ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
69.


__ADS_3

Segala persiapan sudah matang dengan bantuan Reja, memang tidak mewah dan megah, hanya dinner keluarga yang Pandi siapkan.


Tiga wanita berbeda umur itu baru kembali kumpul lagi setelah muter ke segala arah.


"Maaf ya Lily jadi lupa kalau ninggalin anak", ucap kak Lily, merasa bersalah telah menitipkan anaknya hampir 2 jam.


"Gak apa apa sayang si kecil juga tidur ko, kakaknya anteng banget", Mama Selina tersenyum.


"Gak apa apa nak, mumpung ada Ibu sama Mama bisa jagain anak anak hahaa".


Sedangkan dua manusia yang dari siang masih belum akur, baru juga Pandi melirik Sandra namun sudah dapat plototan dari wanita itu, mendapat pelototan bukannya takut malah tangan Pandi gatal ingin mengisenginnya.


"Ibuuu kenapa sih anak Ibu itu nyebelin banget", ucap Sandra karena Pandi menarik jepitan yang iya pakai.


"Kenapa nak sini dekat Ibu, ucapnya pada Sandra. Abanggg kebiasaan ya demen banget usil", Pandi langsung mendapat pelitotan dari Ibunya, sedangkan Sandra menggelendot manja pada Bu Mirah.


"Dih gitu doang ngadu", ucap Pandi sambil mendekat.


"Apasih dari tadi nyebelin terus dih, sana geser ngapain harus dekat dekat", Sandra memilih pindah tempat ke samping Papa Handra.


Sebalnya Sandra bukan tanpa alasan, dia selalu menunggu kapan kapan dan kapan Pandi akan jujur pada keluarganya, mengingat setiap rekan bisnis Papa nya yang mempunyai anak lajang juga selalu ingin menjodohkan dirinya dengan anaknya Sandra sebal sendiri.


Pandi yang tak kunjung memberi kepastian dan tak kunjung jujur sedangkan yang mendekati Pandi juga bukan hanya satu atau dua wanita saja.


Melihat Sandra yang malah menghindar dan menjauh darinya Pandi bangkit dari duduknya.


"Bu Ma, Pa kak Pandi pergi dulu ya".


"Mau kemana sayang", tanya Mama Selina, sebenarnya tidak enak hati juga melihat anak nya yang seperti itu.


"Ada urusan sebentar".

__ADS_1


"Gue ikut gak nih", ucap Renaldi.


"Gak usah lu jagain semuanya aja di sini gue juga gak lama ko".


"Jangan lama lama Pan", ucap Papa Handra.


"Iya Pa, Pandi pergi ya", Pandi melangkah dengan muka yang kurang bersahabat jalannya pun sangat cepat, semuanya tidak lepas dari pandangan Sandra.


"Sayang gak boleh gitu sama abang", Mama Selina menasehati Sandra.


"Dianya nyebelin terus Ma".


"Sandra", ucap Papa Handra tanpa melirik anak nya.


"Iya Pa", Sandra tau kalau Papanya sudah menyebut namanya tandanya sedang menahan emosi.


"Udah gak apa apa sayang jangan di tekuk gitu mukanya emang abangnya aja yang jail", ucap Bu Mirah yang melihat muka Sandra sedikit memerah.


"Iya udah ah abang juga gak mungkin marah cuma gara gara kayak gitu doang, udah kak Sandra jangan sedih sedih", Seli juga menimpali.


"Udah kita cari tempat makan aja yuk", ucap Mama Selina.


"Iya benar kata Mama tuh Ibu juga udah laper hahaa", Bu Mirah mencairkan suasana.


Akhirnya mereka siap siap mencari restoran, Pandi sudah mengirim tempat makan malam ke Papa Handra jadinya mereka tidak sibuk sibuk mencari tempat makan.


Sudah satu jam lebih Pandi belum muncul juga, Sandra sesekali melirik pintu restoran itu, aneh katanya restoran tapi hanya ada mereka doang, restoran ini termasuk restoran besar dan bagus juga.


Makannan sudah siap dan semuanya siap untuk makan, Papa Handra sudah memimpin do'a makan, yang ada di sana sedang pada makan namun Sandra hanya mengaduk ngaduk nasi yang ada di piringnya doang.


"Makan sayang, kenapa?", tanya Mama Selina.

__ADS_1


"Gak selera Ma", Sandra menaruh sendok dan garpu yang iya pegang, lalu pergi ke toilet.


"Hahaa anak Mama tuh percis banget Mama dulu", ucap Papa Handra.


"Anak Papa juga, sipatnya 11 12 sama Papa keras kepala".


Sedangkan Sandra di toilet sudah menangis sesegukan sudah dari tadi dia menahan tangis itu.


"Ngapain nangis di sini?".


Suara yang sangat sangat Sandra kenal dan orang itulah yang sudah membuatnya menangis juga.


"Jahat".


"Jahat apa lagi sih, salah mulu gue", Pandi yang telah selesai mencuci tangan nya berlalu dari sana, namun baru juga tiga langkah sudah di hentikan dengan pelukan yang begitu kencang dari belakang punggungnya.


"Kenapa kamu tuh gak pernah mau ngertiin perasaan aku".


"Gak ngertiin gimana, perasaan selama ini gue selalu ngertiin waktu juga selalu gue sempatin".


"Kenapa jadi elu gue, kenapa jadi kamu yang marah".


"Ya terus harus siapa yang marah, sudah lah saya laper", Pandi melahngkah tanpa memperdulikan Sandra.


.


.


.


.

__ADS_1


🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘


__ADS_2