
Dapur kini penuh karena sedang masak untuk makan siang mereka bersama.
Sebenarnya yang benar benar masak hanya Bu Mirah dan mbak Anah, apalah Mama Selina dan Lily hanya menuhin dapur saja, benar kata Sandra kalau mereka berdua hanya team sukses doang.
Sandra sekarang sudah bisa masak meskipun tak se enak masakan bu Mirah, tidak apa sudah bisa saja, sudah membuatnya bangga dan bahagia yang terpenting jika dirinya masak akan dapat pujian dari suaminya.
Sandra untuk sekarang tidak terlalu banyak gerak dan berjalan jalan juga, kini dirinya di temani Rafael dan Misel yang sedang mengajak bicara beby Fely.
"Aunty baby nya bobo terus ya", ucap Misel, udah gereget banget dia melihat Fely yang susah di ajak bicara.
"Iya sayang baby nya belum bisa ngomong, dia maunya bobo aja, Isel juga pas kecil gitu bobo terus", ahhh gemas sendiri Sandra juga dari tadi mendengar Misel ngoceh terus, kadang dia paham kadang kagak dengan ucapan bocah itu.
"Baby nya udah bisa jalan belum?", dengan wajah polosnya Misel bertanya seperti itu.
"Astaga dek kamu ini ada ada saja", kini Rafael yang menyahut, dari tadi dirinya hanya memandangi baby Fely tanpa bicara apapun.
"Hahaaa, kalau udah setahun baru bisa jalan ya, kakak Isel mau ajak baby kemana nanti kalau udah bisa jalan?", tanya Sandra lagi, sungguh bocah ini membuat dirinya tertawa terus dari tadi, ocehan yang tak jelas dan pertanyaan yang tidak masuk akal selalu keluar dari mulut bocah 3 tahun lebih itu.
Pandi baru saja keluar dari ruang kerja nya, tadi dia dan Reja membahas pekerjaan yang akan mereka dirikan di tahun depan nanti.
Masuk ke dalam kamar melihat istri dan dua keponakannya sedang tertawa, Pandi juga ikut tersenyum.
"Ngomongin apa ini hah, Om boleh ikutan?", Pandi memangku Misel.
"Om gak boleh ikutan karena OmPan cowok", kesalnya.
"Ohh gitu ya, yaudah deh Om mau sama kak Rafa aja kalau gitu".
__ADS_1
"Gak boleh Om sama Isel aja pokoknya", heuhh Misel langsung mendengus sebal.
Aishhh Rafael lagi yang mendengus sebal, Misel selalu seperti itu gak dengan Om Reja gak Om Pandi dirinya selalu ingin memiliki sendiri, namun iya tak pernah marah pada sang adik, apapun untuk adiknya dirinya selalu mengalah.
"Ini konsep nya gimana ya, tadi bilang tidak mau giliran mau di tinggal tidak mau juga", ckckck cewek memang selalu seperti ini, batin Pandi.
"Hahahaa bisa bisa rebutan sama Fely nanti Pah", ucap Sandra sambil tertawa.
"Simulasi banyak anak hahaaha".
Hahh apakah seperti ini gambarannya kalau banyak anak ya, melahirkan yang Masya Allah masih kerasa rasa sekarang juga, batin Sandra.
Tak lama Rafael dan Misel keluar dari kamar baby Fely, lama lama di sana bosan juga baby nya gak bisa di ajak main, tidur terus.
"Aunty Isel mau sama Mami", rengek nya.
"Di sini aja sama baby, Mami lagi masak sayang".
"Yaudah ayo ke Mami", Rafael langsung menggandeng adiknya, "Om aunty, kita ke Mami dulu", pamitnya.
"Iya sayang, hati hati turun tangganya ya, kalau mau kesini tar kesini lagi", ucap Sandra sambil mengantar dua anak itu ke depan pintu kamar.
Sampai tidak terlihat lagi dua bocah itu, Sandra terus memperhatikan Rafael dan Misel.
"Sayang kenapa?", memeluk istrinya dari belakang.
"Astagfirullohalazim, kagetnya", menggerutu sebal, dirinya kaget karena sedang melamun.
__ADS_1
"Kan udah biasa ko kayanya kaget banget", menyengit heran.
"Aku sedang melamun tadi", berjalan menuju kasur nya lagi.
"Ngelamunnin apa?, uang bulannan kurang hmm?, mau tambah berapa lagi?".
Aishhh bukan uang yang aku pikirkan sekarang,aku memikirkan bagaimana nanti kalau harus beberapakali melahirkan, batinnya.
"Kenapa hemm, apa yang di pikirkan gak biasanya seperti ini", setelah merebahkan badannya Pandi bertanya lagi.
Tidak biasanya istrinya melamun bengong seperti tadi.
"Gak ada, turun ke bawah yuk, aku merasa sumpek di kamar terus", berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan bohong sayang, bicara padaku apa yang kamu pikirkan".
Hahhh aku lupa suamiku memang bisa membaca pikiran orang, "Nggak ada serius deh", berusaha meyakinkan, tidak mau mengecewakan suaminya, biarlah dirinya berperang dengan perasaan dan pemikirannya sendiri.
"Ya sudah jika tidak mau bicara, jangan di pikirkan yang tidak perlu untuk di pikirkan sekarang, biarlah semua berjalan dengan seiringnya waktu, aku tidak akan memaksa kehendakmu bicara padaku apa yang di suka dan tidak di suka", mengerus pipi istrinya dengan lembut.
Dia seolah tau ke khawatiranku, dia selalu mengerti apa yang aku inginkan, ya Allah terimakasih telah memilihnya untukku, Sandra tersenyum, "Makan yuk aku laper sepertinya Ibu juga sudah beres masak, hahah menantu macam apa ya aku ini", menertawakan dirinya sendiri, menghilangkan semua kekhawatiran yang ada di benak nya.
"Di sini saja makan nya, tunggu sebentar aku ambilkan dulu makannya ya", mencium kening istrinya, langsung keluar dari kamar untuk mengambilkan makannan.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading🖤🖤🖤