
Rafael duduk di sisi sopa benar benar di paling ujung, menatap anaknya yang sangat heboh membuka koper yang dirinya bawa.
Semua isi koper itu di keluarkan, seiring mainnan apa dan baju apa, banyak segala macamnya Dava tanya satu persatu.
Semua orang di dunia ini tidak menganggap aku ada juga tidak masalah asal anakku mengakui kalau aku ayahnya.
Mama Sandra dan Papa Pandi meninggalkan Rafael dan Dava membiarkan ayah dan anak itu semakin akrab karena hari juga sudah sore.
Merasa sudah tidak ada orang lagi disana Rafael bangkit dari duduknya, "Dava suka?", tanya nya dengan suara sehalus mungkin.
"Suka Pih, ini yang paling Dav suka keren ya, Papi ko tau kalau Dav suka superhero ini".
"Karena Dav anak Papi", hati Rafael tidak kuat tangannya juga susah dirinya tahan tuntuk mendekap dan menggendong bocah yang ada di depannya ini.
Rindunya yang sudah sekian lama dia tahan kini rasanya terbayar setelah melihat Dava begitu antusias membuka semua barang pemberiannya.
"Papi gak pergi kerja jauh lagi kan?".
Satu pertanyaan yang membuatnya mematung, hatinya merasa di sayat pisau tajam.
"Dava maunya Papi kerja jauh lagi atau Papi kerja di sini saja?", sedikit bergetar bibirnya mengucapkan kata itu.
"Di sini aja, supaya Dav bisa bilang sama teman teman kalau Papi Dav sudah pulang kerjanya", polosnya jawaban jujur anak itu.
__ADS_1
Cih orang tua macam apa hambamu ini Ya Allah, "Papi boleh peluk lagi gak sayang", satu yang Rafael jaga harus bisa menahan diri agar sang anak tidak risih dekat dengannya.
Dava mengangguk langsung merentangkan tangannya, belum lama mereka berpelukan namun suara seorang wanita menguraikan pelukan rindu itu sampai terlepas.
"Davaaaa dimana?, mandi sudah magrib".
"Mih di sini sama Papi".
Jantungnya Rafael berdegub kencang mendengar langkah dan suara wanita yang sangar sangat di rindukannya.
"Ayo mandi dulu sudah malam", suara khas emak emak menyuruh anaknya mandi.
Dava melirik ke arah Papinya seolah bertanya, Rafael tersenyum haru melihat anaknya yang sepertinya tidak mau jauh juga darinya, "Mandi dulu ya nurut sama Mami, Papi mau pulang dulu besok kita ketemu lagi", melirik Fely sebentar, tapi Fely malah memalingkan wajahnya seolah menatapnya juga tidak sudi.
"Kenapa Papi pulang?, Mih memangnya Papi gak boleh bobo di sini?".
Fely tidak bisa menjawabnya hanya diam saja, Rafael memahami itu, "Papi gak bawa baju sayang, besok kita ketemu lagi ya, sana mandi jangan membuat Mami marah".
"Bayy Pih, janji ya besok ke sini lagi".
Rafael mengangguk dengan senyum penuh haru, menatap anak dan istrinya berjalan keluar dari ruang tamu, (salah ya mungkin bisa di bilang calon mantan istri), tersenyum kecut.
Seharusnya dirinya melihat pemandangan seperti ini setiap hari, tapi ya sudah lah mau bagaimanapun gelas yang sudah retak susah untuk di perbaiki.
__ADS_1
Di sana juga Rafael hanya numpang melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim setelah itu pamit sama Mama dan Papanya.
"Pah, Mah saya pamit ya, terimakasih sudah menpersilahkan saya masuk lagi ke rumah ini", menyalami orang tua itu.
"Makan dulu di sini El jangan langsung pulang", ucap Mama Sandra.
"Tidak Mah terimakasih, saya memakai mobil Randa takutnya dia menunggu saya terlalu lama".
"Yaudah hati hati nak".
Rafael mengangguk langsung keluar setelah pamit, sejujurnya berat baru juga bertemu dengan Dava sudah harus terpisah lagi.
Kuat El kuat tujuan lo sekarang hanya Dava anak lo sendiri, bayang bayang Fely terus muter di ingatannya, wanita itu terlihat sangat cantik dan berkarisma, tapi sayang seribu sayang hanya bisa mengaguminya dari jarak jauh.
.
.
.
.
Happy reading❤❤❤
__ADS_1