
Pagi ini sangatlah mendung, Pandi menuju temapt kerja nya, hari ini dia terakhir bekerja di toko itu.
Setelah sampai toko Pandi membersihkan halaman sekeliling toko, sambil menunggu yang punya toko datang.
Sesekali mengedarkan pandangan, nanti aku bakalan kangen sama ni tempat, ucapnya lirih.
Tempat inilah yang sudah banyak membantunya, tempat inilah yang sudah menjadi saksi pejalannan hidupnya, lika liku hidup yang serba kekurangan.
"Pan sudah dateng, kirain ibu mau libur kamu ini".
"Iya buk, haha nggak bu untuk hari inimah", ucap Pandi.
"Ibu dengar kamu mendapatkan beasiswa di kota ya Pan?".
"Iya bu Alhamdulillah".
"Selamat ya Pan, kamu memang hebat, semoga kamu menjadi orang sukses, bisa mengangkat derajat kedua orang tuamu".
"Aamiin, ucap Prans, sambil memejamkan matanya".
Pembeli hari ini sangat rame, biasanya juga rame tapi ini lebih lebih rame, Pandi juga merasa sedikit lelah untuk hari ini, namun dia sangat bersyukur.
"Rame banget ya Pan hari ini", ucap pak Ahmad.
"Iya pak Alhamdulillah".
"Kamu makan dulu saja Pan, belum makan kan?".
__ADS_1
"Iya sampai lupa makan pak hahha" , tawa Pandi.
Pandi makan siang yang sudah sedikit terlewat waktunya. jam 2 siang baru makan, saking sibuknya.
"Bang Pandi, katanya besok mau berangat ke kota ya?", ucap salah satu pembeli setia di toko itu.
"Hahh, ohh iya niatnya sih gitu", ucap Pandi.
"Yahh bakalan kangen deh sama bang Pandi", Ratna menunduk sedih.
"Hustt kamu tuh, sekolah yang benar Rat, masih kecil juga bukannya mikirin pelajaran".
"Padahal aku sudah berharap lo bang kalau sudah dewasa nanti aku mau menjadi istri bang Pandi".
Bu Nani yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala, sebabnya Ratna sering sekali mengutarakan perasaan nya ke Pandi secara blak blakan.
Padahal Ratna baru saja kelas 3 SMP.
Ratna langsung melengos, setelah Pandi bicara begitu, Ratna sangat menyukai Pandi dari sejak kelas 1 SMP, sekolahnya juga bareng denga Seli.
Tepat jam 6 sore Pandi baru sampai ke rumahnya.
Dia tadi sudah pamitan sama pak Ahmad dan bu Nani bahwa ini hari terakhir kerjanya, bu Nani menangis merasa bakal kehilangan Pandi. namun tidak bisa apa apa, selain mendukung anak baik itu.
Setelah selesai mandi jan menjalankan kewajiba Pandi tertidur saking lelahnya.
Sebenarnya bukan hanya lelah karena bekerja, Pandi sangat lelah dengan segala pikirannya.
__ADS_1
Ke esokan harinya, jam 5 pagi Pandi sudah terbangun.
Berkumpul dengan keluarga di pagi hari adalah salah satu rutinitas keluarganya.
"Abang jadi berangkat hari ini?", tanya Seli.
"Iya dek, kamu sekolah yang benar ya, jangan bandel kasian Ibu dan Bapak, abang titip Ibu Bapak ya, kamu juga jaga diri baik baik", memeluk adik kesayangannya, sebelum Seli berangat sekolah.
Seli tidak bisa mengantar abangnya karena dia hari ini masih ada ulangan.
"Iya bang adek janji bakalan jagain ibu dan bapak, abang sehat sehat di sana ya, jangan lupa hubungi kita di sini".
"Iya adik abang yang paling cantik, tapi sayang sedikit kurang pinter, hahahaa tawa Pandi", sebenarnya dia mengalihkan pikirannya, tidak mau terlihat sedih.
Seli mengerucutkan bibirnya, sebal karena di bilang sedikit kurang pintar, meski dia akui sendiri dia tidak sepintar sang kakak, namun dia juga tidak bodoh bodoh amat.
"Seli berangkat sekolah dulu ya bang", pamit Seli.
"Iya hati hati dek, jangan kangen sama abang ya hehee, abang akan berangkat jam 10 nanti".
"Geer banget punya abang, ucap Seli", setelah mengucapak salam, Seli berjalan sambil menunduk, bohong kalau dia tidak sedih.
"Bu Pak Pandi siap siap dulu ya".
"Iya nak, apa ibu perlu bantu".
"Tidak bu barang yang akan aku bawa semuanya sudah beres aku masukan ke tas", Pandi masuk kamarnya, sebentar merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
Kamar ini, aku pasti akan kangen lirih Pandi.
🖤🖤🖤Setelah membaca jangan lupa like nya ya... Terimakasih🙏😊