
Meskipun sudah berbulan bulan Papa Pandi mencari Rafael tidak kunjung ada hasilnya, bahkan di berbagai pelosok negara yang Rafael kunjungi sebelum menghilang tetap tidak ada.
Kini berbalik bukan Rafael lagi yang berharap harap cemas, menunggu yang tidak pasti kapan datangnya.
Jika keluarga besar itu kumpul sekarang merasa jomplang ada yang kurang, di antara resah gelisah rindu yang semuanya rasakan Bu Mirah lah yang paling lebih dari khawatir.
Seperti saat ini semuanya kumpul, apalagi ada cucu pertama di dalam keluarga besar itu yang membuat mereka selalu menyempatkan waktu dalam sebulan 1 kali berkumpul, bocah berumur 7 bulan itu sangat aktif kesana kemari dengan segala ocehak khas bayi.
Fely menatap anaknya yang benar benar aktif, jarang menangis tidak pernah rewel bahkan dari masih dalam kandungan, itulah yang membuat Fely tidak susah gerak seperti biasa saja seperti masih gadis, menjalankan kuliah dengan santai meskipun sambil mengurus anaknya.
"Sayang ko melamun kenapa?", tanya Oma Selina.
"Nggak Oma hehee, senang aja liat dia aktif dan tidak rewel".
Mendengar bocah itu tidak rewel dan jarang menangis Mami Lily mengingat Rafael, ya sama percis seperti Rafael kecil dulu.
"Sayang sepertiya Dava sudah ngantuk dari tadi terus mengusap matanya", Mami Lily memberi tau Fely.
"Iya kayanya Mih tadi pagi dia bangunnya terlalu pagi".
Dengan cepat Fely memangku Dava lalu pamit pada semua orang yang ada di sana, "Semuanya Dava pamit bobo dulu ya", menirukan suara anak kecil.
Mama Sandra langsung membantu membenarkan gendongan Fely, "Haduhhh haduhh kesayangan Oma mau bobo ya sayang, uluhhh anak pintar ini, anak tampan dan baik ya nak, duhhh Oma gemas bangettt sama kamu Dav", tidak lupa mencium habis pipi gembul cucunya.
__ADS_1
"Duhhh Oma bisa bisa habis pipinya ini setiap hari di ciumin terus", ucap Fely.
"Habisnya gemas ya sayang, udah besar nanti gak bakal mau di cium lagi Fell hahahaa".
"Ayo sayang kita menghindar dulu dari serangan mendadak Oma", Fely terkekeh sambil melangkah menaiki tangga membawa anaknya ke dalam kamar.
Melihat Fely yang sudah naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya, "Gimana Pan ada titik terang?", tanya Mami Lily.
Sudah pasti mereka membahas Rafael jika berkumpul, "Belum ada kak", Papa Pandi juga memijit pelipisnya pening.
Jika sudah menyangkut Rafael yang sampai sekarang masih tidak ada kabar Nenek Mirah pasti drop, wanita tua itu sering menangis merindukan cucunya.
"Andai kalian mendengarkan apa kata Ibu dulu dan tenangkan diri kalian, jangan mengikuti napsu".
Ke 7 orang di sana mencelos, benar mungkin jika mendengarkan nasehat Nenek Mirah tidak akan seperti ini jadinya.
"Maafkan kami bu", Mami Lily menangis di dalam pelukan Nenek Mirah.
Fely kemarin sempat menghilang tapi masih mendengar kabar baik dan sedikit bercerita berbeda dengan Rafael sekarang yang benar benar menghilangkan jejak nya.
.
.
__ADS_1
Fely melamun sambil memberi asi pada anaknya, "Kak dia sudah besar, aktif dan tampan sama kaya kakak, semoga saja wataknya gak sama ya hahaa", tersenyum kecut.
Kak El pasti bahagia ya menemukan hidup baru dan penuh warna.
"Sayang sabar ya kalau Papi ingat sama kamu pasti akan pulang dan mencari kamu".
Maafkan ke egoisan Mami sayang, seharusnya Mami tidak perlu membalas apa yang sudah Papi perbuat selama ini, seharusnya Mami bisa menahan ego demi kebahagiaan kamu nak.
.
.
Sedangkan di sebrang sana yang baru saja memulai sarapan paginya langsung tersedak, ingatannya langsung pada sang anak yang menari nari terus di dalam benaknya.
"Papi sarapan sayang, di kamu sudah siang ya, jadi anak pintar ya jangan menyusahkan Ibumu, jangan menjadi anak durhaka seperti Papi".
Tiada hari tiada malam yang Rafael lewati, dirinya selalu bicara dan memberi pesan pada gambar yang ada di ponselnya.
.
.
..
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤