
Ini hari ke tiga setelah merasakan kontraksi palsu, Sandra sekarang jalan dan aktivitas lain juga lebih sangat hati hati, bahkan hanya pas makan saja naik turun tangga nya.
Kemarin sudah tidak terasa apa apa lagi sudah seperti biasa, berbeda dengan hari ini, pinggang terasa panas perut juga terasa gak enak lagi, entah lah baru merasakan seperti ini jadi gak tau ini namanya kenapa.
Padahal baru saja naik ke kamarnya setelah sarapan dan mengantarkan suaminya kerja ke depan, "Duhhh kenapa ini ya", keluhnya mondar mandir terus di kamar, "Apa aku bilang aja ke Mama", setelah iya pikir pikir lebih baik bilang ke Mamanya.
Menuruni tangga dengan hati hati karena perut terasa mau jatoh.
"Mama", panggilnya setelah menemukan sang ibu sedang berada di ruang tengah.
"Iya kenapa sayang?", menyengit bingung.
"Maa, janji dulu gak panik ya".
"Iya ada apa?, kamu kenapa?".
"Perutku rasanya mau jatoh, pinggang juga terasa panas", keluhnya.
"Ya Allah sayang ayo kita ke rumah sakit sekarang, biiiiiiii tolong tlpon bapak suruh pulang lagi, mbak tari tolong ambilkan koper perlengkapan di kamarnya Sandra, pak Sumarna siapkan mobil cepatttt kita bawa Sandra ke rumah sakit sepertinya mau melahirkan", paniknya berteriak, suara Mama Selina penuh seisi rumah menggema, para art juga ikut panik mendengar teriakan nyonya besarnya.
Sedangkan Sandra lebih ke menutup telinga mendengar teriakan Mamanya.
"Ayo sayang bisa jalan gak, aduh gimana ini, Pandiii pulang nak Mama bingung gimana cara gendong Sandra duhhh gimana ini mbakkk", semakin panik.
"Mama tenang dulu, aku gak kenapa napa masih bisa jalan ko", heran dengan Mamanya yang malah lebih panik dari dirinya.
__ADS_1
"Kamu mau jalan gimana, bisa jalannya duhh sayang beneran bisa jalan?", tanya nya lagi.
"Iya Mah".
"Ayo ke mobil sekarang sayang, mbak ayo bantu jalan ke mobil".
Setelah masuk ke mobil, Mama Selina langsung menlpon Pandi agar menyusul mereka ke rumah sakit tempat persalinnan.
Pandi yang baru saja sampai kantor dan baru mau masuk ke dalam lift menuju ruangannya, tak kalah panik dari Mama Selina, langsung lari lagi ke luar menuju mobilnya lagi.
Renaldi yang baru sampai dan memarkirkan mobilnya di buat bingung melihat Pandi lari dengan muka paniknya.
"Heii lo mau kemana, kenapa?", tanya Renaldi bingung.
"Sandra mau lahiran Ren gue titip kantor", paniknya.
"Cepat Ren bawa mobilnya", teriak Pandi karena merasa mobil yang Renaldi bawa seperti semut berjalan.
"Sabar Pan, bisa bisa kita bahaya kalau lebih cepat dari ini, ini juga sudah lebih di atas rata rata".
Akhhhh Pandi mendesah prustasi, "Gue takut istri dan anak gue kenapa napa Ren".
"Berdo'a aja, sekarang mereka butuh do'a dari lu, sebentar lagi kita Sampai".
Dengan gusar Pandi hanya bisa sabar dan berdo'a, karena sadar jika mereka terlalu kencang bawa mobil bukan hanya dirinya yang bahaya bahkan pengemudi lain juga bisa bahaya.
__ADS_1
Setelah sampai Pandi langsung turun dari mobil, "Ren lo nyusul gue duluan", ucapnya sambil berlari.
"Ya gue cari parkir dulu", batin Renaldi sebab Pandi sudah entah kemana larinya. "Cek calon bapak baru itu secepat kilat amat larinya", hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tak lama Pandi teriak lagi padanya agar menjemput Ibu Mirah, Renaldi tak jadi parkir akhirnya iya melajukan mobil Pandi lagi.
Pandi masuk ke ruangan persalinnan dengan, panik tegang sedikit merasa takut juga, bergantian dengan Mama Selina, "Sayang maaf aku telat", langsung mengelus dan mencium kepala istrinya.
"Ehhh bang, gak apa apa, kenapa ngos ngosan banget habis lari?",selidiknya.
"Apa sakit?, apa yang kamu rasakan sekarang sayang?".
"Gak apa apa kata dokter juga ini hal yang biasa bagi ibu yang mau melahirkan, kamu kaya Mama mukanya panik banget".
"Aku takut, takut kamu kenapa napa, takut kamu kesakitan".
Mengelus rahang suaminya sambil tersenyum, "Tenang aja ya aku gak kenapa napa, kamu hanya perlu do'ain supaya semuanya lancar aku sehat baby juga sehat, kita cepat ketemu sama adik bayik yang selalu menyembunyikan punya nya hehee", Sandra juga sebenarnya bukan tidak takut dan tak panik, ini adalah pengalaman pertamanya namun iya selalu berusaha santai dan rileks seakan fine fien saja, padahal hati dan jiwanya bergemuruh. "Kata dokter ini baru pembukaan ke tiga, dan perkiraan lahir jam 10 atau 11 siang do'ain semoga lancar".
"Lama amat sayang, Aamiin aku akan selalu do'ain kamu dan anak kita, kalau sakit atau apa bilang ya".
Mereka berdua bisa leluasa ngobrol sebab di sana hanya ada mereka dokter dan perawat lainnya ada di ruangan sebelah.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading🖤🖤🖤