ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
040.


__ADS_3

Fely masih menatap manusia yang sedang berbaring menyamping, sangat terlihat sekali kalau orang itu sedang menggigil.


Melangkah dengan pelan, "Kak", ucapnya tercekat.


Tidak ada sautan, Fely semakin mendekat, memegang dahi tidak terlalu panas, tapi badannya mengigil.


Membuka sedikit selimut yang menutupi setengah kepala.


Keras kepala banget ternyata pantas anak nya juga kadang susah di bilangin keturunnan dari bapaknya seperti ini, sudah tau lagi sakit tapi gak mau di rawat di rumah sakit mau gimana sembuhnya, ini mah bukan sembuh malah mati sekalian nanti, dumel Fely.


"Kak hei", Fely mengguncangkan tubuh Rafael.


"Hemmm dingin banget Ran tolong matikan ac nya gue gak kuat".


Hihh ni ac sudah mati juga, perasaan ni kamar gerah banget.


"Kak ke rumah sakit aja yuk".


Rafael membalikan badannya, "Dek kakak rindung sayang, maafkan kakak", menarik Fely kedalam dekapannya.


Fely hanya bisa mematung, merasakan tubuh yang bergetar ini memeluknya erat.


"Kakak tidak mau kehilangan kalian rasanya hancur, mungkin jika bunuh diri tidak dosa sudah kakak lakukan dari semenjak kalian semua meninggalkan aku sendirian".


"Jangan ngelindur kak", Fely menepuk tangan Rafael lumayan keras, "Lepas ini gerah banget sumpah", Fely berusaha melepaskan diri.


"Tidak akan pernah aku lepaskan lagi kamu, kamu hanya akan menjadi istriku selamanya".


Haihhh susah banget bicara sama orang sakit dan sedang melindur, ahhh gerah banget lagi.

__ADS_1


"Fely sayang aku mencintaimu aku tidak mau kehilangan kamu apalagi melihat kamu dengan laki laki lain rasanya aku mau mati saja".


"Mau mati ya mati saja", sudah lumayan gedeg juga.


Tidak ada ucapan lagi dari Rafael yang ada laki laki itu menangis pilu, isak nya terdengar sangat pilu.


190° Rafael yang dulu sombong dan arogan menghilang entah kemana.


"Hidupku hanya Fely dan Dava tapi ternyata sudah ada yang menggantikanku di antaranya", Rafael memukul dadanya dengat kuat, meskipun dirinya di antara sadar dan tidak, sesaknya sangat terasa.


"Hai sudah kau ini benar benar ya menyiksa diri sendiri", Fely menahan tangan Rafael yang memukul dada dan kepalanya.


"Aku ingin mati saja tuhan".


"Kak sudahhhh", Fely menabok pipi Rafael lumayan keras, kesal susah bicara dengan orang setengah sadar.


"Kak ini aku Astagfirulloh", tangan Fely sudah terangkat gemas ingin menjambak rambut laki kaki yang ada di depannya ini.


Rafael memeluk Fely lagi dengan erat, "Bahagianya walawpun hanya memeluk bayangan", gumam Rafael.


"Ya Allah senyata ini di bilang bayangan benar benar ya kamu kak".


Untung saja remot ac tidak begitu jauh dari sana Fely masih bisa menggapainya, gerah sudah ac mati di dekap erat sama orang sakit lagi.


Mendengar dengkuran halus dari Rafael, Fely berusaha menyampingkan badannya menghadap Rafael.


"Apa se tersiksa ini kamu kak", mengusap pipi yang mulai di tumbuhi rambut liar, "Haihhh ternyata ada berewoknya nya tambah manis ya hahaha".


Fely menatap lekat muka Rafael, rahang yang kokoh tapi tidak sekoko dulu kelihatannya, badan Rafael sekarang terlihat kurus tidak terawat juga.

__ADS_1


"Aku gak tau dengan perasaanku sekarang kak, tapi kita sama sama tersiksa impas kan hehe".


Tidak terasa Fely juga menyusul ke alam mimpi.


.


Sampai pagi Fely tidak lepas dari dekapan Rafael, yang lebih dulu bangun juga Rafael.


Merasakan gulinya empuk dan nyata, Rafael tersenyum badannya sudah mulai sedikit merasa baikan.


"Ternyata aku tadi malam tidak mimpi, buktinya istriku benar ada di sini", cup mencium pipi kenyal Fely.


Maafkan kakak yang mencuri kesempatan ini sayang, memeluk Fely lagi memejamkan mata menghirup dalam dalam wangi tubuh dari istrinya.


Tidak lama Fely terbangun, "Haihh gerah banget gue semalaman di peluk sama ni orang".


Rafael tersenyum dalam hatinya.


Fely bangun langsung menyingkirkan tangan dan kaki Rafael sambil terus mengerutu masuk ke kamar mandi.


.


.


.


.


Happy reading❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2