ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
121.


__ADS_3

Kemarin dokter tidak langsung mengijinkan dirinya pulang karena masih memrlukan banyak pengobatan.


Hari ini dirinya baru di perbolehkan pulang meskipun dengan paksaan.


Sampai ke rumah siang hari, Pandi berjalan seperti biasa, perutnya agak sedikit ngilu, baru saja masuk ke rumah itu sudah di tatap oleh 4 perempuan.


Hiyaa gue lupa kalau ada 5 bidadari nungguin di rumah, terkekeh dalam batinnya.


"Assalamua'alaikum", ucap Pandi.


Dan dengan serempak 4 wanita yang ada di sana menjawab salam nya, berbeda dengan gadis kecilnya yang masih mungil dan masih sedikit terlihat merah, anteng memainkan tangannya sendiri.


Bukan istrinya yang pertama bertanya, "Dari mana nak kerja sampai segitunya sampai lupa ngabarin istri dan anak di rumah", ucap bu Mirah dengan lembut namun sedikit menusuk kata katanya.


"Nanti akan Pandi jelaskan semuanya ya, Pandi mau mandi dulu kotor, tunggu sebentar di sini", niat hati ingin menutupi semuanya dari keluarga, apalah daya jika di tanya oleh perempuan berwajah teduh nan lembut dirinya tidak bisa bohong.


Setelah mandi dan segar, meskipun tidak mandi seperti biasanya Pandi turun lagi ke bawah.


Sandra langsung memeluknya dengan erat, Pandi meringis kesakitan, "Sayang tolong pelan saja peluknya ya", ucap Pandi bahkan keringat di dahinya sudah mulai turun menahan nyeri dan ngilu yang luar biasa.


"Kamu kenapa?", bingung Sandra biasanya juga Pandi yang memeluk erat dirinya.


Detik itu juga Pandi menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.

__ADS_1


Bu Mirah menangis sejadi jadinya, mengapa dirinya mempunyai saudara bisa sekejam itu, padahal selama ini iya merasa tidak pernah menyentil atawpun merugikan orang sedikitpun.


Sandra merasa bersalah dirinya kemarin sempat berpikiran buruk kepada suaminya. Ternyata Pandi bahkan hampir kehilangan nyawanya.


Bahkan ke empat perempuan itu menangis masal, mereka tidak tau kalau Pandi sampai di oprasi segala.


Setelah menceritakan semuanya kepada keluarganya Pandi kembali istirahat di kamarnya di temani Sandra dan Fely.


"Anak Papa, kangen ya sayang", Pandi menghujani anaknya dengan ciuman, dirinya juga merasakan kerinduan itu.


"Kangen dong pah, Papa perutnya cepet sembuh ya", ucap Sandra dengan suara kecilnya.


"Besok juga Papa sudah bisa maraton sayang", ucap Pandi sambil terkekeh.


"Pah", ucap Sandra sambil mendelik.


"Apa sayang, sini pindah ke sampingku".


Dengan malas Sandra mengikuti suruhan suaminya, "Ada apa?".


"Peluk Mah tapi jangan kenceng kaya tadi ya, aku ingin tidur sebentar".


Sandra menurut memeluk Pandi, "Kenapa gak jujur dari kemarin ke aku sih, aku sampai berpikiran yang aneh aneh tau, gak biasanya kamu kaya kmaren tidak menghubungiku".

__ADS_1


"Jangan di ulangi lagi pikiran seperti itu sayang, tidak akan pernah ada yang lain di antara kita, kamu harus percaya itu", mencium sekilas bibir Sandra ya ada di sampingnya.


"Ihh takut Fely lihat jangan ngajarin anaknya tidak benar", bisik Sandra.


"Fely baru saja merem dia tau Mama Papanya mau kangen kangenan", bisik Pandi lagi.


"Aku pindahin Fely ke ranjangnya sebentar", Sandra memindahkan Fely ke ranjang bayi nya, dirinya naik lagi ke kasur memeluk Pandi seperti tadi.


"Ini serius gak sakit pah?, ke rumah sakit lagi aja yuk".


"Gak usah sayang, ini obatnya kamu ko", mencium bibir Sandra lagi bahkan di sertai sesapan sesapan kecil, Pandi terus memperdalam ciumannya, sama sama memperdalam ciuman karena Sandra juga membalas ciuman suaminya tak kalah rakus.


"Pah ingat masih puasa".


Huwhhh Pandi membuang napasnya dengan kasar, Maaf mah hampir bablas, lama juga ya ternyata", ucapnya.


Mereka berdua terkekek, Sandra masih terus memeluk Pandi sampai terdengar dengkuran halus, tandanya Pandi sudah terbang ke alam mimpinya.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading🖤🖤🖤


__ADS_2