
Perjalannan 30 menit akhirnya mereka samapai ke gedung 17 lantai bernuansa moderen dan unik, hotel yang jika di lihat dari atas akan seperti berbentuk hurup P di pandu dengan taman yang lumayan luas juga asri sangat bersih, Sandra merasa kagum dengan interior yang ada di sana di depan hotel itu juga ada Cafe Outdoor, di lihat di siang hari juga sangat bagus apalagi di malam hari jika semua lampu menyala ahh rasanya tidak sabar menunggu hotel itu benar benar di buka.
Masya Allah pantas saja Mama Selina kemarin terus terusan memuji anak angkat nya itu, nyatanya memang benar hasil karya dan kerja kerasnya Pandi patut di acungi jempol dan di banggakan, Sandra baru pertama kali kesini dan dia juga sudah jatuh cinta dengan tempat ini.
Puas mengelilingi gedung itu walawpun belum semuanya iya kelilingi, kakinya sudah sedikit pegal dia sampai lupa makan siang juga saking asiknya melihat bangunnan ini.
Kembali ke tempat tadi sebelum dia berkeliling nyatanya sudah tidak ada siapa siapa di sana sudah sepi, "Ihhh pada kemana sih ni orang, apa sudah pada makan ya, aku laper banget", keluhnya, lupa waktu dia bahkan ini sudah jam 3 sore.
Pandi hanya bisa memantau dari cctv tadi karena dia juga ada pekerjaan yang harus di selesaikan, niatnya mau fitting baju jam 1 ini sudah jam 3 sore bahkan makan siang juga belum.
Pandi langsung mendatanginya melihat Sandra sudah kembali ke tempat semula, "Sayang", panggil Pandi.
Sadra dengan cepat menoleh, "By pada kemana sih aku laper", sambil memberengut.
"Sudah pada pulang, kamu kesini katanya mau makan siang bareng malah asik muterin ni gedung, yang lain habis makan langsung pulang".
"Ya Allah aku sampai lupa waktu pantesan laper, kamu juga udah makan?", tanya nya.
Pandi menggeleng mana bisa dia makan sendiri meninggalkan Sandra, "Belum nungguin kamu", seraya tersenyum.
Sandra melihat jam yang ada di tangannya sampai kaget, "Ya Allah aku benar benar lupa waktu Maaf ya", merasa bersalah.
"Iya gak apa, yuk makan", Pandi langsung menggandeng Sandra masuk ke ruangannya yang tidak jauh dari sana.
Setelah itu mereka makan dengan lahap karena waktu makan siang benar benar sudah terlewat, bisa di bilang ini bukan makan siang tapi makan sore.
__ADS_1
Setelah makan Sandra membereskan sisa maknnan itu dan langsung mencuci piring, sekarang sudah terbiasa habis makan langsung cuci piring hanya masak yang belum banyak iya coba baru bisa beberapa menu itu juga rasanya kadang naik kadang turun tidak pernah pas.
"Kamu dapt ide dari mana desain gedung ini?", tanya Sandra kepo.
"Mengalir begitu saja tanpa banyak pikir lagi", ucap Pandi.
"Calon suamiku hebat banget kamu loh bisa secepat ini, dulu ngajak beli es cream juga bilangnya jangan banyak banyak uang kamu gak sebanyak Papa, tapi aku tau sekarang pasti uang kamu lebih banyak dari Papa", bangganya Sandra.
"Hahaa masih ingat aja kamu ini", Pandi menjawel hidung Sandra gemas.
"Dapet uang dari mana by jangan bilang kamu ngepet ya", sambil tergelak.
"Kurang asem kamu ya, mana ada aku ngepet pekerjaan macam apa itu", Pandi juga ikut tertawa.
"Ko belum lama udah bisa kebangun ini, jangan jangan kamu korup ya hahahaa".
"Emang Papa punya uang sebanyak itu gak mungkin", Sandra menggeleng.
"Ya Alhamdulillah semua orang yang aku ajak kerja sama langsung setuju dan mau mangkanya bisa kebangun ini dengan cepat", syukurnya Pandi.
"Emang kualitasnya gak di ragukan lagi sih, aku bangga banget sama kamu".
"Terimkasih", Pandi mencium kening wanita itu karena duduk di sebelahnya.
"Pengen cepet liat pas udah di buka pasi rame banget ya".
__ADS_1
Pandi tersenyum, "Bantu do'a ya supaya nanti rame pengunjung terus", mengusap pipi wanita itu lagi.
"Pasti dong, yuk kita belum cobain bajunya loh by aku tadi ke asikan muter sih, jangan bilang mereka juga sudah pulang".
"Aku sudah menggaji mereka dengan baik loh", Pandi langsung menlpon orang wo dan tak lama mereka datang ke ruangan itu.
Mencoba dua baju akad dan resepsi, baju yang sangat cocok untuk mereka kenakan benar benar sangat pas dan terlihat elegan.
Setelah itu para wo juga keluar lagi dari ruangan itu, mereka sudah was was takut tidak pas waktu sudah mendesak juga.
Keluar dari ruangan Pandi yang sangat dingin itu, para wo mengelus dada dan bernapas lega, sebab melihat muka Pandi yang datar sangat membuat mereka takut melakukan kesalahan.
Sandra mencubit pinggang lelaki itu dari tadi tangannya sudah gatal sebab melihat muka lempeng sang calon suami yang bicara dengan datar pada orang lain.
Memang selama ini Pandi jarang sekali berinteraksi dengan orang lain selain keluarga karyawan dan rekan bisnisnya.
Namun tetap saja para wanita di luaran sana yang melihat Pandi pasti langsung mengidolakannya, nama Pandi sekarang sudah mulai ber muncullan di layar kaca dengan berita sukses di umur masih muda meskipun dia dari desa. The real Anak Desa Sukses Di Kota.
.
.
.
Happy reading π€π€π€
__ADS_1
Jangan lupa like yaaaaaaπππππ
Teriamakasih buat yang masih setia membaca karangan Utor ini, love sekebonπ€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€πππ