ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
32.


__ADS_3

Setelah habis 1/2 bubur itu Sandra meminum obatnya. Pandi sendiri yang menghabiskan bubur sisa Sandra tadi. di buang sayang karena banyak di luaran sana yang kelaperan membutuhkan makan, kita yang masih mampu untuk membeli makan harus bersyukur.


"Abang gak jijik?", tanya Sandra.


"Nggak, gak bakalan rabies juga kan", Pandi tersenyum.


"Aakhh jadi tambah sayang deh", Sandra memeluk Pandi lagi.


Setelah habis makannan itu, Pandi dan Sandra pulang memakai mobil.


"Bang", Sandra memanghil Pandi yang sedang pokus mengemudi.


"Ada apa, ada yang mau di beli lagi, mau apa lagi?, asal jangan es cream, tadi siang kan udah".


"Gak asik ahh".


"Jangan terlalu banyak makan yang manis manis terus ah gak baik juga".


"Yaudah iya, mau nginep gak di rumah sana?".


"Gimana nanti aja", jawab Pandi lagi.


"Nginep aja ya, rumah sepi gak ada Mama sama Papa, bibi yang nginep di rumah juga lagi pulang, yang lain nya kan pada gak nginap di rumah, gak ada yang bisa di ajak ngomong", keluh Sandra, dari dulu selalu seperti itu selalu sepi kalau Mama dan Papanya sedang keluar kota atau ke luar negri.


"Biasanya juga sibuk nonton kan", sindir Pandi.


"Yaudah lah kalau gak mau gak apa apa biasanya juga sendiri ini", memalingkan wajahnya menghadap jendela.


Sampai rumah Sandra langsung naik ke lantai dua masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Pandi.


Huwhhh salah mulu gue seharian ini. Pandi juga masuk kedalam kamarnya membersihkan diri karena sudah mau magrib.


Merasa perutnya belum laper Pandi di dalam kamarnya terus jam 8 dia baru keluar masuk ke dapur.


Melihat Sandra yang sudah menangis di meja makan tanpa memakan makannan nya, Pandi bingung, kenapa lagi dengan anak ini, batin Pandi.


"Heii kenapa menangis", membawa Sandra kedalam pelukan nya.


"Kamu jahat, aku kira gak di sini", Sandra malah tambah kencang nangisnya, membuat Pandi tertawa kencang juga, merasa lucu.


"Udah dong nangisnya kan aku di sini", masih dengan tawanya.


setelah menangis Sandra makan dengan lahap sambil ngedumel. Pandi juga ikut makan dengan tenang di depan Sandra membiarkan gadis itu capek dengan sendirinya, lama ke lamaan bukan nya capek Sandra malah semakin ngoceh.


"Makan dulu yang benar ngomongnya nanti lagi stop dulu", ucap Pandi.


"Aku udah makan nya bang".


"Habisin itu masih ada sisa tidak boleh membuang buang makannan jangan kebiasaan".

__ADS_1


"Ya ampun ini tinggal se uprit lagi".


"Iyalah sayang kan", Pandi mengambil piring Sandra mengumpulkan sisa makannan di piring itu menjadi satu sendok dan langsung di suapkan ke mulut Sandra langsung.


Sandra mendelik melihat Pandi.


"Jangan protes kalau masih mau di temenin".


"Ngeselin mulu sih".


Tidak menghirawkan Sandra Pandi membereskan meja makan dan encuci piring bekas mereka pakai


"Kalau ada tugas sekolah kerjain langsung, sebentar lagi ada ujian kelulusan kan, masa gak lulus kan gak lucu".


"Iya deh yang paling pintar mah emang suka gitu".


"Iyalah".


"Kerjain tugasnya temenin ya", melas Sandra.


"Iya abang juga bawa kerjaan tadi, kamu kerjain tugas aku lanjutin kerjaan".


Mereka sibuk masing masing di ruang keluarga. Sandra yang lesehan menyelesaikan tugasnya, punggungnya dia senderkan ke kaki Pandi yang duduk di sopa melanjutkan kerjaan nya.


Sandra 1 jam juga sudah selesai mengerjakan tugasnya, dia milih menonton televisi badan nya masih bersandar pada kaki Pandi. Sudah jam 10 malam Pandi belum ada tanda tanda akan selesai pekeejaan nya itu.


"Belum, ngantuk tidur saja sana".


"Mau sama abang", Sandra duduk di sopa memeluk Pandi.


Pandi menaruh laptopnya yang dia pangku tadi, menghadap ke Sandra mengelus pipi wanita itu.


"Aku lelaki normal ya, jangan terus menguji kesabaranku, takutnya aku tidak bisa mengontrol diri", ucap Pandi dengan lembut.


"Jangan tinggalin aku ya, Sandra menatap Pandi".


"Tidak akan pernah, kecuali kamu sendiri yang meminta aku pergi lagi".


"Maaf soal kemarin, bukan maksud aku mengungkit apapun, aku hanya ingin kamu melihatku dengan pandangan berbeda, kamunya gak peka peka membuat aku tidak bisa menahan emosi", mata Sandra sudah berkaca kaca.


"Jangan nangis jelek nanti, Pandi mengecup kening Sandra, aku sekarang hanya bingung saja bagaimana menjelaskan semua ini sama Papa dan Mama, takutnya mereka tidak setuju dengan keadaan kita yang sekarang, tunggu aku sampai aku bisa berdiri di kaki aku sendiri ya".


"Abang serius?", tanya Sandra, air matanya sudah luruh.


"Serius, aku hanya merasa belum pantas mendapatkan kamu, aku belum pantas mengambil kamu dari mereka. Sekarang kita sama sama pokus ke tujuan dan cita cita kita dulu ya, kamu mau kan menunggu abang selesai kuliah dan mempunyai bisnis sendiri, gak mungkin abang terus terusan kerja di kantor Papa".


"Asal abang bisa jaga hati, hati kamu cuma milik aku ingat itu cuma milik aku".


"Iya sayang", Pandi mencium kepala Sandra lagi bertubi tubi.

__ADS_1


Di panggil sayang rasanya Sandra ingin pingsan akhhh gak tau dah gak bisa di ungkapakan dengan kata kata saking bahagianya.


"Mau dengerin abang gak?", tanya Pandi lagi. Sandra mengangguk


"Kita harus sama sama saling percaya saja, aku pasti lebih sibuk lagi dari ini, taun depan ingin segera selesai kuliah dan punya bisnis sendiri, bisa kan jaga komitmen kita, kamu juga sekolah yang benar kejar cita cita kamu banggain Mama sama Papa, kamu anak satu satunya, kamu harapan mereka selama ini".


"Iya bang, aku akan berusaha menjadi anak yang selama ini Papa sama Mama inginkan, bantu ingatkan aku ya", pinta Sandra.


"Pasti, do'ain abang juga supaya semua yang abang rencanakan sekarang berjalan dengan lancar, tapi pastinya kita akan sangat jarang bertemu, jangan jadi anak manja terus ya tunjukan kalau kamu bisa".


"Siap bos", Sandra memeluk erat Pandi, mereka saling berpelukan lama menguatkan masing masing, tujuan mereka sekarang pokus ke cita cita masing masing.


"Udah peluknya ya, takut khilap aku tidak bisa menjamin kalau terus terusan seperti ini, rumah lagi sepi juga", ucap Pandi, mencium pipi kiri dan kanan Sandra terakhir kening sangat lama.


"Yang ini nggak", tanya Sandra menunjuk bibirnya dengan senyuman mengejek.


"Bukan nya gak mau sih, simpan saja buat nanti kalau sudah halal, kamu jangan suka memancing ya", Pandi mnjawel hidung Sandra.


Sandra tertawa puas, ini yang dia tunggu tunggu balasan cintanya dari Pandi.


"Tidur sana, sekarang sudah puas kan dengar jawaban abang", Pandi mengelus kepala Sandra.


"Sebenarnya gak mau jauh jauh", Sandra cengengesan".


Pandi tertawa keras "Sini peluk lagi, merentangkan tangan nya, mendekap Sandra".


"Pasti bakalan kangen sama bau wangi ini", menghirup dalam dalam bau wangi Pandi.


"Jangan di lupain, kekeh Pandi. Aku akan usahain sesekali ada waktu buat kita berdua, tapi kalau gak ada jangan marah ya, kamu harus ingat kata kata abang, abang juga masih punya tanggungan adik sama ibu abang".


"Iya aku akan berusaha terus mempercayaimu, sesekali kasih kabar biar aku selalu percaya kalau kamu masih milikku dan tetap menjadi milikku".


"Siap tuan putri, sudah tidur sana lagian kita masih punya waktu besok lagi kan sebelum Mama sama Papa pulang".


"Oke aku tidur ya, jangan kerja terus, harus istirahat juga, aku juga gak bakal minta di nikahin besok ko", Sandra mencium pipi Pandi langsung berlalri menaiki tangga, sungguh merasa malu dengan perbuatannya sendiri.


Melihat Sandra yang seperti pencuri ketahuan sang pemilik nya, membuat Pandi tertawa.


•


•


•


Yuk pada sukses dulu ya, nanti baru lanjut lagi pacaran nya😊


🖤🖤🖤


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2