
Rafael dan Fely masih saling berpelukan meresapi perasaan masing masing, saling mencurahkan kerinduan yang sudah bertaun taun mereka pendam.
Memiringkan badan dengan pelan kini dengan jelas berhadapan, saling menatap manik mata dalam.
"Dek ini tidak mimpi kan", pertanyaan yang membuat jantungnya bergetar.
"Gak bosen mimpi terus?, atau mau mimpi lagi".
"Jangan, maafkan semua kesalahanku".
"Buktikan kalau bisa berubah, aku dan Dava tidak butuh kalau hanya ucapan saja".
"Ingatkan jika salah, aku manusia biasa yang banyak sekali kekurangan dalam hidupku".
"Yaudah lepas nih engap", Fely berusaha keluar dari dekapan Rafael.
"Sebentar saja dek", mohon Rafael.
Fely terdiam dalam dekapan Rafael yang sudah menelusupkan wajah.
Semakin lama badan laki laki ini semakin bergetar isak tangisnya juga sudah terdengar, tidak ada pembicaraan di antara Fely dan Rafael.
Fely membiarkan saja.
Dua manusia itu tidak sadar kalau sedang di atas lantai.
"Udah dong nangisnya sejak kapan jadi cengeng?, biasanya juga garang".
"Sejak dunia ini tidak adil lagi padaku", ucapnya melemah.
"Ke rumah sakit yuk".
Rafael menggeleng, "Aku tidak butuh pergi ke rumah sakit".
"Jangan keras kepala kak".
"Serius aku hanya sakit biasa setelah ini pasti sembuh".
__ADS_1
"Terserah aku mau pulang kalau gitu".
"Dek", memegang tangan Fely.
"Kenapa watak kalian itu keras banget sih, mau sembuh atau tidak terserah kalau tidak mau ke rumah sakit".
"Asal temani dan jangan pernah tinggalkan aku lagi".
"Gak kebalik ya pak", Fely langsung bangkit.
Rafael ter duduk badannya sakit semua apalagi di tambah ketimpa badan Fely tadi, "Aahh badanku", keluhnya pelan.
Jalan keluar di papah Fely, Randa masih setia menunggu di depan apatremen, melihat Fely memapah bosnya dengan cepat mendekat.
"Ke rumah sakit kak", ucap Fely.
Randa mengangguk mengambil alih tangan Rafael dan memapahnya turun menuju mobil.
Tidak terlalu jauh perjalannan menuju rumah sakit yang mereka tuju, sampai sana langsung di bawa oleh perawat dan dokternya.
Rafael menggeleng masih tidak mau melepaskan, mukanya semakin pucat, Fely tidak tega juga melihat keadaan Rafael yang seperti ini.
Benar benar sampai ikut ke ruang pemeriksaan karena tangannya tidak di lepaskan dari genggaman Rafael.
.
.
Sedangkan yang di rumah juga sedang sibuk menyiapkan keperluan sekolah Dava.
"Fely kemana Mah", tanya papa Pandi, melihat istrinya yang menyiapkan bekal untuk cucunya.
"Pergi tadi malam Rafael ternyata sedang sakit, tadi juga sudah beri kabar kalau sedang di rumah sakit".
Mengangguk nganggukan kepalanya menyunggingkan senyum, bagus juga trikmu Raf, batinnya.
"Biarkan mereka menyelesaikan semuanya, mau bersatu atau berpisah, kita hanya perlu dukung".
__ADS_1
"Iya, sejak kapan juga aku menghalanginya".
"Tangan kamu yang jail sudah tua juga".
"Tua sedikit sih tapi tenang aja masih kuat ko hahahaa".
"Astagfitulloh tidak ingat umur".
"Ingat dengan jelas lah masih 25 tahun".
"Udah cepetan cucunya sudah nungguin juga".
"Lupa kalau sudah punya cucu", keluar dari dapur sambil tertawa.
Dava kali ini di antar Opa nya ke sekolah, anak itu tidak rewel dari pagi juga tidak sibuk mencari maminya, berjalan seperti biasa saja seolah tau maminya kemana dan sedang apa.
"Dav tau mami kemana?".
"Gak tau Opa, tapi Mami tadi malam buru buru perginya".
"Dav tau kalau mami pergi, kenapa tidak minta ikut".
"Aku udah besar Opa".
"Ohh iya Opa lupa sayang", papa Pandi terkekeh lagi.
"Opa gimana sih", dengus Dava.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1