
Jam 12 lewat kedua manusia itu baru saja keluar dari kamar, yang satu terlihat wajah segar dan berseri seri beda dengan yang satunya lagi yang menekuk muka terus.
Fely di buat kesal karena Rafael tidak memberi ampun padanya, dari sebelum jam 8 pagi sampai jam 12 siang benar benar terus di bawah kungkungan laki laki itu.
Ada menyesalnya juga tidak milih pergi ke kantor saja, kalau tau gini jadinya Fely lebih baik kerja, bukan tidak ikhlas tapi gak gini juga kan waktu masih banyak.
Badan terasa remuk, jalan pun rasanya malas saking capeknya.
Rafael melihat Fely berjalan dengan malas, sangatlah lucu menurutnya, ternyata walawpun sekian tahun tidak mengasah kemampuan dirinya masih mampu bahkan sangat kuat.
"Apa senyum senyum", ketus Fely, sambil masuk kedalam mobil.
"Sayang maaf ya, sumpah aku gak akan ulangin lagi kaya tadi", meyesal banyak bahagianya, " kalau gak khilap sih", cicitnya lagi.
"Kamu itu emang gak berubah dari dulu tetap ngeselin".
"Maklum sayang namanya juga pengantin baru, aku sudah lama puasa jadi rasanya sangat di sayangkan menyia nyiakan waktu sedetik juga".
"Ehh Mih nonton yuk, atau mau jalan jalan kemana saja aku temennin", berusaha mengalihkan topik, muka Fely mulai tidak bersahabat matanya sudah mendelik.
"Gak usah ngalihin topi, gak mempan".
"Istriku cintaku maaf ya, mau apa sayang ayo bilang aku beliin sebagai permintaan maaf dari suamimu ini".
Haihhh istriku lebih kaya lagi dari gue, batinnya.
"Seminggu gak ada jatah kaya gitu lagi".
Hahhhh, muka Rafael melongo, masa iya baru juga buka puasa sudah langsung di setop lagi 1 minggu.
__ADS_1
"Sayang ko gitu sih, ayolah Mih maaf ya".
Fely memilih terdiam membungkam mulutnya menahan tawa, ahhh muka Rafael ketar ketir kaya gini sangatlah lucu.
"Sayang kakak baru juga buka puasa loh, tega banget sih Mih".
"Siapa yang paling tega hayo, nyiksa istri aja gak tega".
"Tapi kamu juga menikmatinya kan, ayo dek jangan bikin kakak gagal pokus juga nih".
"Udah sih nyetir aja yang benar, sebentar lagi Dava keluar sekolahnya, kita yang jemput telat jam segini baru keluar rumah".
"Janji dulu gak marah lagi sama aku sayang ya".
"Iya bawellll".
Tangan Rafael terus menggenggam tangan Fely selama dalam perjalannan, sesekali mengecup punggung tangan istrinya.
"Impian Dava pas pertama sekolah pulang di jemput Mami Papi katanya kak".
"Aku ayah yang buruk memang, melewatkan semua momen dengannya".
"Kamu baik banget buat dia ko, dia bisa kemanapun juga uang kamu itu hehee".
"Maaf belum bisa menambahkannya lagi".
"Itu juga masih banyak, suamiku ternyata kaya juga ya hehee".
"Sekarang lebih kaya istriku, aku tidak punya apa apa".
__ADS_1
"Memang duit suami duit istri, berapapun kekayaan suami ya itu semua kekayaan istri hahaa".
"Ikhlas asal jangan tinggalkan aku selamanya".
"Tuh Dava Pih", tunjuk Fely.
Dava yang merasa di panggil langsung keluar berhambur ke pelukan Papi nya.
"Papi, Mami horeeee", pertama kali di jemput dengan lengkap ada Mami dan Papi.
"Anaknya Papi, gimana sekolahnya sayang?", memangku Dava dan menggandeng tangan istrinya.
"Seru banget, besok ada acara ulang tahun sekolah ini, Papi sama Mami kesini ya".
"Tentunya sayang itu pasti", Rafael mencium pipi anaknya yang mulai terlihat gembul.
"Mau makan dimana?, makan apa sayang?".
"Di rumah aja yuk, mami yang masak".
Keduanya antusias mendengar mami yang mau masak, Fely memang jarang masak karena sangat sibuk bekerja, untuk hari ini dirinya khususkan buat 2 belahan jiwanya.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤