
Keesokan harinya Renaldi yang menjemput Seli pulang sekolah mereka di ikuti mobil hitam dari belakang.
Renaldi sudah curiga dengan ini semua, dari tadi dia sudah melihat gelagat dua manusia yang sangat aneh baginya.
"Dek pegangan yang kenceng ya".
"Knapa kak?", tanya Seli bingung.
"Ada mobil yang ngikutin kita, tapi jangan takut ya pegangan ja yang kenceng kakak mau ngebut bawa mobilnya".
"Duhh gimana dong kak", Seli mulai panik namun dia menurut apa yang di katakan Renaldi.
"Kakak mau kenceng bawa mobilnya ya, kalau takut merem aja".
"Iya kak hati hati", Seli sudah ketakutan.
Untung saja mobil Renaldi sudah lebih melaju dan mobil hitam yang ada di belakang Renaldi terhalang lampu merah.
Ya Allah sumpah gue juga takut bawa mobil kaya gini, batin Renaldi karena dia belum terlalu lihai membawa mobil apalagi yang dia bawa Seli semakin membuatnya bertambah gerogi.
Untung saja mereka selamat dari kejaran mobil hitam itu. "Dek, udah kita aman sekarang".
"Kak Seli takut, siapa mereka?", air mata Seli sudah tak tertahan lagi.
"Mereka bukan siapa siapa, jangan takut ya, hati hati aja dan jangan keluar rumah sendiri", Renaldi mengelus kepala Seli.
"Iya kak".
Sumpah gak tega banget gue ngeliat muka ketakutannya, batin Renaldi. Gue akan berusaha jaga dia meskipun nantinya bukan jodong gue, gak bisa memaksa kehendak Allah namun gue akan selalu berusaha mendapatkannya tanpa harus memaksa juga.
Setelah mengantarkan Seli sampai rumah dengan selamat Renaldi melajukan mobil yang iya bawa lagi ke perusahaan.
__ADS_1
.
.
.
"Bos", ucap Renaldi dengan sedikit ter engah engah.
"Ck kebiasaan lu, salam dulu napa sih", ucap Pandi.
"Ya gue lupa Maaf, tadi gue dan Seli di ikutin mobil hitam di belakang".
"Terus gimana adik gue", kaget Pandi.
"Seli aman gue bawa ngebut meskipun dia ketakutan, untung saja mereka terhalang lampu merah".
"Benar juga kan dugaan gue, Daren akan gerak cepat dengan cara gila".
"Iya kita harus hati hati, gue hanya takut Ibu dan Seli yang mereka incar Pan".
"Rencana mereka memang selicik itu".
"Malam ini lu jemput mereka Ren, bawanya ke apartemen dulu takutnya sekarang Daren sudah mengutus anak buahnya untuk mengikuti kita".
"Oke gue sudah hubungi juga kemarin dan mereka langsung siap Pan".
"Syukurlah kalau gitu".
"Atur rencana sekarang Pan sebelum kita telat".
"Gue sudah pegang 2 bukti besar, dia ternyata salah satu pemasok bahan haram dan penggelapan dana juga, satu lagi dia juga tidak bisa melawan istrinya karena semua harta kekayaan berasal dari keluarga istrinya".
__ADS_1
"Apa kita bawa saja istrinya untuk memergoki kelakuan mereka berdua ya".
"Itu yang gue rencanain sekarang, istrinya begitu bodoh karena terlalu percaya sama suami penghianat sepertinya.
"Jika semua bukti sudah kumpul kita jangan menunda nunda waktu lagi".
"Ya sudah sekarang saja elu pergi jemput mereka untuk membantu kita buat jaga jaga saja".
"Oke gue pergi sekarang".
"Ya hati hati ada apa apa langsung kabarin gue".
.
.
"Bodoh sekali kalian di suruh mengikuti bocah saja tidak mampu", teriak Stela, Daren di sana hanya diam saja mendengar teriak Stela yang begitu keras.
"Maaf nona kami terhalang lampu merah tadi", ucap kedua lelaki suruhan Daren.
"Bodoh bodoh sangat bodoh kalian".
"Maafkan kami nona", dua peria yang menghadap Stela dan Daren hanya bisa menunduk.
"Sayang aku mau secepatnya mereka ke tangkap", Stela menggelayut manja pada Daren.
Sedangkan Daren menanggapi permintaan Stela hanya dengan anggukan saja, sekarang sudah mulai terpikir Stela sering sekali menyusahkannya dengan segala tuntuttan dan keinginnan yang tak wajar, walawpun dia juga menyimpan dendam ke Pandi gara gara sudah mengalahkannya memenangkan tender besar setahun yang lalu.
.
.
__ADS_1
.
🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘