
Rafael awalnya malas karena di suruh menyusul Fely ke taman oleh Maminya, karena dirinya tidak bergeming akhirnya Daddy nya yang menyuruh, Rafael paling nurut jika di suruh Daddy nya.
Rafael rasa Fely tidak untuk dia jadikan istri dia sudah menganggap Fely adiknya sendiri.
"Berhentilah mengumpatiku", suara dinginnya mengagetkan Fely.
"Haisss ngapain kesini coba", ujar Fely dengan malas.
Kenapa Fely seolah tidak kenal dengan Rafael ya karena pas Rafael pergi Fely masih kecil belum tau apa apa.
Papa dan Mamany juga tidak pernah membahas Rafael di depannya, Fely hanya beberapa kali mendengar nama Rafael dari kak Misel dan mereka juga jarang ketemu.
"Geser", ucapnya, di taman itu ada bangku kecil hanya cukup untuk duduk berdua saja.
"Ganggu mulu ihh".
"Apa alasanmu tidak menolak perjodohan ini?", tanya Rafael.
"Gue mana bisa membantah ketentuan Papa Mama", ucap Fely menunduk.
"Cih gue gue lagi", peria itu paling risih mendengar elu gue, menurutnya itu bahasa yang sangat kasar. "jangan menangis jangan menjual kesedihan di depanku".
"Ya terus saya harus apa?, anda ini terlalu menyebalkan sekali", Fely mendorong Rafael agar lebih jauh darinya.
Rafael memijit pelipisnya, dirinya juga pening karena tidak bisa membantah Daddy dan Maminya.
__ADS_1
"Ck dasar nanusia dingin irit bicara", umpat Fely.
"Bicara apa kau bocah", geram Rafael.
"Seperti yang anda dengar", Fely memelototkan matanya pada laki laki yang bilang dirinya bocah.
"Tidak sopan sekali kau masih bocah juga", merasa tidak di hargai.
"Bicara lah kak sama Mami Lily jangan nikahkan kita", mohonya, air matanya sudah luruh dari tadi mengingat dirinya akan menikah besok, haisss sungguh membuat pikirannya buntu.
"Bicara sana, saya tidak bisa menentangnya", Rafael juga merasa prustasi.
"Pergilah sana jangan menggangguku", usir Fely, niat dirinya mencari ketenangan tapi malah semakin mumet karena kedatangan Rafael.
"Ck kau mengusirku".
Lama Rafael tak bergeming di sana meskipun dirinya di usir Fely, Rafael sadar ini bukan kesalahan Fely buktinya bocah ini juga sampai menangis sesegukan di sampingnya.
"Saya pergi berhentilah menangis, tangisanmu tidak akan bisa mengubah ketentuan orang tua kita", mengelus kepala Fely sekilas sebelum dirinya pergi dari sana.
.
.
Ke esokan harinya benar saja Fely bangun dari tidurnya, setlah cuci muka dirinya turun ke bawah, rumahnya sudah di sulap entah sejak kapan rumahnya penuh bunga dan pernak pernik lainnya.
__ADS_1
Fely tidak jadi turun dia lari lagi ke kamarnya, setelah masuk kamar dirinya mengunci pintu mengurung diri di kamar.
Memegang dadanya yang bergemuruh Astagfirullhalazim, mengelus dada lagi berkali kali, kenapa kejadian kemaren dan tadi malam itu bukan mimpi saja sih, batinnya.
Fely mondar mandir bolak balik terus di dalam maranya, gimana ini huwaaa apa iya benar kalau aku siang ini akan menikah.
Sampai jam 10 siang ada yang mengetuk pintunya, seorang pelayan membawa makannan dan dua mua yang akan meriasnya membawa 1 koper, seketika badan Fely lemas seolah tidak bertulang.
Ingin kabur tapi kabur kemana, menolak dan membantah juga itu rasanya tidak mungkin.
Fely hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang, dirinya duduk lemas di atas sopa menyandarkan punggungnya.
Acara akad akan di adakan jam 1 siang nanti, ucap sang mua tadi, jleb lagi lagi Fely hanya bisa pasrah.
Mama Papanya entah kemana tidak ada satupun yang datang kedalam kamarnya.
Dan kini sampai pada waktunya akad, Fely di apit oleh Mama dan Papanya turun ke bawah.
Di sana duduk bersampingan dengan laki laki yang tidak begitu Fely kenal, seketika terdengar kata SAH dengan serempak dari orang orang yang ada di sana.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading❤❤❤