
Masuk kedalam kamar bukan untuk tidur bagi Pandi dan Sandra, Pandi yang sudah tidak sabaran menagih janji pada istrinya.
Sebenarnya Sandra tidak janji tadi sore itu dia hanya bicara kecil, karena sudah terlalu sebal pada suaminya, Pandi yang begitu awas mata dan tajam telinga, jangakan bicara kecil kadang orang diam juga dia bisa membaca pikiran orang itu.
Sampai ke dalam kamar Pandi langsung memeluk istrinya, "Sayang, sudah siap kan?", mencium rambut istrinya.
Astagfirullohalazim, heran gue padahal tadi perasaan gue ngomongnya kecil banget tapi kedengeran aja huwhhh, batin Sandra, "Siap apa sih by", pura pura tidak paham.
"Jangan pura pura lupa sayang, gak bakal aku kasih ampun kamu ya", menggiring istrinya ke kasur.
"By jangan gini, tar dulu aku belum gosok gigi", menghindar dari serangan serigala buas.
"Kamu itu suka ada aja alasnnya sayang", tanpa A I U lagi Pandi langsung menyerang istrinya.
DAN TERJADILAH PERTEMPURAN ANTARA SUAMI ISTRI........
.
Sedangkan di ruangan tengah bu Mirah juga meninggalkan dua anak yang dari tadi hanya saling diam saja.
Seli sebenarnya sudah tidak betah di ruangan itu dan masih sebal sama Renaldi, semakin merasa sebal Ibunya malah ikutan pergi juga dari sana, andai kakak iparnya itu tak mengirim pesan padanya agar bicara lagi dan memperbaiki hubungan dengan kakak angkatnya itu.
Sudah hampir 20 menit mereka di ruang keluarga, hanya saling diam saja, "Dek", panggil Renaldi, berusaha membuka topik pembicaraan terlebih dahulu.
"Dek masih marah sama kakak?", tanya nya.
Marah Seli pada Renaldi bukan marah yang kaya gimana gimana, dia hanya merasa gedeg dan sebal yang masih belum selesai juga pada lelaki itu.
"Nggak, apasih kak gitu doang juga", masih bicara dengan lembut dan tenang, meski di dalam hatinya masih merasa sangat malas.
__ADS_1
"Dek boleh kakak jujur ke kamu?", tanya Renaldi sambil mendekat pada Seli.
"Kenapa sih kak?, kakak mau bicara apa?", mau bilang ya bilang aja kali, batin Seli.
"Apa boleh kakak mencintaimu lebih dari sekedar kakak ke adiknya?".
"Maksudnya?", bingung Seli.
"Apa kamu punya hubungan yang serius dengan lelaki lain di luar sana?".
Seli menggeleng tanda tidak, bukan tidak sebenarnya Seli masih menunggu seseorang yang sudah berjanji padanya, bahwa akan membuktikan pada abangnya kalau dirinya pantas untuk bersama Seli.
"Dek kakak sayang sama kamu, tapi sayang ini bukan hanya sekedar sayang kakak pada adiknya, kamu ngerti kan maksud kakak".
Seli merasa sok dan bingung juga, "Maksud kakak apa kak?".
"Aku mencintai kamu lebih dari apapun, mencintai kamu bukan hanya sekedar kakak pada adiknya, aku mencintai kamu sama halnya seorang lelaki mencintai wanita pada umumnya", meraih tangan Seli.
"Aku gak ngaco sayang", ucap Renaldi.
Deg, membuat jantung Seli berdetak tak karuan, apa ini apa maksudnya kak Renaldi, batin Seli.
"Apasih kak ngaco deh".
"Aku gak ngaco dek".
"Kak aku jadi bingung deh kalau kaya gini", merasa bingung, hati tidak bisa di paksakan kan, aku gak bisa paksain hati aku kan, monolognya.
"Jangan bingung, apa di hati kamu tak ada sedikitpun rasa untuk aku", tanya Renaldi dengan muka murungnya.
__ADS_1
"Entah lah kak aku bingung, ini semua terasa aneh menurutku".
"Dek......... Renaldi menggantungkan ucapannya", tidak mau maksa tapi hatiku tidak ingin di tolak olehnya, Ya Allah, apa sesakit ini jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintai kita.
"Udah jangan di pikirkan ya, anggap saja aku tak bicara apa apa ke kamu tadi, maaf untuk yang tadi siang", Renaldi bangkit dari duduknya membawa kehampaan dan kesedihan hatinya.
Sudah dari semenjak Seli pindah ke jakarta Renaldi jatuh cinta pada pandangan pertama, pada sosok wanita kalem, senyum nya menyejukan wajahnya meneduhkan, menunggu hampir 2 tahun mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, hasilnya tak sesuai harapan.
"Ya Allah sesakit ini mencintai orang yang tidak mencintai kita, se pedih ini rasanya cinta di tolak", Renaldi menepuk dadanya yang terasa sesak, membantingkan tubuhnya ke kasur, berusaha untuk tidur, jangankan tidur merem saja malah semakin pikirannya kemana mana.
Menyambar jaket dan kunci mobilnya, ini sudah jam 11 lewat tapi pikirannya semakin kacau, Renaldi memilih keluar dari rumah, membawa dan membuang rasa sakit di hatinya.
Keluar dari kamar Renaldi mengambil air botol mineral dingin ke dapur, mendinginkan hati dan pikirannya, baru saja mau keluar dari dapur hatinya merasa tercubit melihat wanita yang dia cintai masuk juga ke dapur.
Seli juga sama tidak bisa tidur, hati Seli juga gamang bingung pusing, entah lah.
"Kak mau kemana?", tanya Seli.
Renaldi hanya melirik, bibirnya tak kuasa iya buka hatinya mencleos.
Seli merasa sedih, tidak bisa apa kalau soal cinta jujur saja tidak ada getaran di hatinya, tidak merasakan perasaan apa apa selain perasaan sayang seperti ke abangnya.
.
.
.
Hapyy reading🖤🖤🖤
__ADS_1
.