ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
30.


__ADS_3

Di dalam mobil Sandra menangis terus membuat Pandi tambah pening.


"Mau sampai kapan nagis terus, memangnya saya memukulmu?".


"Bang Pandi jahat, jahattt", memukul bahu Pandi.


Pandi yang merasakan sedikit kebas di pundak nya membelokan mobil itu ke pinggir jalan, untung saja jalannan itu adalah jalan gang komplek jadi lumayan sepi. Menurunkan kursi kemudinya agar sejajar dengan Sandra yang duduk di belakang kemudi.


"Sejahat apa sih saya ini", tanya Pandi dengan suara datar nya. Apa karena saya sudah masuk ke keluargamu, tenang saja saya hanya butuh waktu sebentar untuk bisa menjauh dari Mama dan Papamu, saya juga tidak akan mengambil harta keluargamu sepeserpun di luar dari gaji saya saat bekerja di perusahaan Papamu.


"Bukan itu yang aku mau bang bukan", teriak Sandra.


"Terus apa yang kamu mau dariku, mau langsung aku menghilang dari keluargamu, mau langsung aku pergi, oke aku akan lakukan itu", suara Pandi juga meninggi.


"Kamu memang orang yang tidak peka, aku benci kamu benci bang Pandi benciiiii", Sandra memeluk Pandi memukul mukul punggung kokoh lelaki itu meluapkan kemarahan yang sudah berhari hari dia pendam.


"Kamu mau apa dariku, apapun yang kamu mau aku akan melakukan nya, kalau itu yang membuatmu bahagia", Suara Pandi tidak setinggi tadi.


"Kamu jahat, kamu gak mau ngertiin perasaanku".


Pandi melemahkan suaranya, dia harus sabar ngadepin Sandra yang di kasarin malah tambah rumit.


"Apa tolong bicara padaku dengan jelas, aku sudah mengakui kesalahan ku bukan, terus apa yang membuatmu benci padaku", suara Pandi melemah.


"Aku mencintaimu, aku gak mau kamu anggap aku adik, aku sayang sama kamu tapi tidak mau adik kakak".


Deg. Pandi tidak bergeming, apa ini apa yang di bicarakan Sandra tadi, Sandra mencintainya menyukai nya, apa dia benar mempunyai perasaan padaku. Jujur saja hatinya berbunga bunga mendengar pengakuan Sandra, dia harus memperjelasnya lagi.


"Apa yang kamu bicarakan, tolong perjelas lagi", tanya Pandi.


"Aku mencintaimu jangan tinggalkan aku".


Pandi memeluk Sandra sambil terkekeh, rasanya ini hanya candaan dari Sandra, setelah dia pikir pikir lagi mana mungkin Sandra menyukainya.


"Jangan bercanda, candaan mu itu garing", ucap Pandi sambil memegang dua bahu Sandra.


Air mata Sandra masih turun, rasa kesal masih menyelimuti hatinya.


"Aku gak bercanda", ucap Sandra sambil menunduk.


"Tatap mataku, kalau di ajak ngomong jangan menunduk, tidak sopan itu namanya". Ingin sekali Pandi rasanya memeluk perempuan itu lagi namu dia gengsi dong, berusaha sekuat tenaga menahan diri.


"Tuh kan ngeselin orangnya, sia sia banget aku ngungkapin isi hatiku", Sandra menghapus air matanya dengan kasar, malas sekali bicara sama lelaki yang tidak peka.


Pandi tertawa, "Mangkanya kalau cinta ya bilang cinta jangan suka marah marah tidak jelas".


"Malas, orangnya juga tidak peka tidak mau membalas perasaanku", menyembunyikan mukanya di balik tas.

__ADS_1


"Habis waktuku, kerjaan ku menumpuk gara gara begini doang. Pindah ke depan".


"Gak mau, sana kerja aku mau turun di sini, aku bisa jalan kaki dari sini atau naik ojek", ucap Sandra sudah mulai meninggi lagi.


Lelaki macam apa yang dia cintai ini, gak ada peka nya sama sekali, ungkapan perasaan nya gak di balas sama sekali.


"Pindah ke depan, kita gak jadi pulang ke rumah, kerjaan ku banyak".


"Gak mau aku mau pulang, males banget sama orang seperti kamu".


"Katanya tadi cinta, sayang, sekarang males marah, yang sebenarnya itu apasih benci apa cinta?", bukan nya gue gak sayang juga, tapi mau gue liat dulu sampe mana dia bertahan, batin Pandi.


"Orangnya gak peka gak nanggapin juga, Sandra melempar tas nya ke badan Pandi".


"Yaudah sini pindah ke depan cepetan aku banyak pekerjaan kalau gak jalan jalan nih mobil kerjaan ku semakin numpuk".


Dengan malas Sandra pindah ke depan, mengambil tas yang dia lempar tadi dari tangan Pandi duduk bersebelahan sambil manyun.


Pandi tertawa dalam hatinya, dia menjalankan mobil dengan hati berbunga bunga, yess kerja di temening seseorang membuatnya tambah semangat.


"Mau es gak?", tanya Pandi.


Sandra diam saja, malu kalau dia bilang mau, kalau bilang nggak, tapi mau.


"Tunggu di sini, aku beli dulu se cream nya", mengusap kepala Sandra. Turun dari mobil, Tidak lama Pandi masuk ke mobil lagi membawa pelastik berisi cemilan dan es cream.


Nyebelin bukan lelaki macam begini tuh, dia gak bilang gak suka tapi perhatian nya seolah menyukai kita, di bilang suka tapi gak ada kata suka yang keluar dari mulutnya.


Tanpa bilang apa apa lagi Sandra memakan es cream yang ada di tangan nya sampai habis.


Pandi mengeleng melihat kelakuan anak itu, di sumpel es cream saja diam.


Sampai perusahaan "Ayo turun", ajak Pandi.


"Aku pakai baju sekolah, malu masuk nya ke sana", Sandra menunduk, jujur saja walawpun itu perusahaan Papa nya dia hanya penah 1 kali masuk ke sana itupun dulu.


Pandi menlpon pinpinan karyawan OB, minta Renaldi untuk mengambilkan hoodie di ruangannya. Tak lama Renaldi datang Pandi membuaka jndela mobil.


"Ngapain lu mau pakai hoodie segala udah kaya cewek lagi pms aja".


"Banyak omong lu, sana kerja", usir Pandi.


"Kampret gak ada terimakasihnya sekali", kesal Renaldi.


"Tar gue kasih makan malam geratis".


"Oke sahabat gue emang lo".

__ADS_1


"Dih bangsat punya sahabat kaya elu".


Renaldi lari sambil mengacungkan jempolnya.


"Pake ini kalau malu", Pandi menyerahkan hoodie nya.


"Besar banget sih", gerutu Sandra.


"Pake aja tar sampe ruangan aku baru buka lagi".


"Mataku juga bengkak kan, jadi jelek deh".


Cewek seribet ini ya ternyata, batin Pandi.


"Ya makanya ngapain nangis nangis".


"Tau ah ngeselin mulu".


"Tapi cinta kan, hahahaa", tawa Pandi.


"Lama lama pasti hilang juga rasa cintanya, apalagi gak di balas, buat apa bertahan sama orang yang tidak mencintai balik, bikin sebel terus lagi ngabisin waktu doang".


"Yuk turun", gak bisa bilang apa apa lagi Pandi merasa sudah mati kutu dengan ucapan Sandra.


Mereka turun dari mobil, semua karyawan di sana tau kalau itu anak bos nya, tapi tumben datang ke kantor pikir mereka.


Masuk ke dalam ruangan Pandi, tidak gede sih namun lumaya luas ada satu sopa dan meja kecil, nyaman bersih tertata rapih, karena Pandi tidak membiarkan sembarang orang masuk ke dalan ruangan nya, hanya Renaldi, Papa Handra dan sekrtarisnya Papa Handra, yang biaa masuk ke ruangan itu.


"Duduk si sini, aku kerja dulu, makan cemilan nya".


Sandra nurut saja duduk di sopa itu, membuka ponselnya niat mau nonton sambil makan cemilan ternyata ponselnya mati kehabisan daya.


Berjalan ke meja Pandi menunduk malu. "Bang boleh pinjem ponsel gak, punyaku mati".


"Mangkanya di sekolah belajar bukan mainnin ponsel", Pandi memberikan ponselnya.


Baru saja membuka layar ponsel lelaki itu Sandra sudah terkejut.


Pantas saja, perasaan nya tidak di balas oleh Pandi ternyata...





❤❤❤ Happy reading😘😍

__ADS_1


__ADS_2