
Dari semalam tidak bisa tidur dengan nyaman bahkan setengah jam sekali terbangun melihat jam, Rafael menanti pagi segera tiba.
Dari jam 4 pagi sudah bangun dan langsung menghubungi Randa agar secepatnya mencarikan mobil untuknya.
Randa di buat kelabakan, kalau ada kan ngeselin pas tidak ada rindu dan juga membutuhkan, dengan kekuatan supernya Randa jam 6 pagi mobil baru sudah nongkrong di depan hotel yang dirinya tempati.
Datang pagi pagi Rafael hanya ingin mengantar Dava ke sekolahnya, sengaja menunggu di depan gerbang tidak berani masuk sebelum melihat Fely dan Dava keluar mau berangkat.
Setelah melihat dua orang yang dirinya tunggu dari tadi barulah Rafael keluar dari mobilnya.
"Selamat pagi sayang", sapa Rafael pada anaknya, sebenarnya termasuk menyapa emak nya juga.
"Papiiiiii, aku kira siapa", Dava langsung lari menghambur memeluk kaki Papi nya.
"Jangan lari Dav", ngeri sendiri melihat anaknya lari lari seperti tadi, takut jatoh takut terluka.
Memangku Dava dan minta ijin ke Fely, "Boleh saya mengantarnya ke sekolah?", mimik muka memohon.
"Terserah", ucap Fely ketus.
__ADS_1
Ya Allah, hati Rafael mencleos lagi, lagi lagi Fely susah dirinya ajak bicara meskipun 3 atau 4 kata.
"Saya tidak memaksa", menurunkan Dava dari pangkuannya, Rafael sadar dirinya bagai pendatang baru yang memaksakan kehendak ingin cepat dekat.
"Sayang sekolah yang pintar ya, kapan kapan kita main", memberikan senyuman hangat pada anak nya.
Mengalah daripada suasananya semakin rumit, pelan pelan dengan segala kesadaran, takut menyinggung ibu anaknya ini yang sudah sejak bayi merawat dan membesarkan sendirian, sadar se sadar sadarnya dirinya datang di waktu sang anak sudah besar, Rafael tidak tau sesulit dan secapek apa Fely merawat Dava sambil kerja, meskipun dulu sebelum pergi sudah menitipkan banyak uang tapi jasa ibu tidak bisa di beli dengan uang.
"Papi mau kemana?", tanya Dava.
"Papi mau ke rumah Oma Lily dulu setelah itu waktu Papi akan semuanya buat Dava kalau Dava membutuhkan".
"Oke Pih", Dava mengangguk langsung pamit dan melambaykan tangan .
"Ya", Fely melangkah ingin masuk ke dalam mobilnya.
"Hubungi saya jika kamu sedang sibuk atau sedang tidak bisa mengantar jemput Dava".
"Aku Ibunya dan aku lebih tau waktu untu anak, bisa membedakan juga membagi waktu untuk anak dan pekerjaan".
__ADS_1
Sebuah sentilan untuk Rafael, hanya bisa mengangguk dirinya salah bicara sepertinya sebab suara Fely lumayan tinggi, bodohnya aku malah salah bicara pada singa betina ini, monolognya.
Dava dan Fely pergi dengan mobilnya ke sekolah, Rafael masih menatap lurus pada mobil yang di tumpangi Fely dan Dava sampai tidak terlihat lagi dalam pandangnya.
Setelah benar benar tidak terlihat barulah Rafael menjalankan mobilnya langsung menuju bandara, kata memaafkan dari Mami Lily sungguh dirinya butuhkan sekarang.
Hukuman dari sang ibu sudah dirinya dapatkan dengan kesengsaraan hidup dan bayang bayang bersalahnya selama 5 tahun ini.
1 jam lebih perjalannan udara sudah dirinya tempuh, kota dimana dirinya di lahirkan dan di besarkan, kota beribu ribu kenangan yang manis dan menyakitkan.
Datang ke rumah barunya mami Lily dan Daddy Reja, hatinya bergemuruh hebat, merangkai kata kata untuk permintaan maaf pada sang Ibu dan ayah sambung.
Rumah baru Mami Lily dan Daddy Reja sekarang bersebelahan dengan kantor yang menjulang tinggi dan luas, sudah sukses dan kaya dari lahir di tambah punya suami juga kaya raya semaki plus plus perusahaan mereka.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading❤❤❤