ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
54.


__ADS_3

Pandi yang habis meeting dengan client nya di restoran dan dia sekaligus makan siang.


Dia melihat Marcel sedang bersama perempun dempulan dan menggunakan baju kurang bahan, mereka sedang asik makan.


Ck tu manusia memang benar benar ya, Pandi mengelengkan kepalanya.


"Knapa bos?", tanya Renaldi.


"Nggak ayo makan Ren", kilah Pandi.


"Iya, habis ini kita ada meeting lagi".


Pandi dan Renaldi makan dengan tenang, tanpa di sangka dan di duga, byurrrr jas dan celana Pandi kena minuman yang waitrss bawa.


Ya Allah dalam hati Pandi murka dengan kejadian ini, namun dia berusaha santai dan tenang, siapa lagi pelakunya sudah pasti suruhan Marcel, mata elang Pandi selalu melirik dan menangkap gerak gerik Marcel.


"Lain kali hati hati mas, nih saya kasih lebih uangnya dari dia, memberi uang 5 lembar seratus ribuan. Besok besok cari kerjaan dengan halal ya kasian keluarga anda di rumah memakan uang suap", ucap Pandi dengan dingin, untung saja tadi pagi Pandi menarik uang lebih untuk jajan Seli.


Manager restoran yang melihat kejadian itu sangat panik, dia tau siapa Pandi, merasa panik dan ketakutan langsung meminta maaf.


"Maaf Pak Pandi, Maafkan karyawan saya yang sudah membuat ke kacawan ini".


"Tidak jadi masalah, tolong berikan arahan lagi pada mereka jangan pernah tergiur dengan uang seratus dua ratus ribu, bekerjalah dengan profesional dengan halal, saya tidak mau ada kejadian ini terulang lagi bukan hanya ke diri saya namun ke semua pengunjung di sini", tegas Pandi.


Semua pengunjung melihat ke arah sana, Pandi yang bicara dengan sedikit nada tinggi juga tegas.


"Baik Pak, Maafkan atas kelalaian saya pada mereka", ucap manager sambil menunduk.


Pandi menepuk bahu lelaki berusia 43 tahun itu, "Anda tau kan saya paling tidak suka sama manusia yang lalai, saya harap ini kejadian yang terakhir".


"Baik Pak Pandi, Maafkan saya".

__ADS_1


"Saya pergi", Pandi langsung berlalu dari tempat itu, dia harus mengejar waktu jam 2 ada meeting lagi namun jas nya basah dan kotor, terpaksa harus pulang dan mengganti jas nya, untung saja ke rumah lumayan dekat jadi Pandi lebih memilih untuk pulang dulu.


Sedangkan di restoran tempat makan tadi, manager restoran sedang mengamuk, karena ulah salah satu karyawan yang hampir saja membuat nya kehilangan pekerjaan yang sudah 20 tahun iya tekuni.


"Kamu tau siapa yang kau siram jas nya tadi, dia orang kepercayaan Pak Handra Winata bahkan dia sudah di angkat sebagai anak nya dan anak kebanggaan nya, karena ulahmu hampir saja aku kehilangan pekerjaan ini", ucapnya dengan marah.


"Maaf Pak, saya di suruh orang tadi karena dia mengaku dialah calon menantunya Pak Handra Winata, dia bahkan mengancam saya, saya akan di pecat dari sini karena dia akan mengadukannya pada Pak Handra".


"Saya tidak mau tau, mau siapapun itu, yang saya tau keluarga pak Handra tidak ada yang licik satupun kecuali keluarga beliau di usik".


.


.


"Loh nak sudah pulang kenapa?, apa kamu sakit? Sakit apa nak?", panik Bu Mirah.


Membuat Pandi terkekeh, "Jas Pandi basah Bu ketumpahan minuman tadi pas makan, Pandi tidak kenapa napa, Ibu tenang saja".


"Yaudah Pandi ganti dulu ya, habis itu mau ke kantor lagi ada meeting".


Renaldi yang melihat bagaimana kehidupan Pandi, jujur hatinya sedikit tercubit, sudah lama sekali tidak di perhatikan oleh Ibu dan Ayah kandung. Memang sekarang dia tidak kekurangan kasih sayang dari Bu Mirah, Papa Handra dan Mama Selina, mau sebesar apapun anak ya tetap anak yang ingin sekali di manjakan oleh orang tuanya.


"Nak kamu juga ikut pulang, Bu Mirah mengusap tangan Renaldi".


"Iya Bu, ini wangi apa Bu?", hidungnya Renaldi sangat tajam dengan bau makannan.


"Hahaa tau aja hidung kamu ini, Ibu lagi bikin kue, tunggu ya kalian bawa nanti", Bu Mirah langsung lari ke dapur, karena tidak punya pekerjaan sekarang Bu Mirah sering bikin kue atau cemilan hanya untuk mereka makan sehari hari.


"Kalau soal makannan Ren akan tunggu sampai besok juga Bu", ucap Renaldi.


"Makannan apa?", tanya Pandi yang masih menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Ibu bikin kue kita di suruh tunggu".


"Ohh".


Pandi tidak pernah menolak apapun yang di masak dan di berikan Ibunya, dia selalu menghargai usaha Ibunya, mau sekenyang apapun perutnya di luar jika sampai rumah Ibunya menawarkan makannan selalu iya makan, tidak mau membuat sedih wanita cinta pertamanya itu.


Bu Mirah sambil terburu buru membawa ompreng kecil berisi kue buatannya.


"Wihhh terimakasih Ibu, Ibu emang ter the best", puji Renaldi.


"Bikin kue apa?, Terimakasih ya", Pandi mencium pipi kiri dan kannan Ibunya. Membuat Bu Mirah begitu bahagia usahanya di hargai oleh anak anak nya.


"Jangan lupa di makan ya, duh anak anak nya Ibu semakin tampan saja", Bu Mirah memuji Pandi dan Renaldi.


"Iya Bu, yaudah Pandi pamit ke kantor lagi ya", Pandi dan Renaldi menyalami Bu Mirah.


Bu Mirah mengantar dua pemuda itu sampai depan sambil tersenyum


.


.


.


Muliyakan lah Ibu kita semasih ada, buatlah iya bahagia meski dengan hal sekecil apapun, kadang orang tua tidak harus di beri uang, emas dan bunga, cukup di hargai dan di berikan kasih sayang di masa tuanya, jangan pernah membentaknya.


Sama sama belajar memuliyakan kedua orang tua yuk😊 Utor juga bukan seorang anak yang begitu bakti pada orang tua, namun sekarang sedang belajar belajar dan terus belaja.


.


🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2