baru sedikit".


Rafael menggeleng, minum langsung mengambil obat sendiri.


Biasanya juga sakit, makan dan minum obat sendiri tanpa ada campuran tangan orang lain.


"Sini aku bukain".


"Tidak usah bisa sayang, istiraha saja mau tidur silahkan".


"Kak ko gini sih kenapa?".


Tersenyum dan menggeleng, "Tidak kenapa napa".


"Kenapa mukanya kaya gitu".


"Tidak ada sayang, aku sedang bahagia karena do'aku selama ini Allah dengar dan aku bisa kumpul dengan anak istri, meskipun masih harus terpisah beberapa saat".


Fely terkekeh melihat air mata Rafael yang sudah meluncur dari pelupuk matanya.


"Ko jadi cengeng sejak kapan?, kan biasanya garang".


"Sejak kamu pergi meninggalkanku".


"Kakak juga sama kenapa pergi meninggalkan kami".


"Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan kamu apalagi setelah melahirkan anakku, lebih baik aku yang menderita".


"Kamu salah kak, impianku kakak datang membawa bunga untukku yang baru saja melahirkan, kakak berusaha membujuk aku dengan cara apapun, memberikan perhatian tapi malah pegi dan menghilang bak di telan bumi, jahat sekali", lagi lagi Fely memukul tangan Rafael yang tidak ada selang impus nya.


"Maaf sayang, dulu aku takut semakin di benci takut kamu malah tidak mengijinkan aku bertemu lagi dengan kalian lagi".


"Udahan nangisnya ih", Fely mengusap air mata yang memenuhi pipi Rafael.


"Love you sayang, kakak mencintaimu dek bodohnya perasaan ini kakak sadari setelah kamu pergi meninggalkan kakak".


"Cepet sembuh makanya".


"Sekarang juga sudah sembuh, kamu obat dari segala obat sayang".


"Hadiah buat aku apa nih".


"Nyawa dan semua yang ada di hidupku untuk kamu".


"Awww manis amat pak kata katanya".


Mereka saling menatap dalam dan saling tersenyum, entah siapa yang duluan memulai sama sama terbawa suasana, kedua bibir itu tertaut, Fely yang masih kaku tidak bergerak, kalau Rafael jangan di tanya bahkan dari dulu pemain handal.


Ciuman rindu dan cinta seakan tidak mau terlepas Rafael benar benar menguasai permainnan itu.


Di rasa Fely yang mati kutu dan tidak bernapas dengan berat hati melepaskannya.


"Napas sayang", menyatukan keningnya dengan Fely.


Setelah sadar Fely sampi memegang dadanya karena hampir kehabisan napas.


"Maaf", mengelus pipi Fely dengan lembut.


Fely hanya bisa mengangguk, memeluk Rafael menyembunyikan wajahnya, lagi lagi dirinya malu.


Rafael terkekeh merasakan degupan jantuk Fely yang sangat kencang, "Gue akui sekarang gue manusia paling beruntung di muka bumi ini karena di cintainya dengan tulus", batinnya.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading❤❤❤


__ADS_2