ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
84.


__ADS_3

Sore ini Pandi dan Sandra akan pulang ke rumah bu Mirah dan besok akan ke rumah Mama Selina, tadinya mereka bingung mau pulang kemana dulu sebab takut kedua Ibunya itu merasa di beda bedakan.


Setelah Sandra pikir pikir gimana baiknya, "Kita pulang ke rumah Ibu dulu besok dua kerucil kan mau pulang", ucap Sandra, pulang ke rumah Pandi ada alasan melepas kangen dengan dua anak kak Lily.


"Yaudah tar aku bilang ke Mama besok kita ke rumah mamanya".


"Iya, sekarang aja yuk udah kangen sama Misel".


"Rafa nggak", tanya Pandi sambil ter kekeh, sebab jika kumpul pasti 2 perempuan dengan satu anak lelaki itu cek cok terus, Rafael yang mebyebalkan menurut Sandra dan Seli karena anak kecil itu tidak pernah mau di ajak bercanda mukanya terkesan dingin dan sering nyeletuk gak suka sama kedua aunty nya itu.


"El mah suka nyebelin sama kaya Om nya".


"Om nya suami kamu loh sayang".


"Iya kan emang kamu sama dia 11 12 udah kaya bapak sama anak nya, semoga anakku nanti gak kaya kamu ya by".


"Bikinnya sama siapa?", tanya Pandi.


"Hahhhh ihh apa sih, udah ah ayo pulang", malu sendiri sebab tadi siang mereka membuka kado dari kedua sahabat Sandra ternyata isi kado itu sangat memalukan, memakai kado dari sahabatnya itu membuat dia di serang habis habisan sama suaminya.


Turun ke bawah mereka tak membawa koper sengaja menunda beberapa baju agar nanti tidak repot repot kalau mau nginap di situ.


Hotel yang baru kemarin di resmikan buka karena besok akhir pekan sekarang sudah rame, semua karyawan yang ada di sana melihat Pandi dan istrinya menunduk.


"Masya Allah padahal baru di resmikan sekarang sudah sangat rame ya", ucap Sandra, tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah", Pandi juga tersenyum, tidak menyangka akan langsung rame membeludak seperti sekarang, tidak jauh ke pusat perbelanjaan dan pusat kuliner juga mungkin itu yang membuat hotel pertama Pandi sangat rame, mungkin orang orang itu juga merasa liburan keluarga di akhir pekan tidak harus jauh jauh taman yang di sediakan di sana juga sangat nyaman di pandang mata, bukan lagi kalau di lihatnya di malam hari sangat merasa nyaman dengan kerlap kerlip lampu taman dan kafe akustik yang ada di sana.

__ADS_1


Pandi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menikmati perjalannan di sore hari bersama sang istri, "Mau beli apa dulu gak?", tanya Pandi.


"Wihh ada bos sekarang enak ya apa aja di beliin kaya nya".


Pandi tergelak mendengar jawaban istrinya, "Jangan yang mahal mahal ya suami kamu bukan orang kaya", ucapnya.


"New sultan ya Aamiin", Sandra menadahkan dua tangannya mendongak lalu mengusap muka.


"Do'a yang baik harus di Aamiin kan supaya menjadi kenyataan".


40 menit dalam perjalannan mereka sampi ke rumah Pandi di temani obrolan obrolan receh yang keluar dari mulut istrinya.


Baru juga Pandi memarkirkan mobilnya sudah mendengar teriakan dari anak lelaki umur 6 tahun, "Tuh kalau sama kamu tu anak baru juga melihat mobilnya sudah teriak, coba sama aku dan Seli pasti nyebelin", gerutu Sandra.


"Dia anak nya gak betah di isengin sayang, ambil hatinya dulu pelan pelan nanti juga mau main sama kalian".


Mereka turun dari mobil Pandi langsung memangku bocah 6 tahun lebih itu. "El kamu gak mau peluk aunty juga", ucap Sandra mukanya sengaja iya buat melas.


"Peluk aunty dulu ya nanti main sama Om", ucap Pandi.


Rafael langsung turun dari gendongan Pandi dan memeluk Sandra sebentar, di peluk seperti itu membuat Sandra senang sebab sangat susah mengambil hati bocah itu.


"Terimakasih kesayangan aunty", hampir saja Sandra mencium anak itu saking bahagianya, untung dia langsung ingat bahwa dekat dengan anak itu satu yang harus paling di ingat dia tidak suka di cium sama siapapun sama maminya juga dia sering marah.


"Iya", hanya itu jawaban Rafael, membuat Pandi juga tertawa benar benar anak itu sangat susah di dekati siapapun, bahkan di sekolah nya juga hanya punya 1 teman katanya saking jarang berinteraksi dengan sesama teman kelasnya, hanya sama Pandi dia nyambung bicara dan banyak bertanya.


"Ya Allah sabar sabar", Sandra mengelus dadanya.

__ADS_1


Masuk ke rumah melihat adik iparnya sedang main bersama Misel kecil, "Assalamualaikum", ucap Sandra dengan girang langsung menciumi pipi gembul anak itu, "Dek Ibu sama kak Lily kemana?".


"Lagi masak kak, aku di tugasin ngasuh si gemoy".


"Ohh yaudah kakak ke dapur ya", langsung berlalu dari sana.


"Assalamualaikum Ibuku sayang, kakak tercantik ku", heboh Sandra.


"Wihh ada pengantin baru bu", ucap kak Lily, sedangkan Bu Mirah hanya tersenyum lalu mengelus kepala menantunya, merasa lucu dengan kehidupannya yang sekarang anak yang sudah iya anggap anak kandung kini jadi menantunya.


"Tar besok aku kenalin deh sama sekertarisnya Papa hahaaa".


"Jangan suka ngaco dek".


"Biar cepet membuang kenangan masalalu ya kan Bu".


"Hahaa Kakak katanya mau yang masih bujang nak", entah ada angin apa bu Mirah ikut menimpali obrolan dua wanita itu biasanya beliau hanya senyum senyum doang dan sesekali meng iyakan.


"Widihh serius kak, oke lah kalau gitu pasti masih laku banget sama yang bujang juga secara crazy rich nya kota S, siapa yang akan nolak coba cantik baik pinter kaya raya lagi".


"Jangan suka berlebihan dek hahaa", obrolan Sandra dan kak Lily membuat rame dapur itu.


.


.


.

__ADS_1


🖤🖤🖤 Happy reading 😍😍😍


__ADS_2