ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
103.


__ADS_3

Berbeda dengan yang sedang di rumah sakit tengah merasakan bahagia, dua manusia yang susah sekali akurnya sebab selalu saja beda jalan pikirannya, tengah sibuk cekcok, "Kak aku mau langsung ke rumah sakit pokoknya", kesal Seli sebab sudah dari tadi dirinya minta langsung di antarkan ke rumah sakit namun Renaldi malah membawanya jalan ke arah perusahaan.


"Ya nanti kita ke sana, aku selesaikan pekerjaanku dulu", enak aja kalian semua bahagia kumpul sedangkan aku sendirian kerja, batinnya, tak mau menderita sendiri apa apaan.


"Ayolah kak ngeselin banget sih, kan bisa habis antar aku ke sana kakak balik kerja", kalau bisa begitu kenapa ribet kan, pikir Seli.


Berbeda antara pikir Seli dan Renaldi, " Temenin kerja bentar doang dek, kamu gak kasian aku kerja sendirian sedangkan kalian bahagia kumpul di sana bersama baby baru", cih enak saja aku tak mau menderita sendiri menatap layar laptop, batinnya.


"Yaudah lah terserah, besok aku mau minta abang bawa motor atau mobil sendiri kakak suka ngeselin", ancam nya.


"Astagfirullohalazim sayang ayolah sehari ini saja kita gak ribut, janji besok besok gak akan bikin kamu sebel lagi deh, jangan bawa motor atau mobil sendiri ya, kan ada aku yang antar jemput kamu", mulai panik pikiran Renaldi.


"Kakak yang suka bikin masalah terus", Seli membuang mukanya, Renaldi adalah laki laki ter menyebalkan menurut Seli karena selalu mau di turut kehendaknya.


"Janji 2 jam gak lebih, setelah itu baru kita kesana", ucapnya negosiasi.


Ya iyalah mau gimana lagi toh sudah sampai kantor juga, Seli langsung turun tanpa menunggu laki laki menyebalkan itu lagi.


Cek, Renaldi berdecak kapan akurnya kalau begini terus, pikirnya.


Seli sampai ke ruangan Renaldi langsung duduk di sopa yang ada di sana, membuka buku mengerjakan tugasnya, lama lama malas juga debat terus tak ada ujungnya, dirinya selalu kalah karena mengalah.


Seli hampir tiga jam menunggu dengan bosan, kan Renaldi selalu melenceng dari janjinya, tugasnya tadi di kerjakan hanya 10 menit selebihnya Seli hanya duduk dan menatap layar ponselnya.


Renaldi lupa waktu karena pokus ke kerjaan, iya di kagetkan dengan suara Adzan Ashar, kali ini bukan Alhamdulillah yang pertama iya ucapkan tapi Astagfirulloh, dari jam setengah 1 sampai ke setengah 4 itu tandanya dirinya melenceng dari janji.


"Dek Shalat dulu yuk setelah itu kita langsung pergi ke sana", ucapnya sambil sedikit menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku sedang libur".


"Yaudah tunggu sebentar ya aku ke bawah dulu, apa mau langsung ke mobil nih kuncinya", memberikan kunci mobil, berusaha cari cara agar Seli tak ngambek padanya.

__ADS_1


Setelah Renaldi keluar Seli juga ikut keluar, dengan isengnya Seli membawa mobil Renaldi keluar dari gerbang perusahaan.


Setelah Shalat Renaldi masuk lagi ke ruangannya namun Seli tak ada di sana, "Sabar Ren sabar salah lu juga", monolognya, sambil terus berjalan ke parkiran, dan bertapa kagetnya melihat mobil tak ada di sana, parkiran yang selalu iya tempati kosong, mengedarkan pandangan lagi siapa tau dirinya salah naro, nihil tak ada di sana "Gila kalau benar dia ninggalin gue", Renaldi berjalan ke arah gerbang ke luar dengan gontai.


"Sore pak", ucap satpam.


"Hemmm", jawabnya, matanya pokus ke ponsel berusaha menghubungi Seli namun tak aktif, tlpon Pandi juga tidak di angkat, ingin sekali iya melempar ponsel tak bergunanya itu.


10 menit berdiri di pos satpam, tanpa bertanya juga ke satpam, bodoh emang.


"Bapak menunggu siapa?", akhirnya satpam mengeluarkan suara yang dari tadi menatap bingung ke arah tangan kanan bos itu.


"Kau tadi melihat Nona Seli membawa mobilku?", akhirnya kalimat pertanyaan itu keluar dari mulut Renaldi.


"Itu Nona Seli Pak", tunjuk satpam pada mobil di pinggir jalan.


"Astagfirullohalazim, kenapa lu gak bilang dari tadi, nama doang lu Bagus juga", kesalnya, padahal salah dirinya yang tak bertanya, orang lain mana tau dirinya mencari Seli.


.


Seli hanya melengos malas, tak ada obrolan selama perjalannan ke rumah sakit di antara mereka berdua, inilah akibatnya jika Renaldi tak menepati janjinya.


Sampai rumah sakit juga Seli langsung berjalan menuju ruangan yang kakak ipar dan ponakan nya tempati tanpa memperdulikan Renaldi.


.


"Assalamua'laikum", salamnya girang langsung masuk ke ruangan itu.


"Walaikum Salam", ucap serentak yang ada di sana.


"Sama siapa dek?, ko masih pake seragam sekolah", Pandi menyengit heran.

__ADS_1


"Sama gue", ucap Renaldi yang baru masuk ke ruangan itu.


"Kenapa adik gue gak lu anterin ke rumah dulu", Pandi menyorot Renaldi dengan mata tajamnya.


"Gue sibuk tadi selesaikan kerjaan lu dulu", aishhh tak ada terimakasihnya padahal dirinya yang meninggalkan pekerjaan, rutuknya dalam hati, ya hanya bisa dalam hati mana berani dia mengumpat Pandi dengan terang terangan.


Entah seperti apa nasibnya kalau saja ada apa apa dengannya Seli langsung mengadu pada Pandi, untungnya Seli tak seperti itu jadi dirinya aman aman saja.


"Macam macam gue kirim lu ke Afrika".


Baru mendengar dan membayangkan saja Renaldi menggeridik ngeri, mana bisa macam macam Seli dan dirinya saja jarang akur selalu cek cok sudah seperti sepasang suami istri yang sulit ekonomi.


"Aaaa cantik banget sih", tak henti hentinya Seli memandang sang ponakan.


"Iya dong kaya aunty", jawab Sandra.


"Namanya siapa kak?".


"Papa nya belum kasih nama dek", Sandra terkekeh.


"Aishhh abang gak asik", ucapnya.


Semua yang ada di sana menertawakan Seli, jadinya rumah sakit sudah seperti rumah mereka, semua ada di sana, sengaja Pandi menyewa ruangan vvip agar istri anak dan keluarganya leluasa.


.


.


.


Happy reading🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2