
Fely sampe rumah langsung mandi ponselnya dari tadi tidak berhenti bergetar.
Haihhh siapa sih rusuh banget tlponnya dari tadi, gerutu Fely.
Mengambil ponsel takut sekertarisnya yang tlpon, ternyata bukan tertera 13 panggilan dan 19 pesan masuk di sana dari 1 orang saja, siapa lagi kalau bukqn Rafael.
Haihhh gue merasa jadi abg lagi, tersenyum melihat deretan pesan masuk.
📩 "Sayang sudah sampai rumah?".
📩 "Sayang lama sekali".
📩 "Felysia istriku jangan lama lama cinta❤".
📩 "Akhhh hadiah terbesar dari kamu tadi terimakasih sayang❤❤❤".
📩 "Dek kenapa tlpon tidak di angkat?".
📩 "Sayang kamu masih di jalan?".
📩 "Sayang angkat tlponnya😭".
Banyak sekali deretan pesan yang membuat Fely senyum senyum sendiri.
Hehehee gue bukannya ilfil malah bahagia lagi, dih jijik gue sama diri sendiri, Fely menggeridikan bahunya.
Panggilan vidio masuk dengan replek Fely langsung mengusap layar ponselnya.
"Kemana saja lama sekali, sayang kamu mau menggoda kakak ya", mata Rafael melotot sempurna Fely hanya memakai handuk saja, itupun sangat asal.
"Menggoda apa sih kak", bingungnya.
"Pake baju dulu sana tapi", belum selesai bicara Fely sudah menjerit dan melempar ponselnya.
"Kak Rafaaaaa akhhh aku gak mau ketemu kamu lagi", teriak Fely.
Aku benci kamu kak, hihhh kenapa ceroboh sekali sih Fell huwaaaa malu, sambil mencari baju Fely sambil terus mengumpat Rafael.
__ADS_1
Umpatan demi umpatan sangat terdengar jelas ke sebrang sana sebab tlpon itu masih terhubung.
Rafael yang di sebrang sampai membekap mulut, takut tawanya terdengar Fely, walawpun sudah pernah merasakan dan melihat dengan jelas tapi hanya sekali dan itupun dalam keadaan antara sadar juga tidak sadar.
Selesai memakai baju tanpa memperdulikan ponselnya Fely langsung keluar menutup pintu lumayan keras.
Turun ke bawah dengan hatinya yang masih kesal, padahal bukan salah Rafael dirinya saja yang tidak mewanti wanti diri sendiri.
"Kenapa sih kak?", tanya Mama Sandra.
"Nggak Mah hehee aku mau bikin jus semangka dulu".
"El gimana kak, Mama sama Papa paling sore bisa ke sananya, Mama juga udah kasih tau Mami Lily katanya bisa besok berangkatnya".
"Penyakit di buat sendiri", kesal Fely, hatinya masih dongkol gara gara tadi.
"Apa ko penyakit di buat sendiri sih".
"Iya lah mah, Mama tau kan penyakit apa kalau kurang makan kurang minum sama gak istirahat".
"Pasti kamu juga penyebabnya".
"Selasa yang lalu pas kamu mkan di luar sama teman kamu sama Dava juga, kamu lihat kan orang yang memakai seragam silver".
"Iya mah", Fely mengingat orang yang tanpa ekspresi itu.
"Itu orang suruhannya, haduhh gak tau ya kalau itu anak buahnya Rafael".
"Pantas saja dalam 1 minggu ini aku merasa ada yang mengawasi".
"Hahahaa, gimana sudah baikan".
Bukannya menjawab Fely malah tersenyum, tapi seperdetik itu juga dia ingat kejadian tadi.
"Kak Rafa gak pernah berubah Mah dia selalu menyebalkan".
"Tapi gak bisa lepas juga dari dia kan".
__ADS_1
"Kenapa sih mah selalu tau apa yang ada di pikiranku".
"Mamiii ayo Dav udah siap", Dava juga masuk ke dapur, bahkan anak itu sudah memakai sepatu segala.
Mampus gue, gue tadinya gak mau ke sana lagi malu banget sumpah, tapi ni anak udah gue janjiin bakal ketemu Papinya, huwaaaa ya Allah tolonggg, jerit Fely dalam hatinya.
"Hai gantengnya Oma, mau kemana sayang?".
"Rumah sakit jenguk Papi Oma".
"Ohhh mau ikut Mami temenin Papi", Mama Sandra mengangguk ngangguk.
"Kak bawa makan siang kalau mau kesana lagi".
Huwaaa bisa apa gue, apa alasannya kalau udah kaya gini, Mama pasti tidak mau mendengar alasan gue.
"Heee iya mah", Fely melanjutkan membuat jus semangkanya.
Gila sumpah gue malu banget sama dia, huwaaa ceroboh emang lo Fell.
"Mih ayo", ajak Davalagi.
"Sabar sayang Mami mau minum jus dulu ya, tungguin di depan sana".
"Oke Mih", Dava langsung berlalu dari dapur.
Sumpah kak gue malu banget kalau ketemu elo, mana tuh handuk tipis lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤