
Sudah tiga hari mereka semua merasakan kekeluargaan yang begitu hangat meskipun di antara tiga keluarga itu tidak ada ikatan darah sedikitpun.
Kak Lily yang sangat sangat merasa paling bersyukur, di balik luka hatinya yang begitu dalam di hianati oleh 1 orang kini Allah gantikannya dengan yang lebih lebih bahkan dua paket keluarga sekaligus.
Cinta yang begitu besar terhadap suami meskipun ada namun di anggap tak ada oleh mertua iya selalu telan sendiri tanpa pernah berbagi luka itu ke siapapun, meskipun suami semakin hari semakin acuh setelah 2 tahun pernikahan iya selalu berpikir positif bahwa memang suaminya sibuk dan capek kerja, meski banyak omongan miring yang terus berbisik di telingannya dia selalu percaya kalau suaminya tidak mungkin melakukan itu tidak mungkin berhianat.
Kini mereka semua sedang kumpul merayakan ulang tahun Seli yang ke 18 tahun.
"Yaudah adek dari kakak maunya hadiah apa?, ini spesial loh kakak akan kasih apa yang adek mau", ucap kak Lily.
"Wihhh calon janda tajir melintir mah emang kaya gitu suka gak tanggung tanggung kalau kasih hadiah", ucap Sandra sambil tertawa.
"Gak mau apa apa kak, cukup do'a aja buat Seli".
Pandi tersenyum, adiknya tidak pernah meminta apapun selain uang jajan 25 ribu setiap pergi ke sekolah, kadang dia juga bingung pernah beberapa kali di kasih 50 ribu tapi selalu di tukar ke Ibunya mau tetap 25 ribu yang dia bawa.
"Benar nih gak mau apa apa", bingung kak Lily.
"Iya kak", Seli tersenyum, apalagi yang dia mau gak ada hidup udah seperti sekarang saja sudah bersyukur banget.
"Kalau dari Mama sama Papa mau apa?", tanya Mama Selina.
__ADS_1
"Gak ada juga Ma, Seli maunya Mama sama Papa tetap baik dan sayang sama Seli Ibu dan abang", ucap Seli lagi.
"Bangga gak tuh Pa, anak gadis mana lagi yang gak pernah minta apa apa di kasih juga gak mau", Mama Selina terkekeh.
"Beda sama yang di sebelah Ma", Papa Handra menyindir anak nya.
"Apa maksud Papa nyindir aku ya", ucap Sandra.
Semua yang ada di sana menertawakan Sandra. "Yang merasa aja Papa mah gak pernah nyindir".
"Dihh Papa mulai gak asik deh", Sandra membuang muka nya.
"Udah jangan terlalu di manja takutnya nanti dia besar kepala", ucap Bu Mirah.
"Iya mbak lagian Seli tidak pernah minta yang aneh aneh kalau gak di belikan, di beliin juga susah banget buat pakainya kalau gak di suruh", ucap Mama Selina lagi.
Sering sekali Mama Selina membelikan baju sepatu tas dan aksesoris lainnya kalau gak di suruh di pakai gak bakalan Seli pakai malah yang di pakai nya itu itu saja kadang Mama Selina gemas sendiri dengan anak gadis ini.
"Iya Ma, sebulan yang lalu Lily juga kasih sepatu terus kemarin Lily liat lagi tuh sepatu masih dalam dus nya aja di coba juga belum kali".
"Kan sayang kak, ada yang masih bisa di pakai ya abisin dulu", Seli tersenyum.
__ADS_1
Sedangkan kak Lily hanya bisa menggelengkan kepala, padahal Seli sekarang hidupnya sudah serba ada bahkan sangat ada, Bu Mirah juga yang di pakai daster nya itu itu aja yang sudah di jahit beberapa kali, padahal dia juga sudah membelikan beberapa baju yang bermerek.
"Sini dekat Mama sayang", panggil Mama Selina.
Seli mendekat dan duduk di antara Papa Handra dan Mama Selina.
"Ini pakai ya jangan pernah di copot oke", Mama Selina memakaikan kalung ke leher Seli.
"Ma ini berlebihan", Seli gak enak hati.
"Gak ada yang berlebihan sayang, hiduplah dengan layak Papa tidak mau mendengar ada yang menghina kamu lagi, kalau sampai di sekolah itu ada yang menghinamu lagi akan Papa robohkan sekolah nya juga", ucap Papa Handra, sebab beliau pernah berkunjung ke sekolah itu karena sekolah kejuruan iyalah pemotivasi nya, mendengar ada yang merendahkan Seli membuat darah nya mendidih beliau sudah menganggap Pandi dan Seli anak kandungnya sendiri, andai bukan anak di bawah umur yang bicara seperti itu sudah iya seret.
"Nah Seli ngerti kan kata Papa, kami sangat menyayangi kamu nak jadi mulai sekarang jangan merendah terus, jangan meninggi juga harus bisa melawan sayang, Mama gak mau anak Mama di rendahkan lagi kalau kita benar ya lawan jangan takut ada Mama sama Papa".
"Terimakasih", mata Seli berkaca kaca memeluk erat Mama Selina dan Papa Handra.
Bagi Seli hinaan dan cemoohan orang kepadanya sudah biasa dia sudah kebal dengan berbagai cacian jadi masabodo sama orang orang yang merendahkannya toh hidupnya tak di tanggung sama orang itu.
.
.
__ADS_1
.
🖤🖤🖤 Happy reading 😘😘😘