
Seminggu tidak pulang ke apartemen kali ini Rafael pulang, dengan langkah gontai tidak ada semangat hidup dalam diri laki laki itu.
Apalagi tadi sempat mendengar satpam yang membicarakan kebaikan istrinya selama tinggal diapartemen situ.
"Mereka aja rindu sama kamu dek apalagi kakak, sayang ayo pulang kamu kemana dan dimana sih setiap hari aku mencarimu tapi nihil tidak mendapatkan hasil", monolognya.
Masuk ke dalam huniannya tapi tidak masuk ke kamar yang selama ini dirinya pakai, Rafael masuk kedalam kamar yang biasa Fely gunakan.
Bau wangi di dalam ruangan itu masih melekat meskipun sudah seminggu lebih orangnya tinggalkan, meng istirahatkan badannya sesaat, berhari hari mencari ide dan jalan untuk mendapatkan akses pulang pergi ke luar negri lagi, Rafael sudah menduga Fely pergi ke luar dari negara ini, buktinya dirinya di bokir dari semua negara.
Baru saja memejamkan mata menghirup dalam dalam wangi parpum yang masih menempel di kasur yang sering Fely gunakan.
Ponselnya bunyi menandakan pesan masuk, "Nenek, akhhhh Nenek emang selalu mengerti cucunya", Rafael tersenyum dengan semangat 45 dirinya bangkit.
"Tunggu gue ya kasur jangan hilang bau wangi istri gue loh", sudah seperti orang gila bicara dengan kasur.
Mandi secepat kilat bahkan mandi juga di kamar mandi yang ada di kamar Fely, "Wangi sabun ini khas wangi kamu dek", ucapnya tersenyum, mengambil handuk juga handuk Fely.
Rafael mulai setres nih, semua yang punya Fely dirinya pakai.
Tidak butuh waktu lama dirinya sampai ke rumah Nenek Mirah, di sambut seperti biasa tidak ada perubahan cara meluk cara bicara cara menepuk pundak dari Nenek satu ini, membuat Rafael mengeluarkan air matanya, salah besar karena sudah menyia nyiakan cucu kesayangan neneknya.
"Sorry nek", memeluk Nenek Mirah erat menumpahkan segala kesalahan dan kerinduan.
__ADS_1
Setelah Fely pergi dirinya merasa di buang oleh keluarga manapun yang biasanya selalu ada dan selalu bawel dimanapun dirinya berada.
"Sudah datang ke rumah Papa lagi nak?", tanya nya dengan lembut sambil terus mengelus punggung yang masih bergetar karena menangis itu.
"Papa sudah bilang tidak akan mengijinkan kami bersatu lagi Nek".
Hatinya semakin sakit setelah mendapatkan pesan dari Papa Pandi bahwa kalawpun Fely kembali tidak akan mengijinkan mereka bersama lagi.
"Sabar ya nak".
"Aku rindu istriku Nek, aku telat mengakui perasaanku sendiri".
"Nenek tau, pelan pelan ya kamu tau kan bagaimana sipat Papa kamu".
"Iya aku juga mengakui memang semua ini salahku, aku sayang ke Fely Nek, aku akan berubah untuknya".
"Nenek hanya bisa bantu do'a nak".
Rafael masih menangis di pangkuan neneknya, benar benar menumpahkan sakit dan sesak dadanya yang sudah seminggu lebih dia rasa, Maminya masih belum bisa menerima maaf darinya bahkan masih belum mau di temui.
Seli yang melihat keponakannya datang ke rumah dirinya juga turun sambil menggendong anaknya.
"El", panggilnya.
__ADS_1
"Ya aunty", suaranya sudah serak mungkin habis, dari pagi sampai siang muter mencari Fely dari kota ke kota lain, berteriak sekencang mungkin memanggil Fely.
"Cih baru di tinggal seminggu saja sudah seperti ini", berusaha membuat masalah yang nantinya akan ada keributan seperti biasa, Seli tau keponakannya ini sedang rapuh maka dengan cara itu agar sedikit lupa dengan masalah hidupnya.
"Nek peliss aunty ini kirim saja yuk ke afrika utara".
"Sembarangan kamu durhaka tau gak sama orang tua".
"Aunty tidak pernah berubah selalu menyebalkan dari dulu".
"Kamu lebih lebih menyebalkannya sejak dulu".
"Haihh susah bicara dengan ibu ibu satu ini".
"Sayang kamu gak kenal juga gak apa apa sama Om satu ini ya, soalnya Om ini selalu membuat Bunda naik darah".
"Cih anak nya saja di didik suruh membenci Om nya, ibu yang aneh".
Akhirnya Seli sukses membuat laki laki itu sedikit melupakan masalahnya.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤