
Renaldi setengah berlari masuk ke dalam kantor juga sebab Pandi tadi sudah menlpon nya sampai 2x.
"Gila habis gue pasti, gue kenapa sih bego banget tadi gara gara cemburu", huwahhh membuang napas dengan kasar, Renaldi masuk ke dalam lift juga sambil ngos ngosan.
Baru saja mau melangkahkan kaki keluar dari lift sudah mendapat tatapan tajam dari Pandi.
"Darimana lu?", tanya Pandi bersedkap dada, matanya menatap tajam.
"Jemput Seli", jawabnya, sumpah demi apa gue juga takut banget kalau liat Pandi lagi kaya gini, batinnya menggeridik ngeri.
"Seli pulang jam berapa?, lu keluar dari kantor jam berapa?, apa yang terjadi?", Pandi berlalu dari hadapan Renaldi.
Andai saja adiknya tadi tidak mohon mohon agar abang dan kakak nya itu tidak bertengkar hanya karena masalah sepele, mungkin Pandi sudah menghajar Renaldi yang sudah dia anggap saudara kandungnya itu.
Awalnya Pandi diam saja, dia tau kalau Renaldi menyukai Seli selama ini, bagi Pandi terserah adiknya mau sama siapapun juga asal menuntaskan sekolah melanjutkan kuliah dengan benar, tidak mempermasalahkan dekat dengan kalangan manapun selagi itu baik, toh dirinya juga dulu tak punya apa apa, asal mau berusaha, bekerja keras dan tidak menyakiti adik kesayangannya.
Pandi tidak mau adiknya bekerja keras seperti dirinya, walawpun begitu pendidikan harus tetap nomer 1 karena guru anak anaknya nanti yang pertama adalah ibunya karena Seli wanita, pikirnya.
Untuk apa bawa mobil ugal ugalan gak ada paedahnya juga yang ada hanya celaka, menurut Pandi kalau suka ya bilang bicara pelan pelan, Pandi juga akan sangat mengerti karena di jaman sekarang jangankan adiknya yang sudah kelas 11 SMA bahkan anak SMP atau SD juga mungkin sudah punya pacar, pacaran di jaman sekarang hal normal meskipun Pandi juga tidak membenarkan, asalkan bisa saling menjaga dan tidak melewati aturan.
.
__ADS_1
Renaldi masuk ke dalam ruangannya dengan merasa sangat bersalah, "Begonya gue sudah sudah meruntuhkan kepercayaan nya, begonya gue sudah mencelakai wanita yang gue sayang dan suka selama ini, kenapa otak gue begitu bego hanya karena cemburu hampir menghilangkan nyawanya".
Mau menghadap langsung ke Pandi, Renaldi merasa tidak punya nyali sedikitpun, tadi dia sudah melihat raut wajah lelaki itu bahwa sedang kecewa dan marah padanya.
"Ya Allah gue harus apa", bingungnya mondar mandir di dalam ruangannya.
Gusar tak bisa apa apa, tidak tau harus gimana, mencoba memberanikan diri keluar dari ruangannya dan akan menghadap ke Pandi apapun nantinya akan iya terima, masa iya dia mau menjadi pengecut.
"Gue emang salah bahkan salah banget, tapi kalau diam terus seperti ini gue seperti pengecut, Ya Allah tolong aku semoga aku tidak di cingcang oleh Pandi, meskipun aku belum lihat Pandi meningcang manusia tapi takut", gumamnya.
Keluar dari ruangannya dan baru saja Renaldi mau mengetuk pintu bosnya, sudah di cegah terlebih dahulu oleh sang sekertaris Wulan. "Pak Ren jangan", ucapnya Wulan dia sudah deg degan hampir saja kecolongan, akan habis nanti dia di omelin bos nya.
"Hahh kenapa?", bingung Renaldi.
"Akhhh Terimakasih telah menyelamatkan nyawaku", habis sudah riwayatku jika aku sampai mengganggu pengantin baru itu, sudah mah Pandi sedang marah padaku apalagi jika di tambah ganggu dirinya yang sedang asik sama bininya, huwhhh entahlah akan seperti apa jadinya aku nanti, gerutunya.
Dengan langkah gontai masuk lagi ke ruangannya, secepatnya menyelesaikan pekerjaan agar tidak di amuk oleh singa itu.
.
.
__ADS_1
Sedangkan yang ada di ruangan itu Sandra dari tadi sudah berusaha mengontrol emosi suaminya, jika sedang marah dan kesal seperti ini kelihatannya seperti bukan Pandi.
Sandra yang duduk di pangkuan suaminya dengan nyaman dia menyenderkan kepalanya ke bahu sang suami, "Sayang udah dong marahnya ih", mencolek colek dagu Pandi.
"Siapa yang marah marah", Pandi melirik wanita manja yang ada di pangkuannya karena dari tadi dia pokus ke laptopnya.
"Kamu lah siapa lagi", cup Sandra mencium bibir suaminya.
"Sayang jangan suka mancing kalau tidak mau sampai tidak bisa jalan", melirik wanitanya lagi, dan tanpa aba aba Pandi langsung mengangkat wanitanya membawa ke sopa yang ada di sana.
Sandra mengelus rahang suaminya, sambil terus menatap lelaki yang ada di depan matanya, "Udah marahnya ya kasian kak Ren pasti takut sama kamu by, kamu juga pernah merasakan cemburu kan dan cemburu itu gak enak, pasti melakukan hal konyol yang tanpa di sadari".
"Tapi gak gitu sayang itu kan bisa menghilangkan nyawa, aku tidak mau kehilangan orang orang yang aku sayangi lagi, aku bukan hanya menyayangi Seli, aku juga menyayangi dia yang sudah ku anggap saudara sendiri, Renaldi bukan pembalap handal dan itu jalan umum untung saja mereka berdua tidak ter pental juga, jika tidak di ingatkan dan di beri pelajaran dia akan terus mengulang ngulang kesalahan lagi".
"Iya aku tau, bicara baik baik ya dan bilang padanya dekati Seli dengan pelan, sepertinya Seli juga menyukai peria itu by, aku pernah melihatnya bertukar pesan dan dia sepertinya menyukai anak itu, cinta tidak bisa di paksa apalagi kan Seli menganggap ka Ren kakak nya sendiri, jadi pasti sangat susah baginya menerima kak Ren dengan embel embel lain".
.
.
.
__ADS_1
Happy reading🖤🖤🖤