
Hampir 2 jam Sandra masih asik menyandarkan kepalanya di dada bidang Pandi, sambil bercerita tentang kesehaiannya selama menjalankan kuliah di negara L.
"Pegal gak?", tanya Sandra.
Pandi menggeleng sambil tersenyum. Dalam hatinya berkata, lebih pegal nunggu 2 tahun setengah daripada di senderin 2 jam begini.
"Mama sama Papa tau kamu pulang?".
"Tau dong, minggu kemarin Mama habis berobat di negara S, terus pulangnya jemput aku ke sana".
"Mama sama Papa gak bilang kalau mau brobat ke sana", keluh Pandi.
"Katanya gak mau terlalu banyak ngebebanin pikiran anak kebanggaan nya".
"Gak gitu setidaknya aku tau, meskipun aku gak bisa ikut ke sana".
"Udah ah udah lewat, Mama ngejalanin pengobatan juga katanya sekali lagi, itu juga cuman buat memastikan aja".
"Kamu udah makan belum?".
"Belum, laper sih tapi gak ada yang pesanin makan".
"Mau makan di luar apa makan di sini aja?".
"Di sini aja gak apa apa, keluar takutnya kamu sibuk", Sandra tidak mau memaksakan, dia tau sekarang Pandi terpontang panting ngerjain semua pekerjaan 2 kantor sekaligus.
"Sibuk sih, tapi gak apa apa kalau mau di luar ayo, kerjaan ntar aku kerjakan lagi setelah kamu makan".
"Nggak di sini aja, kamu lanjut aja kerjanya, aku mau nonton tar malem ada waktu gak?", tanya Sandra dengan hati hati bicaranya, sejujurnya dia takut menyita waktu Pandi, yang nantinya dia di anggap beban.
"Akan aku usahain buat kamu", cup Pandi mencium pipi Sandra.
"Terimakasih", senyum Sandra mengembang, walawpun Pandi belum pernah mengucapkan kata cinta namun perlakuaan nya sudah lebih dari cukup menandakan kalau lelaki itu sangat mencintainya.
"Tunggu di sini aku akan pesan kan", mengelus kepala Sandra lalu menciumnya, berjalan ke meja kerja untuk melanjutkan pekerjaan nya lagi.
Sandra duduk dengan tenang sambil sesekali menatap lelaki yang sedang pokus bekerja. Pesonanya semakin menjadi jadi deh, pantas saja Mama bilang banyak yang suka, banyak yang ngejar, tidak akan aku lepaskan dia milikku akan tetap menjadi miliku selamanya, batin Sandra.
Tak lama ada yang mengetuk pintu ruangan Pandi, Pandi berjalan benar saja Renaldi membawakan makannan yang dia pesan tadi.
"Makannan buat siapa?, tadikan sudah makan", ucap Renaldi, melihat ke dalam ruangan ternyata ada wanita cantik yang sedang duduk di sopa. "Pantas di kunci pintunya ternyata hahaha, jangan sampai bunting bro anak orang", bisik Renaldi.
"Sembarangan lo kalau ngomong, gue potong gaji bulan ini".
"Udah jadi bos mah ngancem nya potong gaji", Renaldi berlalu dari sana.
__ADS_1
Pandi menyiapkan makannan yang dia pesan tadi, di ruangan nya walawpun gak begitu besar namun sudah lengkap ada kulkas kecil dan lemari kecil untuk menyimpan peralatan makan untuk iya pakai sewaktu iya butuhkan.
"Makan yang banyak", Pandi menaruh 3 piring, 1 berisi piring nasi duanya lagi dia isi dengan sayur dan lauknya di depan Sandra.
"Terimakasih sayang", ucap Sandra sambil tersenyum. Akhhh demi apa, Pandi menjadi salting, hanya saja dia langsung membalikan badannya menyempunyikan kembang kempis hidungnya gara gara di panggil sayang.
Setelah lumayan bisa mengendalikan perasaan nya, Pandi membawa laptopnya ke sopa, tangan yang satu iya pakai untuk kerja yang satunya lagi iya gunakan untuk mengelus punggung Sandra yang sedang asik makan.
"Aaaa, Sandra menyuapi Pandi".
"Makan aja, aku tadi udah makan bareng Ibu, Mama, Papa sama Seli".
"Gak mau pokoknya harus makan ini juga".
Mau tak mau Pandi membuka mulutnya, walawpun perutnya masih terasa kenyang demi tidak membuat Sandra kecewa.
Selesai dan habis makannan yang Sandra makan sambil sesekali menyuapi Pandi, Sandra membereskan bekas makannan nya langsung iya cuci juga, sekarang sudah terbiasa mandiri dia bukan lagi anak yang manja.
"Besok mau ketemu Ibu sama adik boleh gak?", tanya Sandra sambil duduk lagi di sopa itu lagi.
"Iya boleh, Ibu juga mau tau calon menantunya kali", kekeh Pandi.
"Aaa malu jangan gitu hehehe", Sandra menyembunyikan mukanya di balik punggung kokoh Pandi. "Udah siap belum bilang sama Papa sama Mama?", tanya Sandra.
"Kata Mama kamu banyak yang suka, jujur saja gak tenang jauh jauh dari kamu takut kepincut hatinya sama orang lain".
"Hatinya kan sudah di gembok kamu, tenang saja".
"Gak bisa setenang itu Pandi Nasution, mana ada yang tau kan kalau jauh terus".
"Pindah aja kuliahnya ke sini".
"Emang udah aku urus semuanya, gak rela banget pacarku, calon suamiku bapak dari anak anakku di ambil orang, akan ku jadikan santapan harimau wanitanya juga".
"Galak amat ya ternyata calon ibunya anak anakku", Pandi tertawa.
"Bang", panggil Sandra.
"Iya apa", Pandi masih serius matanya ke arah laptop.
"Kapan sih bilang l love you Sandra sayangku cintaku gituke apake, inimah apa ya gak pernah di panggil sayang juga", derama Sandra.
"Harus gitu ya, gak cukup dengan pelakuanku selama ini ke kamu?", tanya Pandi sambil menaruh laptopnya di meja kecil yang ada di depannya itu.
"Nggak juga sih hehee, asal hatinya aja sepenuhnya buat aku".
__ADS_1
"Kalau hati jangan di tanya lagi itu sudah pasti, hatiku sepenuhnya buat kamu, aku memang bukan lelaki yang romantis seperti orang lain yang bisa mengungkapkan kata kata manis dan perlakuan manis terhadap pasangannya, Maafkan aku ya, tapi mulai sekarang aku akan selalu berusaha buat kamu", Pandi menggenggam tangan Sandra, bicara dengan serius.
Sandra menitihkan airmatanya terharu, sebenarnya dia tidak keberatan dengan cara Pandi menyampaikan cinta dan sayang kepadanya, meskipun terbesit dalam pikirannya ingin seperti orang lain.
"Maaf ya aku terlalu memakasa kamu".
"Udah jangan nangis, bukan salah kamu juga, Maafkan aku yang tidak peka ini", Pandi mencium kening Sandra sangat lama.
"Gak apa apa ko, tadi aku cuma mau ngetes kamu aja, seberapa besar sih cinta kamu ke aku, aku takut kamu melupakan janji kita".
"Memang banyak sekali wanita yang mendekatiku begitupun kamu kan, banyak sekali peria yang berlomba lomba ingin mendapatkan kamu, tapi hati kita sama kan, tujuan kita juga sama kan, jujur aku juga kadang merasa takut kamu membuka hati untuk mereka secara mereka semua lebih dari aku".
"Gak ada yang bisa gantiin kamu di hatiku, kamu cinta pertamaku, aku juga yang mengungkapkan perasaan lebih dulu sama kamu, nikah yuk hehee", di akhiri dengan cekikikan oleh Sandra.
"Udah siap punya suami, udah siap punya anak, kalau udah punya suami punya anak kamu gak akan bisa bebas", ucap Pandi dengan serius.
"Gak apa apa suaminya kan cakep, pengertian, pekerja keras, pintar sukses lagi hehee", kekeh Sandra.
"Ada aja jawaban nya", Pandi menyentil dahi Sandra.
"Iyalah, apalagi yang di cari, Mama Papa juga udah pasti gak bakalan nolak deh".
"Puasin dulu main mainnya nikmatin masa masa sekarang, tar kalau udah puas baru kita nikah, aku gak akan bebasin kamu lo kalau udah nikah".
"Maksudnya aku mau di kurung terus di kamar bikin anak yang banyak gitu".
"Bisa jadi seperti itu", ucap Pandi sambil menyeringhai.
"Dih mesum juga ya ternyata hahaha".
"Lelaki normal sayang, dah ah aku mau lanjutin kerja dulu, katanya nanti malam mau nonton".
"Cie sayang cieee, uyyy pacal aku sekarang udah bisa panggil sayang hahahhah", Sandra tertawa keras.
Pandi hanya menggeleng saja, jujur saja berasa keseleo lidahnya manggil sayang juga.
β’
β’
β’
π€π€π€ Happy reading π€π€π€
Happy Pandi and Sandraπππ
__ADS_1