
Hari esok adalah hari yang sangat di nanti nanti oleh semua keluarga, dimana besok Pandi dan Sandra akan melangsungkan pernikahan.
Jantung Pandi berdebar debar ahh rasa gerogi dan deg degan ini jauh lebih dari pertamakali meeting pertemuan investor.
"Ya Allah kenapa deg degan banget ya", Pandi menertawakannya sendiri di kamar sambil terlentang menghadap langit langit, gak nyangka banget di umur baru masuk ke 25 gue sudah mau nikahin anak orang hahaaa, tanggung jawab gue sekarang bukan hanya ibu dan adik dari mulai besok tanggung jawabku bertambah, gak nyangka hidup sampai di titik ini juga.
Sedangkan di beda tempat dan beda rumah juga seorang wanita cantik senyum senyum sendiri di dalam kamarnya, Sandra juga tak kalah deg degan, "Huhhh besok udah jadi seorang istri aja hahaa, padahal dulu gue gak mau nikah muda takut banget jadi janda muda hehee, ya kalau jodohnya bang Pandi siapa yang mau nolak coba suamiku kan ehhhh ralat calon suami ku kan cakep pinter tajir baik lagi, semoga pilihanku dan pilihan Papa Mama ini yang terbaik Ya Allah", membayangkan bagaimana nanti jika sudah punya suami hari harinya akan seperti apa, salting sendiri membayangkan segala hal setelah menikah.
"Padahal gak ketemunya baru 2 hari yang lalu ko udah kangen banget ya, Pandi Nasution benar benar membuatku bucin akut, akhh mau tlpon gimana ponselku juga masih di sita mama, mau tidur tak bisa tidur padahal waktu sudah jam 11 malam, akhirnya Sandra memilih membenamkan kepalanga dibalik dua tumpukan bantal.
.
.
Pagi hari menyapa Pandi hanya tidur tiga jam, entahlah matanya sangat susah iya pejamkan.
__ADS_1
Mempersiapkan diri di bantu kak Lily, Seli juga Ibu, wanita wanita kesayangannya, di riuhkan oleh dua bocil yang tak berhenti main kejar kejaran di dalam kamar itu.
Melihat Pandi menggunakan tuxedo berwarna putih tulang, rasa haru dan bahagia seorang Ibu, "Duhh anak Ibu semakin cakep", puji Bu Mirah menepuk pelan pundak sang anak sulung nya.
Pandi tersenyum dan langsung memeluk ibunya, "Terimakasih Bu, Pandi menyayangi ibu", mencium pipi kiri dan kanan serta kening ibunya sangat lama.
"Duhh yang mau menjadi pengantin baru cakep banget", puji kak Lily.
"Terimakasih kakakku wanita kuat dan tangguh", Pandi tersenyum hangat pada wanita itu yang sudah iya anggap kakak nya sendiri.
Di luar dugaan ternyata wanita remaja itu dari tadi menahan tangis nya, setelah di tanya seperti itu air matanya langsung meleleh, "Abang", isak tangisnya mulai terdengar, takut yang Seli rasakan sekarang takut di tinggal oleh seorang kakak rasa takut dan khawatirnya tidak bisa iya jabarkan dengan kata kata, bahagia juga ada, bahagia karena kakaknya akan menikah menemukan pasangan hidup yang sama sama saling mencintai.
"Heii kenapa menangis sayang, make up nya luntur nanti hahaa", Pandi juga sebenarnya sedih namun berusaha iya tahan, hubungan antara adik kakak yang saling menyayangi pasti akan merasakan haru dan bahagi di kala salah satu dari mereka sudah menemui jalan hidupnya masing masing.
"Adek udah jangan nangis ya, abang kan gak ninggalin kita kemana mana, hanya saja bedanya nanti dia punya istri wajar jika waktunya akan kebagi bagi", kak Lily memberikan pengertian.
__ADS_1
Pandi memeluk sang adik dengan erat dan menghujani kecupan di kepala adiknya, mendongakan wajah ke atas menahan air mata agar tidak jatuh, bukan hal yang mudah kedua bersodara itu menjalani hidup yang penuh lika liku selama ini.
Tangis Seli reda dan mulai tersenyum setelah meluapkan air mata sesak di dadanya lumayan berkurang.
Bu Mirah melihat anaknya yang saling menyayangi tersenyum bahagia, bukan tidak sedih melepas anak sulungnya itu namun ya memang seperti inilah kehidupan tidak mungkin anak nya melajang terus terusan atas dasar ke egoisannya.
.
.
.
๐ค๐ค๐ค Happy reading ๐๐๐
Jangan lupa likeโบ Terimakasihhhhhhh๐๐๐๐๐๐
__ADS_1