
Hati anak mana yang tak hancur melihat kedua orang tua yang paling kita sayangi, yang paling kita jungjung tinggi. Dibuat hancur oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Bahkan rasanya kita bunuh juga orang yang sudah menghancurkannya masih kurang.
Pandi masuk ke kamarnya setelah Bapak dan Ibu serta adiknya tenang dan sudah istirahat.
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00. Dia melaksanakan kewajibannya.
Ya Allah begitu banyak cobaan yang engkau timpakan kepada keluarga hamba, hamba tau bahwa semuanya atas ijinmu maka kuatkan hamba bimbing hamba agar tidak salah jalan.
Pandi masuk ke dapur, melihat beras tinggal sedikit setok makanan tidak ada, untung saja dia mempunyai sedikit tabungan yang dia tabung untuk biyaya kuliahnya.
Duduk di kursi yang ada di dapur itu, kursinya pun sudah usang, dia memikirkan bagaimana nanti hidupnya di kota, apa dia bisa meninggalkan keluarganya, Bapak yang sering sakit sakitan adiknya yang sebentar lagi memasuki sekolah menengah atas harus ada biyaya.
Kalau di sini terus aku sudah punya kesempatan besar mempunyai beasiswa, jika aku ke kota bagaimana dengan keluargaku, Ya Allah Pandi menunduk sedih, berat rasanya sangat berat.
Bangkit dari duduknya, keluar rumah menghidupkan motor kesayangannya, menuju toko beras, untung saja dia masih mempunyai tabungan.
Membeli beras dan bahan makanan lainnya untuk setok 1 bulan keluarganya.
Niat Pandi 2 hari lagi dia akan berangkat ke kota, mencari kerja terlebih dahulu sebelum masuk kuliah.
"Pandi, yang sabar ya", ucap tetangganya.
"Iya Bu", ucap Pandi sambil menampilkan senyum ramah kepada tetangganya itu.
__ADS_1
"Semoga kamu jadi orang sukses ya Pan, percayalah Pan setelah ada badai pasti akan ada pelangi", ucap sang tetangga sambil mengelus punggung Pandi.
"Aamiin bu bantu Do'akan aku ya bu".
"Pasti nak pasti, kamu mau kemana ini?".
"Pandi mau membeli beras sama setok makannan buat di rumah bu, rencana Pandi 2 hari lagi mau berangkat ke kota".
Bukan apa apa Pandi mau bercerita kepada ibu ibu itu, karena ibu itu sering sekali membantu keluarga Pandi.
"Tunggu sebentar Pan, ibu ada sayuran tadi habis dari pasar beli lumayan banyak sayur, kamu bawa pulang ya", tunggu sebentar ucap ibu itu sambil lari masuk ke rumahnya untuk mengambil sayur.
Pandi merasa terharu ibu itu sering sekali membantunya jika sedang kesulitan, setelah mengucapkan Terimakasih kepada pemberi Pandi menjalankan motornya lagi.
Membeli 1 karung beras minyak dan makannan kaleng yang bisa di setok pandi pulang kerumahnya.
Masak nasi, sayur bening dan menggoreng ikan juga membuat sambal, akhirnya selesai acara memasak dia.
Setelah selesai masak melihat jam sudah jam 18.00 sudah magrib ucapnya, mengetuk pintu kamar Ibu Bapak dan juga kamar adiknya, Pandi mandi secepat kilat karena harus gantian sama yang lain kamar mandinya hanya ada satu.
Selesai solat mereka berkumpul lesehan di tengah tengah rumah, karena tidak ada meja makan di rumah itu maka makan pun di tengah rumah.
"Abang kenapa gak bangunin Seli sih, kan abang jadi masak sendiri", ucap sang adik.
"Udah makan aja yang banyak biar adik abang cepet gede", sambil mengelus kepala sang adik.
__ADS_1
"Nak masak sendiri, maafkan Ibu ketiduran ya", ucap sang Ibu.
"Tidak apa apa bu, makanlah".
Makan dengan keadaan hening karena di keluarga mereka sangat di larang jika sedang makan ada yang mengobrol.
Setelah makan Pandi menyampaikan keputusannya bahwa dia 2 hari lagi akan ke kota, untuk mencari kerja dan melanjutkan pendidikannya.
Bapak dan Ibu meresa berat akan di tinggalkan sang anak sulung, namun mau bagaimana lagi, mereka yang harus benar benar mendukung cita cita sang anak.
"Pesan Bapak, jangan tinggalkan shalat sesibuk apapun, jangan salah bergaul, dan satu lagi jangan pernah menyakiti perempuan apalagi merusaknya nak, kamu harus ingat itu", ucap Bapak.
"Iya pak akan selalu ku ingat pesan Bapak".
"Ibu hanya bisa mendo'akan mu Pan, sering sering kabari ibu ya nak", tangis Bu Mirah pecah lagi.
"Ibu jangan menangis ya, Pandi akan berusaha untuk membuat Ibu Bapak dan Seli bahagia", aku sangat menyayangi kalian, ucap Pandi sambil memeluk sang Ibu.
"Dek abang titip Ibu sama Bapak ya, nanti kalau ada apa apa cepat hubungi abang, jaga diri kamu baik baik abang sayang kamu".
Seli hanya mengangguk sambil menangis dalam dekapan Pandi.
Setelah itu mereka masuk ke kamar masing masing.
Pandi masih belum bisa memejamkan matanya padahal sudah jam 11 malam. Gelisah berat bingbang bingung sedih bercampur menjadi satu.
__ADS_1
🖤Yuk dukung karya kedua Utor, Utor masih belajar ya maafkan ceritanya masih acak acakan, mungkin cara penulisannyapun belum benar dan rapih.
Jangan lupa like ya, Terimakasih😘