ANAK DESA SUKSES DI KOTA

ANAK DESA SUKSES DI KOTA
41. Kejutan


__ADS_3

Papa Handra yang ikut di sebut seperti itu merasa bangga, senyumnya tidak luntur, apalagi Mama Selina yang semakin heboh.


"Bangga banget ya Mbak sama Pandi, dia dulu di kasih makan apa sih mbak, kok bisa pinter banget", kekeh Mama Selina, bertanya sama Bu Mirah.


Bu Mirah terkekeh mendengar pertanyaan itu, "Ini juga berkat kalian yang sudah mendukung Pandi", dua wanita itu berpelukan.


Buket bunga dan dolar segede gaban Mama Selina berikan kepada Pandi, bahkan dia tidak bisa membawanya karena berat.


Setelah Pandi memeluk Ibu dan adiknya giliran dia memeluk Papa dan Mama nya lagi.


"Congrats anak jenius Mama, Mama bangga sama kamu", saking bangga dan harunya Mama Selina juga meneteskan air mata.


"Terimakasih Ma, Pa ini berkat kalian juga".


Papa Handra menepuk pundak pemuda itu dia sangat sangat merasa bangga.


Di akhiri dengan makan siang bersama, kebersamaan mereka hari ini dan untuk merayakan keberhasilan Pandi juga, jujur dalam hati terdalam Pandi masih merasa kurang.


.


Selesai makan siang bersama Pandi langsung menuju kantornya. Apalagi anak itu selain kerja dan terus kerja, sebenarnya dia hari ini kerja juga untuk menghilangkan ke gundahan hatinya.


Karena seminggu dia benar benar pokus pada kerjaan hari ini dia sedikit santai, hatinya nya saja yang sedang tidak santai.


Sampai kantor nya juga dia di sambut oleh semua karyawan nya untuk memberikan selamat, Pandi sedikit memberikan senyuman pada mereka semua, masuk ke dalam lift tetap saja hatinya itu masih merasa sedikit kosong.


Cek padahal lengkap sudah kebahagiaan gue hari ini, kenapa ni hati masih saja merasa ada yang kosong, sepertinya minggu ini gue harus ke makam Bapak dulu deh, gerutu Pandi.


Masuk ke dalam ruangan nya sangat gelap. Tumben banget gelap, pikir Pandi. Dia mencari saklar lampu.


Setelah lampu nyala, Pandi melihat sosok wanita cantik yang kini mulai terlihat dewasa, 2 tahun lebih tidak melihat wanita itu, kalau soal rindu ya rindu bahkan rindu itu sudah menggunung.


Halusinasi gue, bantah Pandi dalam hatinya. Pandi tetap saja berjalan dan duduk di kursi kerjanya tidak menghirawkan wanita cantik itu.

__ADS_1


Saking sebalnya Sandra membuka sepatu yang iya pakai dan melempar ke arah meja kerja Pandi. Apa apaan lelaki itu malah melewatinya begitu saja, dia sudah susah susah mengatur jadwal dari bulan lalu untuk bisa hadir di wisuda lelaki itu, sampe sini apa yang dia dapat malah ke acuhan.


Pandi yang merasa kaget melihat ke arah Sandra lalu tersenyum.


"Apa senyum senyum, mau kena ke kepala lemparannya", ucap Sandra dengan galak.


"Galak amat bu, sini", titah Pandi.


"Ogah buat apa jauh jauh balik ke sini juga, gak ada artinya".


"Heii ternyata 2 tahun lebih bisa mengubah orang menjadi galak ya", kekeh Pandi.


Bangkit dari duduknya mengambil sepatunya lalu iya pakai lagi berjalan menuju pintu, lebih baik pulang ke rumah daripada di sini membuat darah naik, batin Sandra.


Pandi pikir Sandra bangkit dari duduknya untuk memeluknya, ternyata salah, wanita itu malah mengambil sepatu dan niat pergi dari ruangan nya. Secepat kilat Pandi mengejar Sandra sebelum membuka pintu.


"Mau kemana lagi, belum puas berjauhannya?", tanya Pandi sambil memeluk erat wanita yang sangat iya rindukan selama ini.


"Kenapa jadi galak gini sih?".


"Siapa yang galak, buat apa nyamperin orang yang tidak bisa menghargai kehadirannya, lepas aku mau pulang".


Pandi malah menginci pintu, lalu membawa Sandra ke sopa. Memangku dan mendekap wanita yang masih terus memberontak.


"Heii berenti memberontak", ucap Pandi dengan dingin.


"Lepaskan pelukannya engap tau ini ke kencangan".


"Nggak akan, nanti ninggalin lagi", sambil terus menghujani kepala wanita itu dengan ciuman.


"Engap bang, kamu sengaja ya supaya aku mati sekalian".


"Iya ini di lepasin", pasrah Pandi.

__ADS_1


Setelah melepaskan pelukannya Pandi menghadapkan wajah Sandra ke arahnya, lumayan lama mereka saling tatap dua duanya mengisaratkan kerinduan yang begitu menggunung.


"Makin cantik", dua kata yang keluar dari mulut Pandi membuat pipi Sandra merona, yang awalnya mau marah kini dia mana bisa marah, memeluk Pandi lagi dengan erat.


"Kangen abang". Ucap Sandra di sela sela pelukan mereka yang begitu lama. Pandi yang tanpa bicara masih terus memeluk wanita itu.


Setelai mengurai pelukannya Pandi mencebik.


"Apasih ngeselin banget mukanya", gerutu Sandra.


"Kenapa jadi galak banget sih", ucap Pandi sambil terkekeh.


"Ngapain jebik jebik tuh bibir, mau di keplak pakai ni tangan".


"Hei dari tadi nge gas terus ngomongnya, katanya kangen", Pandi mengusap ngusap pipi Sandra .


"Yang di kangennin nya ngeselin terus".


"Iya Maaf deh, knapa pulang gak bilang bilang".


"Kejutan sih niatnya, tapi yagitulah ternyata yang di kejutinnya gak terkejut sama sekali malah mengacuhkan".


Pandi tertawa, akhhh nyatanya dari tadi perasaan gundah itu menantikan kehadiran pujaan hatinya.





Dah lah Utor gak mau lama lama bikin mereka terus berjauhan kasian soalnya heheee.


Happy reading 🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2