
Setelah mengantarkan kak Lily dan anak anak nya ke bandara, sekeluarga itu niatnya mampir ke mall sekedar jalan di hari weekend menghabiskan waktu dengan keluarga.
Bu mirah ikutnya di mobil Pandi dan Sandra sedangkan Seli bersama Renaldi di mobil barunya yang belum lama Renaldi beli.
"Ibu jalan dulu yuk", ajak Sandra.
"Jalan kemana nak?", karena selama di jakarta bu Mirah jarang ikut jalan selain di paksa sama mama Selina.
"Kita mampir di mall depan aja makan siang di sana mau ya", membujuk mertuanya.
"Iya ayo", bu Mirah tersenyum pada menantunya, sebenarnya beliau tidak begitu suka jalan belanja atau apalah lebih suka di rumah merawat tanaman dan membuat kue atau cemilan lainnya, demi menantunya kali ini mengiyakan.
Girang nya Sandra sebab dia tau mertuanya itu tidak seperti Mamanya yang doyan belanja dan asik jalan, "Tuh kan Ibu mau, aku yang menang ya by", tersenyum mengejek pada suaminya, entah taruhan apa yang sedang mereka jalankan sekarang.
Pandi hanya melongos, matanya terus pokus ke jalannan, lagian mana ada Pandi kalah, batinnya.
.
.
Sedangkan di mobil yang satunya kedua anak manusia itu sedang diam diaman Renaldi pokus ke jalan mau memulai obrolan juga rasanya sangat sulit apalagi yang mau iya ajak bicara terus pokus ke ponselnya.
Seli yang sedang membaca deretan pesan dari nomer baru yang selama sebulan ini tak pernah absen mengirimkan pesan padanya, senyum senyum sendiri.
Jiwa kepo Renaldi sudah benar benar di ubun ubun dengan siapa wanita ini bertukar pesan, akhhh pikirannya sudah berkecamuk jangan jangan dia sudah mempunyai kekasih di sekolahnya, oh tidak tidak dia Seliku dia akan menjadi milikku.
Saking sudah tidak tertahan lagi Renaldi memanggil Seli dengan suara sedikit keras, "Dek", panggilnya sukses membuat Seli kaget.
"Astagfirullohalazim apa sih kak bisa gak manggilnya gak ngagetin huwhh bisa bisa jantungan aku", kesal Seli, cara manggil seperti tadi sudah bisa di kategorikan membentak bukan manggil.
__ADS_1
Cemburu gue Ya Allah ni anak gak bisa apa baca perasaan gue bentaran mah, lagian dia bertukar pesan sama siapa pake senyum senyum segala, giliran gue yang kirim pesan gak pernah di balas, ini apa coba dari tadi senyum senyum terus sambil menatap ponsel, batin Renaldi, "Maaf tadi bukan maksud membentak hanya repleks saja", kilahnya.
"Kebiasaan gak bisa bikin orang senang", gerutunya.
"Iya maaf ya maaf, boleh beli apa aja nanti di mall kakak yang bayar sebagai permintaan maaf", huwhh bisa bisanya gue gak bisa ngontrol diri.
"Gak mau aku mau pulang banyak tugas besok udah masuk sekolah kemarin kemarin belum keburu ngerjain capek juga, aku juga udah kirim pesan ke kak Sandra, kalau ka Ren mau ikut ya terserah aku pesan taxi aja", baru kali ini Seli banyak bicara panjang kali lebar.
"Yaudah kakak anterin ya, mau beli cemilan apa buat nanti".
"Gak ada kemarin sudah beli bareng kak Lily".
Ya Allah Renaldi hanya bisa membatin, mau gimana semakin dekatnya dengan anak ini sedangkan kalau di tanya juga di jawab seperlunya saja dan gak pernah nanya balik, huwaaa mahhh aku harus gimana supaya secepatnya bisa dapeti hati anak ini, menjerit dalam hatinya, kalau bisa iya karungin langsung di masukin ke karung agar hanya dia yang punya dan Seli miliknya.
"Kenapa sih dek gak pernah", akhh gue apa sih, mengerutuki dirinya sendiri.
Alis Seli menyengit bingung, gak pernah apa pikirnya, "Apa yang gak pernah?", tanya Seli.
"Ya emang kak Ren laki laki kan emang pernah Seli bilang kak Ren bencong atau waria atau apalah hahaaa ngaco", ucap Seli.
Deg.. Ya Allah gimana caranya gue ngomong sama ni anak, baru saja Renaldi membuka mulutnya lagi dan ponselnya Seli bunyi.
"Iya hallo".
.................
"Ehh gak bisa maaf ya".
...................
__ADS_1
"Iya lagi banyak tugas kak, kapan kapan aja ya maaf Seli kali ini gak bisa".
.................
"Iya maaf ya kak".
.....................
"Iya siang juga kak, Walaikum salam". Dengan senyuman merkahnya menatap ponsel lagi.
Percakapan Seli dengan tlpon nya, semakin membuat Renaldi bertanya tanya siapa yang tlpon di jawab dengan suara halus dan banyak maaf lagi, huwhhh semakin pening kepalanya memikirkan ingin secepatnya dan kapan dirinya bisa mengungkapkan perasaan ini pada Seli.
Sampai rumah Renaldi juga ikut masuk ke dalam rumah itu, di rumah bukan hanya Seli dan Renaldi doang di sana juga ada ART dan satpam di depan.
"Dek kerjain tugasnya di sini aja", ucap Renaldi seakan tak mau jauh dengan wanita itu yang dari tadi memporak porandahkan hatinya.
"Kakak gak pulang?", tanya Seli.
"Astagfirullohalazim ngusir", hati Renaldi mencleos.
"Ehhh gak gitu kak baperan amat sih Seli kan cuman tanya doang, yaudah aku ambil buku dulu tunggu di sini".
Sedangkan Renaldi hatinya merasa semakin terusik bicara Seli dengan tlpon tadi sangat lembut ya meskipun selama ini Seli bicara padanya juga selalu lemah lembut, entahlah Renaldi merasa Seli tadi terlalu lembut dengan tlpon nya tadi, mungkin karena dia cemburu.
.
.
.
__ADS_1
🖤🖤🖤 Happy reading 😍😍😍